Posted in Fanfiction

Back In Time (Part 8)

​“Back In Time”

Part 8

*Start Reading

Pagi ini Song Yi sudah melihat sahabatnya Ara yang berkeliaran di kamarnya. Tadi pagi ketika Song Yi sampai di rumah, Yi Kyung menghubungi Lee Ara. Mengatakan pada Ara bahwa Song Yi ternyata baik-baik saja, tapi Ara tidak percaya jika dia tidak melihat keadaan Song Yi dengan kedua matanya sendiri.

“Kemarin malam kau menginap di mana, Han?” Tanya Ara yang ada di belakang Han Song Yi. Pagi ini Song Yi sibuk mempersiapkan kemeja yang akan di pakainya, mencari berkas-berkas penting yang akan di bawanya. Song Yi tengah sibuk berjalan mondar-mandir dari tadi di kamarnya, dan Ara dengan setia mengikuti Song Yi dari belakang gadis dingin itu.

“Di suatu tempat.”

“Kenapa kau tidak menghubungi kami?”

“Aku lupa menghubungi kalian. Dan aku kemarin sudah tertidur.”

“Lain kali lagi jangan lupa. Kau tidak tahu Kakak mu Han Yi Kyung sangat mencemaskanmu?”

“Ya aku bersalah, Ara. Maafkan aku.”

“Kau sudah dewasa. Kenapa aku dan kakakmu Han Yi Kyung mencemaskanmu?” Ara tampak kesal karena Song Yi menanggapi pembicaraan mereka dengan datar. Gadis itu menempatkan dirinya di pinggiran tempat tidur Han Song Yi, duduk manis di sana, sambil melihat rutinitas pagi Song Yi yang sibuk mempersiapkan untuk magangnya hari ini.

“Kau menginap di mana kemarin malam?” Tanya Ara sekali lagi. Song Yi berdiri di depan almarinya, sedang menutup salah satu pintu almari yang barusan dia buka.

“Di apartemen Jong Woon.”

“Apartemen Jong Woon?” Ara membulatkan matanya, sedikit terkejut dan mulai tertarik dengan percakapan mereka kali ini. Ara mulai berdiri menghampiri Song Yi yang masih berdiri di depan almarinya.

“Kemarin malam kau menginap di apartemen Jong Woon? Benarkah? kau tidak bercandakan?” Tanya Ara mulai penasaran. Song Yi berbalik menatap wajah Ara yang sedang mengajaknya berbicara. Gadis dingin itu memutar bola matanya kesal. Kalau sudah seperti ini, sifat ingin tahu Ara pasti muncul.

“Ya.” Jawab Song Yi singkat.

“Kau berdua dengan Jong Woon? Di sana?” 

“Ya, Ara.”

“Apa yang kalian lakukan berdua di sana?”

“Kami tidak melakukan apapun. Astaga, kami hanya tidur di apartemen itu karena hari sudah malam. Lagi pula kami tidur di kamar masing-masing, karena di sana terdapat dua kamar.”

“Yah.” Tampak ada raut wajah kecewa di mata Ara pagi ini. 

**********

Song Yi masih menunggu berkas yang akan di berikan Jong Woon padanya. Gadis dingin itu berdiri di depan meja Jong Woon, sementara Jong Woon sibuk menyisihkan berkas-berkas yang sedang di pilihnya.

Sesekali Jong Woon menatap Song Yi yang ada di depannya. Gadis itu seperti biasanya, memasang wajah dinginnya. Jong Woon sedikit salah tingkah ketika pandangannya berbalas dengan mata Song Yi.

‘Sepertinya aku perlu menjahilinya’ Ucap Jong Woon dalam hati. Kemarin malam Jong Woon belum mendapatkan tatapan kesal gadis dingin itu, hari ini dia harus mendapatkannya. Jong Woon tersenyum menyeringai di tengah lamunannya. Song Yi mengernyitkan keningnya tak mengerti arti maksud senyum Jong Woon barusan.

Jong Woon berdiri dari kursinya, menghampiri Han Song Yi. Memegang kedua pergelangan tangan Han Song Yi secara tiba-tiba dan mendorong tubuh gadis itu ke arah meja kerjanya.

“Hei.” Jong Woon melancarkan lagi aksi jahilnya. Pria itu membuat Song Yi duduk di meja kerjanya. Dan Jong Woon mengukung tubuh Song Yi.

“Berhenti melakukan hal konyol seperti ini, Jong Woon.”

“Aku melakukan hal konyol apa?”

“Seperti ini. Menyingkir dari hadapanku.”

“Ah, sepertinya aku ketahuan. Padahal itu belum apa-apa.” Ucap Jong Woon sedikit kecewa dengan situasi mereka. Padahal tadi Jong Woon ingin mengerjai gadis dingin itu seperti biasanya.

“Jong Woon.” Hong Seol membekap bibirnya saat melihat apa yang sedang Jong Woon dan Song Yi lakukan di dalam ruangan pria itu. Walaupun suara Seol sangat lirih, tapi masih dapat terdengar oleh Jong Woon dan Song Yi. Mata Jong Woon membulat sempurna ketika mendengar suara gadis lembut itu. Perlahan dengan kebekuannya Jong Woon membalikkan badan ke arah Hong Seol.

Terlihat mata Seol memerah. Gadis itu sedikit menggelengkan kepalanya kemudian berlari dari sana.

“Moe.” Jong Woon memanggil nama itu. Mengejar Seol yang tiba-tiba lari dari sana. Tadi Hong Seol bermaksud memberi kejutan pada Jong Woon. Biasanya Seol saat akan masuk ruangan Jong Woon memanggil nama pria itu, tapi hari ini tidak. Seol diam-diam membuka pintu ruangan Jong Woon. Gadis itu terkejut mendapati Jong Woon yang sedang mengukung  tubuh Han Song Yi. Hong Seol telah salah faham dengan apa yang sudah dilihatnya, walaupun memang Jong Woon sangat salah waktu saat menjahili Song Yi.

“Moe.” Jong Woon masih memanggil nama itu. Tangan Jong Woon mencoba menggapai tangan Seol. Saat Jong Woon semakin dekat dengan Seol, pria itu berhasil menghentikan langkah Seol dan membalikkan tubuh gadis itu untuk menatapnya

“Moe.” 

“Dengarkan penjelasanku.” Jong Woon menatap mata Hong Seol.

“Jelaskan apa lagi?” Tampak mata Seol berkaca-kaca, gadis itu tidak dapat membendung air matanya dan perlahan air mata itu turun ke arah pipinya. Dadanya terasa sesak melihat Jong Woon dengan Song Yi. Sudah lama Seol tahu situasi ini, tapi gadis itu mengabaikannya. Seol tahu ada yang berbeda saat Jong Woon memandang gadis itu.

“Kau ingin menjelaskan apa lagi Jong Woon? Lepaskan tanganmu dariku.” Seol berontak dengan genggaman Jong Woon. Gadis itu merasa terhianati oleh Jong Woon hari ini.

“Aku dan Han Song Yi,”

“Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu.” Seol memotong pembicaraan Jong Woon. Bersamaan itu pula genggaman tangan Jong Woon melonggar. Seol lepas dari genggamannnya, gadis itu lari lagi dari hadapan Jong Woon. 

Jong Woon tidak sanggup mengejar Seol lagi seperti tadi, jika gadis itu saja tidak ingin mendengar apa penjelasannya. Jong Woon masih membeku dari tempatnya.

“Kau bodoh, Jong Woon.” Ucap Jong Woon di tengah kebekuannya.

***********

Jong Woon kembali ke ruangannya dengan langkah lunglainya. Tampak wajah kecewa dan sedih di matanya. Han Song Yi ternyata masih di ruangannya, melipat tangan di depan dadanya.

“Aku sudah pernah mengatakannya kan. Jangan pernah bercanda seperti itu denganku. Kau tidak pernah mendengarkanku, Kim Sajangnim.”

“Dia tidak ingin mendengar penjelasanku, Han.” Ucap Jong Woon dengan tatapan kosongnya.

Song Yi dapat melihat ada tatapan yang berbeda dari pria itu. Jong Woon tampak seperti Kim Jong Woon di tahun yang terlewat di kepala Han Song Yi. Jong Woon yang tampak dingin.

“Besok aku harus menemui gadis itu lagi. Hari ini sepertinya, dia butuh menenangkan hatinya” ucap Jong Woon dengan tatapan kosongnya. Song Yi menatap lama wajah Jong Woon. Semenjak dia kembali di tahun ini Song Yi lama tidak melihat tatapan itu. Wajah dingin itu lagi.

Sepertinya memang benar apa firasat Song Yi, Jong Woon berubah karena gadis bernama Seol itu. Han Song Yi menatap ke arah lain, mengingat kejadian yang telah terjadi pada dirinya dan Jong Woon. Kedekatan dirinya dengan Jong Woon selama di sini tidak dapat merubah perasaan pria itu. Jong Woon masih sangat menyukai dan mencintai Hong Seol. Dan karena kehadirannya di sini membuat hubungan Jong Woon dan Seol menjadi kacau.

Bukankah dirinya harusnya tidak ada di sini? Bukankah waktu yang sudah terlewat dulu Han Song Yi tidak pernah dekat dengan Jong Woon? Song Yi merasa bersalah dengan semua ini. Gadis itu melihat sekelilingnya sekali lagi, dan meyakinkan hatinya sendiri. Dia ada disini pasti ada tujuannya. Dia bisa di tahun ini pasti ada maksudnya. Ya, dan itu….

‘Memperbaiki hubungan kalian berdua’ Ucap Song Yi dalam hati sambil menatap Jong Woon sekali lagi. Song Yi perlahan keluar dari ruangan Jong Woon. Meninggalkan pria itu sendirian dalam ruangannya.

**********

Pagi ini Jong Woon sudah menunggu Seol di depan pintu gerbang rumah gadis lembut itu. Kalau biasanya Jong Woon masuk dan menunggu di dalam rumah besar itu, tidak untuk kali ini. Jong Woon menyandarkan tubuhnya di mobil yang ia kendarai.

Mata tajam itu menemukan sosok yang ingin ia temui. Hong Seol keluar dari pintu gerbang itu. Gadis lembut itu melihat sekilas ke arah Jong Woon, dan kemudian mengabaikan pria itu. Jong Woon tidak tinggal diam. Ketika Hong Seol ingin pergi dari pandangannya, Jong Woon mengejar gadis itu.

“Dengarkan penjelasanku, Moe.”

“Aku tidak ingin mendengarkan apapun darimu, Jong Woon.” Ucap Hong Seol sambil terus melangkah.

“Moe. Kenapa kau menjadi gadis sekeras batu seperti ini? Dimana hati lembutmu?”

“Aku masih sama Jong Woon. Kau yang berubah, kau tahu? Dan kau tidak menyadarinya selama ini.” Seol berhenti dari langkahnya, dan berbalik untuk menatap Jong Woon.

“Aku berubah bagaimana? Aku masih sama Seol. Aku masih mencintaimu.”

“Tidak.” Seol menggeleng pelan. Air mata yang dari tadi ia tahan, turun perlahan dari sudut matanya.

“Kau tidak tahukan! Betapa aku sakit saat kau berdekatan dengan, Han Song Yi?”

“Kami hanya bersahabat, tidak lebih. Ku mohon maafkan aku Moe. Maafkan aku.”

“Kau seharusnya tidak melakukan hal itu, Jong Woon.” Air mata Seol masih mengalir. Jong Woon benar-benar tidak tahan melihat air mata yang keluar dari sudut mata gadis itu, terlebih lagi itu karena dirinya. Jong Woon ingin memeluk Seol, tapi tiba-tiba gadis itu memundurkan langkahnya. 

“Aku sakit Jong Woon, aku sakit melihat dirimu dengan Han Song Yi. Aku sesak setiap melihat kalian berdua. Dan kau …” Ucap Hong Seol tertahan karena tangisnya.

“Kau tidak mengerti perasaanku, Jong Woon.” Air mata itu masih mengalir dari sudut mata Hong Seol.

“Sebaiknya….. “Ucap Seol memejamkan matanya, berharap tidak akan ada air mata lagi yang keluar dari sudut matanya

“Kita akhiri, Kim Jong Woon.” Seol melanjutkan perkataannya. Gadis itu membuka kembali kelopak matanya. Seol dapat merasakan air mata masih mengalir dari sudut matanya. Perlahan Seol berbalik dari Jong Woon. Meninggalkan pria itu sendirian di sana.

“Moe.” Ucap Jong Woon bersamaan dengan air matanya yang keluar dari sudut mata Jong Woon. Pandangan Jong Woon sudah kosong. Pria itu tidak mempunyai tenaga atau keberanian untuk mengejar Hong Seol.

Seumur-umur setelah sekian lama ia mengenal Hong Seol dan menjalin hubungan dengan gadis itu, baru kali ini Jong Woon melihat tatapan kecewa itu pada mata Hong Seol. Lagi-lagi perasaan sesak itu muncul lagi. Kepala Jong Woon terasa pening mengingat kebodohannya selama ini. 

Han Song Yi sudah memperingatkan dirinya agar tidak melakukan hal-hal konyol, seperti menjahili gadis itu. Tapi Jong Woon mengabaikannya. Dan inilah terjadi padanya. Kepercayaan Seol lenyap begitu saja dalam semalam.

Jong Woon tidak tahu harus melakukan apa lagi, untuk menjelaskan semua kejadian ini. jika Seol saja tidak mau mendengarkan apa yang ingin ia katakan. Seol tidak akan sekecewa ini jika dia tidak melakukan kesalahan yang memang benar-benar fatal. 

**********

*1 Minggu kemudian

Sudah hampir satu minggu Jong Woon terlihat seperti ini. Tidak ada senyuman di wajah pria itu. Tidak ada acara jahil lagi seperti biasanya, tidak ada kebodohan dan kekonyolan yang biasa pria itu lakukan. Wajahnya selalu terlihat pucat dan lesu. 

Jong Woon hanya diam, dan sesekali memasang wajah dinginnya. Song Yi sudah terbiasa dengan wajah dingin itu, karena gadis itu sudah pernah hidup setahun dengan setiap hari melihat wajah dingin itu. Tapi tidak dengan semua karyawan di sini, sesekali mereka takut. Ada juga beberapa karyawan yang ragu memberi salam pada Jong Woon.

Jong Woon kacau dalam beberapa hari ini. Lebih banyak melamun, tidak fokus seperti biasanya.

“Kim Sajangnim.” 

“Kim Sajangnim.” Ucap Song Yi sekali lagi di depan Jong Woon. Jong Woon tersadar dari lamunannya. Melihat Song Yi yang ada di depannya.

“Kau tidak fokus, Kim Sajangnim.”

“Maaf.” Ucap Jong Woon lemah. Lagi-lagi Jong Woon teringat hari itu, ketika Seol memutuskannya.

“Dia bukan hanya tidak mau mendengarkanku, Han Song Yi. Dia memutuskanku.”

“Aku sudah pernah bilangkan, jangan pernah bercanda seperti itu lagi. Dan kau apa mendengarku?”

“Maaf, aku memang salah.” Ucap Jong Woon menatap Song Yi dengan wajah tak bersemangatnya.

“Tolong tanda tangani berkas ini, Kim Sajangnim.” Song Yi menunjuk berkas yang barusan gadis itu letakkan di meja Jong Woon.

Song Yi berbalik menuju pintu dari ruangan Jong Woon. Sebelum gadis itu benar-benar keluar dari ruangan Jong Woon, Song Yi menatap Jong Woon sekilas. Pria itu mengusap pelan air mata yang hampir jatuh ke arah pipinya. Jong Woon memang seperti itu, memendam sendiri rasa sakitnya.

***********

Song Yi berada di Universitas di mana Ara menjalani studinya, termasuk gadis itu Hong Seol. Sebelum Song Yi sampai di salah satu lorong di universitas ini gadis itu tadi bertanya kepada beberapa mahasiswa tentang keberadaan Seol. Kaki gadis dingin itu terus melangkah, hingga matanya menatap wajah gadis lembut itu. Hong Seol membalas tatapan Han Song Yi.

Angin sesekali berhembus mengenai rambut kedua gadis itu. Sudah sejak 5 menit yang lalu Song Yi dan Seol duduk di kursi panjang yang ada di taman Universitas ini. Song Yi menatap langit sejenak, menghirup dalam-dalam udara di sekitar sini. Cuaca hari ini sangat cerah menurut Song Yi.

“Ada apa kau mencariku?” Tanya Hong Seol memecahkan keheningan keduanya.

“Moe.” Seol sedikit terkejut mendengar panggilan itu dari Song Yi. Seol menatap sejenak wajah gadis yang duduk di sampingnya, sementara gadis dingin itu masih lurus menatap pemandangan yang ada di depannya.

“Itu panggilan khusus dari Jong Woon, bukan?” Tanya Song Yi masih menatap yang ada di depannya. Seol terdiam tidak menjawab apa yang Song Yi tanyakan padanya.

“Sebelumya aku akan meminta maaf, jika aku pernah meenyakiti hatimu. Walaupun aku tidak tahu dimana letak kesalahanku.” Ucap Song Yi kemudian.

“Aku tidak marah atau membencimu, Han Song Yi. Aku hanya kecewa dengan Kim Jong Woon.”

“Dengarkan penjelasan Pria itu, Seol.”

“Aku tidak bisa, Han Song Yi. Aku tidak bisa.” Ucap Seol bergetar. Gadis lembut itu menahan tangisan yang akan keluar dari bibirnya. Song Yi menoleh ke arah gadis lembut itu.

“Kalau kau tidak mau mendengarkan penjelasan Jong Woon, tolong dengarkan penjelasanku. Aku dan Jong Woon tidak ada hubungan apa-apa. Kau salah faham hari itu. Jong Woon sedang menjahiliku.”

“Menjahili? Aku bisa melihatnya, Han Song Yi. Ada yang berbeda dari pria itu saat memandangmu.”

“Bukankah kau gadis pemaaf. Dia hanya menjahiliku dan kau salah paham dengan situasi hari itu.”

“Aku memang pemaaf. Bagi mereka yang harusnya ku maafkan. Penghianatan, aku tidak bisa.”

“Pria itu tidak pernah menghianatimu. Kau tidak mempercayai Jong Woon? Dia mencintaimu melebihi dia mencintai dirinya sendiri Seol.”

“Kau tahu apa tentang Jong Woon? Han Song Yi?”

“Aku tahu dia, karena aku sahabatnya” 

‘Karena aku istrinya’ Batin Song Yi bersamaan dengan jawaban yang keluar dari bibirnya barusan.

“Aku tidak peduli kau percaya atau tidak dengan perkataanku. Yang jelas aku kemari sudah menjelaskan padamu apa yang terjadi hari itu. ” Song Yi bersiap pergi dari sana. Gadis dingin itu sudah menjelaskan apa yang terjadi pada hari itu, dia tidak ingin dianggap perusak hubungan Jong Woon dengan Seol, jadi Song Yi datang kemari. 

“Kau mencintai Jong Woon?” Tanya Seol sebelum Song Yi pergi dari sana. Membuat gadis dingin itu terhenti dari langkahnya, dan berbalik untuk menatap Hong Seol.

“Jong Woon hanya mencintaimu.”

“Apa kau mencintai Jong Woon, Han Song Yi?” Tanya Seol sekali lagi. Air mata berkumpul lagi di sudut mata Hong Seol.

“Jong Woon hanya mencintaimu, Hong Seol.” Jawab Song Yi seperti tadi.

“Aku bukan bertanya tentang perasaan Jong Woon, aku bertanya tentang perasaanmu.” Keduanya saling menatap kembali. Mata lembut Hong Seol berbalas dengan mata dingin Han Song Yi. Song Yi terdiam sesaat mendengar pertanyaan itu lagi.

“Satu yang harus kau tahu dari semua ini Seol. Jong Woon hanya mencintaimu. Tidak ada yang lain di hatinya kecuali Hong Seol. Aku berjanji padamu. Aku akan membuatmu berakhir menikah dengan Kim Jong Woon. Ingat janjiku ini.” Ucap Song Yi sambil melesat pergi dari sana. Bersamaan itu pula air mata Hong Seol jatuh mengalir ke arah pipinya. Sejak tadi Seol memang merasa sesak sejak keduanya bertemu.

Selama seminggu ini Seol juga merasakan apa yang Jong Woon rasakan. Merindukan pria itu setiap hari. Tapi mengingat kejadian itu Seol tidak dapat mencegah air matanya. Seol merasa terhianati. Seol sepertinya lupa bahwa Jong Woon adalah pria yang jujur. Harusanya dia ingat bagaimana sifat pria itu, bukannya mengikuti fikiran negativnya yang menganggap Jong Woon menghianatinya dan marah pada Jong Woon. Benar, rasa cemburu Seol lebih besar dari pada akal sehatnya hari itu.

***********

Song Yi melihat Jong Woon yang tampak lesu sedang duduk melamun di kursi yang ada di lorong lantai 3 perusahaan Shappire Group. Gadis itu perlahan melangkah ke arah pria itu. Song Yi duduk di samping Jong Woon, dan Jong Woon masih belum menyadari kehadiran Song Yi di sana. Perlahan Song Yi memberikan salah satu minuman kaleng yang di belinya barusan. Merasakan sesuatu yang dingin di tangannya Jong Woon tersadar dari lamunannya. Menatap minuman itu, kemudian beralih ke arah Song Yi yang duduk di sampingnya.

“Duniamu seperti berakhir beberapa hari ini.” Ucap Song Yi memulai pembicaraan mereka.

“Aku merindukannnya, Han. Ada yang kosong rasanya jika tidak ada gadis itu.” Jong Woon tampak masih menatap kosong yang ada di depannya, begitu pula Han Song Yi. Gadis itu menatap lurus yang ada di depannya.

Tampak ada kesedihan di mata Jong Woon. Wajah muram itu masih mendominasi di sana.

“Aku sudah berbicara dengan Seol, tadi.” Jong Woon tampak membulatkan matanya, pria itu perlahan menoleh ke arah Song Yi yang berada di sampingnya.

“Kau berbicara dengan Moe?” Tanya Jong Woon tak percaya.

“Aku sudah menjelaskannya. Kurasa dia sedikit mendengarku hari ini.”

“Terima kasih, Han Song Yi. Maaf aku melibatkanmu dalam hal ini.” Jong Woon tampak sedikit bersemangat.

“Aku tidak ingin di cap sebagai orang ketiga hubungan kalian. Kenapa kalian tidak segera menikah saja jika saling mencintai?” 

“Aku bermaksud melamarnya saat hari jadi kedua tahun kami.”

“Aku sudah berbicara dengan Seol, jadi sekarang giliranmu berbicara dengan gadis itu. Aku yakin dia akan mendengarmu kali ini.”

“Aku akan menemuinya malam ini.”

“Aku merasa kalian berdua pasangan yang sangat serasi. Akan lebih baik jika kalian menikah dengan segera. Kenapa harus menunggu hari jadi kedua kalian? Bukankah dengan kalian menikah, Seol akan lebih percaya bahwa kau memang sangat mencintainya.” Ucap Song Yi sambil berdiri dari kursinya, dan meninggalkan Jong Woon sendiri di sana.

Jong Woon menatap minuman kaleng yang baru saja Song Yi berikan padanya, sambil sedikit mencerna apa yang Song Yi katakan padanya barusan. Sepertinya Jong Woon harus memikirkan baik-baik usulan Song Yi.

*************

Jong Woon dan Seol ada di sini. Di salah satu kursi taman yang berada dekat dengan Universitas Seol. Tempat ini saksi Jong Woon menyatakan perasaannya dengan Seol. Gadis itu masih diam di tempatnya, begitu pula dengan Jong Woon yang sulit memulai pembicaraan keduanya.

“Maafkan aku.” Ucap Jong Woon memecahkan keheningan keduanya.

“Aku sudah mendengar dari Han Song Yi. maaf kan aku juga Jong Woon, aku terlalu cemburu saat itu.”

“Tidak, Moe. Aku yang salah. Aku yang harusnya bisa menjaga perilaku ku. Dan menjaga kepercayaanmu.” Pandangan mata Jong Woon berbalas dengan pandangan mata Hong Seol. perlahan Jong Woon memeluk gadis itu. Hong Seol membalas pelukan Jong Woon juga.

Seol tidak dapat membohongi dirinya sendiri. Dia merindukan pelukan pria ini. Pria yang dapat mengacaukan fikiran dan hatinya. Tubuh Hong Seol bergetar dalam pelukan Kim Jong Woon. Pria itu tahu Seol mulai menangis dalam pelukannya.

Jong Woon mulai melepaskan pelukan keduanya. Pria itu menunduk kali ini di depan Hong Seol. 

“Maafkan aku.” Ucap Jong Woon sekali lagi. Seol menatap tak percaya ke arah Jong Woon. Lagi-lagi pria ini meminta maaf padanya. Perlahan Seol menarik kedua tangan Jong Woon, membuat pria itu menatap wajah Jong Woon. 

“Aku memaafkanmu, Jong Woon. Aku memaafkanmu.” Bersamaan dengan jawaban yang keluar dari bibir Hong Seol ganti Jong Woon menggenggam tangan Hong Seol.

“Mari kita menikah, Moe.” Ucap Jong Woon lembut.

“Mari kita memulai hubungan  kita.” Ucap Jong Woon lagi, di sambut anggukan mantap dari kepala Hong Seol. 

Jong Woon tersenyum lebar, dengan cepat pria itu memeluk lagi tubuh Seol mengunggkapkan rasa bahagia yang ada di hatinya.

***********

Malam ini Jong Woon tidak sabar menghubungi gadis dingin itu, Han Song Yi. Memberi kabar baik pada gadis itu. Tadi Jong Woon dan Seol berkomitmen untuk segera menikah. Dan Jong Woon mengusulkan 2 hari dari sekarang. Memang mendadak, tapi Jong Woon yakin dengan keputusannya.

Sudah dari 15 menit yang lalu Jong Woon menghubungi Song Yi, tapi tidak di angkat sama sekali oleh gadis itu. Jong Woon ganti menghubungi Lee Ara. Mencari dengan cepat nomor kontak Ara yang ada di layar i-phonenya.

“Hai Jong Woon. Malam-malam kenapa memanggil?” Tanya Ara di seberang telefon sana.

“Aku dari tadi susah sekali menghubungi Han SongYi. Apakah Han Song Yi tengah sibuk sekarang?” Ara melihat sekilas ke arah Han Song Yi yang sudah tertidur di ranjangnya.

“Ah, gadis dingin itu. Dia sudah terlelap tidur di ranjangku. Hari ini Song Yi menginap di rumahku. Dan sepertinya i-phone Han Song Yi hari ini dalam mode silent.” Ara melihat sekilas i-phone Song Yi yang tak jauh dari sudut penglihatannya.

“Memang kau ingin memberi tahu apa? Kalau penting besok pagi aku beri tahukan Han Song Yi.”

“Aku akan menikah dengan Hong Seol lusa, Ara.” Tampak nada suara Jong Woon terdengar bahagia.

“Apa?” Tanya Ara terkejut.

“Aku akan menikah dengan Seol. Tolong sampaikan kabar baik ini untuk Han Song Yi.”

“Ah, selamat Jong Woon. Aku akan memberi tahu gadis itu.” Ara menutup panggilan Jong Woon, sambil sekilas menatap sendu ke arah Han Song Yi yang sedang terlelap tidur di ranjangnya. Ara tidak mungkin memberi tahu Han Song Yi berita mendadak ini sekarang. Gadis itu bisa-bisa tidak bisa tidur nyenyak malam ini. 

‘Kabar baik apa Jong Woon? Ini kabar buruk bagi Han Song Yi.’ Ara melangkah pelan ke arah ranjangnya, duduk di ranjang tepat Song Yi tertidur.

“Permintaanmu terjadi Han Song Yi. Pria itu akan menikahi gadisnya.” Ucap Ara nyaris berbisik, setitik air mata itu turun perlahan dari sudut mata Ara.

************

*Hari Pernikahan Jong Woon dan Seol

Jong Woon tampak mengedarkan pandangannya dari tadi. Mata tajam itu dari tadi mencari sosok gadis dingin yang di nantikannya. Jong Woon dan Seol sudah mengucapkan janji suci itu sejak satu jam yang lalu. Keduanya tampak tersenyum karena pernikahan mereka berjalan dengan lancar.

Sementara Jong Woon dari tadi tampak sedikit kecewa, karena Song Yi tidak datang dari awal pernikahannya. Atau gadis itu memang tidak akan datang kemari? Fikir Jong Woon. Jong Woon tampak berbicara dengan beberapa tamu di pernikahannya hari ini. Begitu pula dengan Seol yang tampak berbicara dengan teman-temannya juga. Jadi kedua pasangan pengantin baru itu kini tengah sibuk dengan tamunya masing-masing.

Jong Woon mengedarkan lagi pandangannya. Matanya menemukan seseorang yang ia cari dari tadi. Gadis dingin itu tampak di sudut ruangan pesta pernikahannya, menyantap beberapa makanan yang di sajikan dengan sahabatnya yang bernama Lee Ara. Jong Woon segera mendekat ke arah mereka.

“Permisi.” Ucap Jong Woon meminta ijin dengan rekan bisnis yang merupakan salah satu tamunya.

“Kau datang?” Jong Woon tersenyum melihat Song Yi yang tengah berdiri di depannya. Sementara gadis yang ada di depannya memasang wajah dingin seperti biasanya. 

“Ah iya, barusan kami sampai di sini Jong Woon. Maaf tadi kami tidak turut hadir saat pengucapan janji kalian.” Jawab Ara karena Song Yi hanya diam.

“Tidak apa-apa. Kalian hadir dalam acara istimewaku ini saja, aku sudah sangat senang sekali.”

“Ah, syukurlah.” Jawab Ara lagi.

“Selamat atas pernikahanmu.” Ara mengulurkan tangan ke arah Jong Woon, di sambut oleh tangan Jong Woon. Keduanya mulai melepas genggaman mereka, kemudian Jong Woon beralih menatap ke arah Han Song Yi.

“Han.”

“Eh,” Song Yi terkejut karena dengan tiba-tiba Jong Woon memeluk tubuhnya, di tengah keramaian di pernikahan pria itu. Tak jauh berbeda dengan Lee Ara yang membulatkan matanya. Pertanda terkejut juga atas kejadian itu.

“Terima kasih. Berkat penjelasanmu kepada Hong Seol, dia menikah denganku hari ini. Terima kasih sahabatku.” Song Yi masih terdiam tanpa membalas pelukan Jong Woon sama sekali. 

Sementara Lee Ara yang ada diantara keduanya diam-diam merasa sesak melihat semua ini. Beberapa kali Ara mengerjapkan matanya, menahan air mata yang ingin keluar dari sudut matanya. Lee Ara sedih dengan perasaan Song Yi yang tidak berbalas, dengan keadaan Song Yi yang melihat pria yang dicintai sahabatnya itu menikah dengan gadis lain. 

Apakah keputusannya membawa Han Song Yi dalam pernikahan ini salah? Tanya Ara dalam hati. Ara menggeleng ‘Tidak.’ Batinnya berbicara. Jika Han Song Yi tidak hadir dalam pernikahan ini malah akan terlihat aneh. Tapi melihat gadis dingin itu seperti ini? Membuat Ara merasa bersalah membawa Song Yi kemari.

Diamnya dan wajah dingin Han Song Yi kali ini menimbulkan tanda tanya di benak Ara. Gadis itu baik-baik saja? Berpura-pura baik-baik saja? Atau memang Song Yi sudah mengikhlaskan Jong Woon? Ara sangat mengenal Han Song Yi lebih dari siapapun. Ara selalu berfikir lebih baik melihat Han Song Yi yang marah, sedih atau menangis sekalipun. Melihat Han Song Yi yang masih diam dan memasang wajah dinginnya dari tadi membuat Ara merasa cemas.

‘Jangan bilang kau tidak baik-baik saja, Han Song Yi.’ Batin Ara dalam hati.

Tiba-tiba air mata yang Ara tahan jatuh begitu saja ke arah pipinya. Bersamaan itu pula, Jong Woon melepaskan pelukannya dari Song Yi. Menatap Ara sekilas, dan Jong Woon sedikit berfikir ‘Kenapa gadis ini menangis di pernikahannya.’

“Ara. Kenapa kau_”

“Aku hanya bahagia melihat pernikahan kalian.” Ucap Ara memotong pembicaraan Jong Woon, dan mengusap pelan air matanya sendiri. Gadis cerewet nan sensitive itu barusan berbohong terhadap Jong Woon. Gadis cerewet itu menangis karena Han Song Yi.

“Jong Woon.” Ara menyapa pria itu.

“Ya,”

“Ada banyak yang ingin aku ungkapkan kepadamu. Ada banyak yang ingin aku bicarakan dan katakan padamu. Hanya saja,” Ara menatap Song Yi sekilas yang berada di dekatnya. “Aku ada keperluan sangat penting. Jadi ijinkan aku pulang duluan dengan Han Song Yi, ya?” Ara mengatupkan kedua tangannya di depan Kim Jong Woon. Nada bicara Ara di buat manja seperti biasanya, berbeda dengan awal tadi yang terkesan serius.

“Ha ha ha, ku kira tadi kau ingin berbicara serius denganku Ara, ternyata. Baiklah, aku mengijinkan kalian.” Jong Woon berkata kepada Ara dan Song Yi.

“Aku akan ke mobil dulu, Han Song Yi. Aku tunggu kau di sana, berbicaralah dulu dengan Jong Woon sebentar.” Ara meninggalkan dua orang itu sendirian di sana.

“Selamat atas pernikahanmu, Jong Woon.” Song Yi masih memasang wajah dinginnya sambil mengulurkan tangannya, di sambut dengan jabatan tangan Kim Jong Woon. Song Yi melihat senyum dan pancaran mata bahagia itu lagi dari mata Jong Woon. 

 “Maaf, aku harus pergi. Ara pasti menungguku.” Ucap Song Yi berpamitan kepada Kim Jong Woon. Song Yi berjalan pelan ke arah pintu utama, dan sebelum dia benar-benar keluar dari pesta itu Song Yi berbalik melihat Jong Woon lagi. Menatap senyum pria itu dari kejauhan.

**********

Song Yi melangkah pelan ke arah kamarnya. Kakinya terasa berat, seolah ada jutaan besi ton di sana. Sebenarnya tubuhnya sudah melemas sejak di acara pernikahan Jong Woon dan Hong Seol  tadi, tapi gadis itu berpura-pura tidak apa-apa, berpura-pura tidak masalah. Toh memang inikan dari awal keinginannya, melihat Jong Woon tersenyum dari pada bersikap dingin setelah gadis lembut yang dicintainya itu pergi meninggalkan pria itu.

“Sialan, aku kenapa.” Mata Song Yi mulai terlihat memerah, dadanya terasa sesak, sesekali Song Yi memukul kecil bagian dadanya sendiri.

“Kau baik-baik saja Han Song Yi. Apa yang terjadi pada dirimu ha?” Tanpa dapat Song Yi cegah air mata itu turun ke arah pipinya. Rasa sesak yang ada di dadanya semakin menjadi-jadi ketika mengingat senyum Jong Woon melintas di kepalanya.

‘Bukankah itu yang kau inginkan, Han Song Yi?’ Tanya Song Yi dalam hati sambil meremas gaun di sisi dadanya. Untuk sesaat mungkin Song Yi menyesal telah berjanji menyatukan keduanya. Untuk sesaat Song Yi merasa egois juga ingin memiliki Jong Woon. Untuk sesaat sebuah pertanyaan itu melintas di kelapa Song Yi ‘Kenapa dia tidak mencoba menyatakannya pada Jong Woon? Kenapa dia tidak mencoba merebut Jong Woon dari Seol? Kenapa dia berfikir bodoh untuk membuat Jong Woon bahagia?’ Song Yi menggeleng pelan. 

Tindakannya hari ini benar. Janjinya yang terpenuhi kepada Jong Woon juga tidak salah. Jika Jong Woon bersamanya, pria itu tidak akan bahagia. Kebahagiaan Jong Woon hanya ada pada Seol. 

“Hiks-hiks.” Suara tangis Song Yi sendiri di dalam kamarnya.

Yi Kyung dari tadi sudah bermaksud ingin mengetuk pintu kamar Song Yi setelah melihat adiknya itu masuk ke dalam kamarnya sendiri. Mendengar suara isakan Song Yi yang terdengar dari luar kamar gadis dingin itu, membuat Yi Kyung mengurungkan niatnya.

Yi Kyung tidak pernah melihat Song Yi menangis di depannya, sekalipun gadis dingin itu merasa sakit. Yi Kyung tidak pernah melihat tetesan air mata yang turun ke arah pipi adiknya itu. Mendengar suara isakan Song Yi setelah sekian lama tidak menangis membuat Yi Kyung merasakan apa yang sedang Song Yi rasakan hari ini.

Adiknya telah patah hati kali ini. Untuk pertama kalinya Han Song Yi jatuh cinta, untuk pertama kalinya juga Song Yi harus merelakan seseorang yang dia cintai itu. 

Pengen TBC atau END di sini? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s