Posted in Fanfiction

Back In Time (Part 7)

​“Back In Time”

Part 7

Pg17

*Start Reading

Song Yi sedang memakai headset di telinganya, di iringi lagu yang keluar dari i-phonennya itu. Song Yi menopang kepalanya dengan sebelah tangan kirinya. Matanya dari tadi tidak henti-hentinya menatap pemandangan malam dari bus yang ia tumpangi malam ini.

Bulir-bulir air hujan terlihat jatuh di jendela bus dekat dia duduk i, lampu-lampu terlihat berwarna di malam yang mendung ini. Pada akhirnya Han Song Yi memilih naik bus dari pada menjadi bahan rebutan dua pria itu, Kim Jong Woon dan Choi Siwon. Melihat mereka tadi yang tidak bisa mengalah satu sama lain, mengingatkan Song Yi pada dua anak kecil. Lagi pula Song Yi lebih menyukai hal ini. Sudah lama juga Song Yi tidak naik bus seperti ini semenjak dia diperbolehkan menyetir mobilnya sendiri.

Song Yi tidak mengerti mengapa Jong Woon bersikeras untuk mengantarnya, bukankah pria itu ada janji dengan Hong Seol? Entahlah Song Yi juga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Jong Woon. Atau mungkin pria itu tadi lupa sesaat janjinya dengan Seol.

Song Yi menyandarkan tubuhnya pada kursi yang dia duduki, menambah volume lagu yang keluar dari i-phonennya, dan memejamkan matanya untuk sejenak. Menikmati perjalanan singkatnya naik bus hari ini.

Mengingat akhir-akhir ini Song Yi lebih dekat dengan Jong Woon. Membuat gadis dingin itu semakin sesak. Untuk sesaat tadi sempat terlintas sebuah fikiran di kepala Han Song Yi. Ya, rasa ingin dekat dan terus bersama Jong Woon membuatnya egois seperti ini. Sesaat tadi Song Yi sempat berfikir juga untuk memiliki Jong Woon. Tapi mana mungkin Song Yi merebut Jong Woon dari Seol, dan yang lebih penting dari semua ini. Apa Jong Woon juga mencintainya? Mustahil. 

Bahkan ketika Seol pergi meninggalkan Jong Woon gadis itu tidak pernah tergantikan di hati Jong Woon. Mungkin Song Yi menyukai sifat Jong Woon yang sekarang ini, seperti seseorang yang bebas, tidak dingin seperti di ingatan Han Song Yi. Sifat ini bertahan karena ada Seol. Ya, karena ada gadis itu.

“Apa yang kau fikirkan, Han Song Yi. Berhenti mengiginkan pria itu.” Ucap Song Yi nyaris berbisik dari tempatnya.

‘Aku akan pergi dari keduanya setelah mereka menikah. Aku akan menjauh dari keduanya setelah mereka bersama. Jadi kumohon, ijinkan aku merasakan kebahagiaan sesaat ini.’ Ucap Song Yi dalam hati.

**********

Hanya ada beberapa pengunjung di restoran sederhana itu. Jam di salah satu dinding sana menunjukkan pukul 12 siang. Waktu bagi para karyawan untuk makan siang, termasuk dua orang ini, Jong Woon dan Song Yi. Jong Woon tadi memaksa Song Yi untuk ikut makan siang dengannya.

“Ini salah satu restoran favoritku saat makan siang, seperti ini.” Jong Woon menunjukkan senyum khas dengan deretan gigi putihnya. Sementara gadis dingin di depannya seperti enggan dengan semua ini. Wajah datar tampak pada gadis itu.

“Boleh aku bertanya sesuatu padamu?” Tanya Song Yi dengan wajah seriusnya.

“Silahkan, Nona Han. Kau boleh bertanya apapun padaku.” Jong Woon menanggapi dengan senyuman khasnya lagi. Mata Song Yi masih memandang wajah Jong Woon yang ada di depannya,  tampak ada sedikit keraguan merasuki diri Song Yi.

“Kemarin malam. Kenapa kau menahanku?” Tanya Song Yi pada akhirnya. Jong Woon masih terdiam, tidak mampu menjawab pertanyaan Han Song Yi. Atau lebih tepatnya dia juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya kemarin saat melihat Siwon ingin mengantar Song Yi.

“Apa kau khawatir padaku?” Song Yi bertanya lagi kepada Jong Woon.

“Entahlah.” Jawab Jong Woon.

“Aku mohon hentikan khawatirmu padaku Jong Woon. Aku tidak ingin ada yang salah faham karena rasa khawatirmu ini kepadaku ini.” Song Yi menatap dalam-dalam mata Jong Woon. Sementara pria lawan bicaranya itu tahu, siapa yang di maksud Song Yi dalam percakapan mereka.

Terkadang Song Yi tidak mengerti apa yang sedang difikirkan pria di depannya ini. Mungkin Song Yi menyukai perhatian Jong Woon terhadap dirinya sebagai sahabat. Tapi jujur saja Song Yi membenci sikap Jong Woon yang seperti ini. Kedekatan mereka selama beberapa bulan ini membuat Song Yi tahu bahwa dia memang benar-benar telah jatuh cinta pada  Jong Woon. 

**********

Jam sudah menunjukkan jam 9 malam. Semua karyawan sudah pulang, tapi tidak dengan Jong Woon dan Song Yi yang masih sibuk dengan tugas-tugas mereka. Kedua orang itu memiliki komitmen yang sama dalam hal pekerjaan dan tugas. Harus segera di seleseikan, tidak boleh di tunda.

Song Yi mengetuk pelan pintu ruangan Jong Woon. Gadis dingin itu perlu tanda tangan Jong Woon di salah satu berkas yang sedang Song Yi kerjakan.

“Masuk!” Terdengar suara Jong Woon dari dalam ruangan. Song Yi membuka pelan pintu ruangan itu. Suasana siang dan malam hari di ruangan itu sungguh berbeda. Biasanya melalui kaca yang besar itu sinar matahari masuk dalam ruangan ini. Di malam hari seperti ini ruangan itu terlihat tidak begitu terang, walaupun beberapa lampu sudah dinyalakan di sana.

Song Yi masuk perlahan ke arah meja. Gadis itu melihat Jong Woon yang masih serius dengan berkas-berkasnya. Penampilan pria itu malam ini sudah tidak seperti tadi pagi yang terlihat rapi. Bahkan dasi pria itu sudah tidak terlihat sebagai mana mestinya karena Jong Woon sesekali menggeser sendiri dasinya.

“Kau belum pulang?” Tanya Jong Woon menyadari ternyata yang masuk ruangannya adalah Han Song Yi.

“Ada beberapa tugas yang mesti saya selesaikan, Kim sajangnim.” Song Yi menatap lekat wajah pria itu. Jong Woon hari ini lagi-lagi memakai kaca matanya. Sialan! Kaca mata itu membuat pria itu terlihat semakin mempesona sekarang.

“Tolong tanda tangani berkas ini, Kim Sajangnim. Saya permisi.” Song Yi berpamitan untuk keluar dari ruangan Jong Woon. Gadis dingin itu tidak ingin terus berlama-lama di ruangan Jong Woon sambil memandang wajah pria itu, bisa-bisa Song Yi makin gila dengan pesona makhluk satu ini. Song Yi berbalik, melangkah pelan ke arah pintu ruangan Jong Woon.

“Han Song Yi.” Panggil Jong Woon membuat gadis itu terhenti dari langkahnya. Jong Woon melepaskan kaca matanya, dan meletakkannya sebentar di atas meja kerjanya. Dengan cepat Jong Woon mensejajari langkah Song Yi yang masih terdiam di tempatnya.

Pria itu bermaksud menawarkan pada Song Yi untuk pulang bersamanya malam ini. Karena Jong Woon tahu rumah mereka searah. Jong Woon berjalan pelan ke arah gadis dingin itu. Semakin dekat dengan tubuh Han Song Yi, semakin aroma itu muncul di indera penciuman Jong Woon. Jong Woon seakan lumpuh dan lupa dengan apa yang ada di fikirkannya. Aroma tubuh Han Song Yi membuat kacau fikiran jong Woon untuk sesaat.

“Ada apa, Kim Sajangnim?” Tanya Song Yi tak mengerti. Bukannya menjawab Jong Woon justru mendekat tubuhnya ke arah Han Song Yi, mempersempit jarak diantara keduanya. Bahkan sekarang tidak ada jarak lagi seolah keduanya sedang berpelukan. Tanpa pria itu sadari Jong Woon menenggelamkan kepalanya ke arah leher gadis dingin itu. Menghirup dalam-dalam aroma anggur yang keluar dari tubuh Han Song Yi. Entahlah akhir-akhir ini Jong Woon menyukai aroma tubuh Song Yi

Aroma anggur yang keluar dari tubuh Song Yi lebih memabukkan menurut Jong Woon dari pada aroma tubuh Seol kekasihnya. Masih dengan tidak sadarnya lagi Jong Woon malah menempelkan bibir tipisnya di leher Song Yi, bukan hanya menempelkan bibirnya. Bahkan Jong Woon mulai mengecup pelan leher jenjang gadis dingin itu.

Perlakuan Jong Woon membuat Song Yi terkejut. Ada sensasi ketika bibir Jong Woon mengecup pelan lehernya. Song Yi tahu apa yang akan Jong Woon lakukan selanjutnya, maka dari itu  Song Yi dengan reflek mendorong tubuh Jong Woon agar menjauh darinya.

“Jong Woon.” Song Yi membulatkan matanya menatap Jong Woon yang membeku di tempatnya.

“Ah aku_” Bibir Jong Woon bahkan kelu sekedar untuk menjelaskan apa yang terjadi barusan. Karena jujur saja Jong Woon sebenarnya juga tidak tahu apa terjadi pada dirinya. Ini melebihi apa yang ia lakukan pada Hong Seol. Biasanya kalau bersama Moe, Jong Woon hanya menenggelamkan kepalanya di leher gadis itu, tapi bersama Song Yi barusan, Jong Woon bahkan mengecup leher itu. Jong Woon yakin jika Song Yi tidak mendorongnya barusan, tepat di leher gadis dingin itu pasti ada tanda merah di sana sekarang.

“Aku bisa gila.” Ucap Jong Woon frustasi sambil mengacak rambutnya sendiri. Jong Woon memandang lagi Han Song Yi. Tangan kanan Song Yi masih menyentuh leher kanannya sendiri yang jadi kecupan bibir tipis Jong Woon barusan. 

‘Aku ingin mengecup leher itu lagi dan melakukan lebih di sana’ Batin Jong Woon dalam hati. Bahkan di tengah kewarasannya Jong Woon masih berfikiran aneh-aneh terhadap leher Han Song Yi.

“Sialan. Aku bisa gila!” Ucap Jong Woon lebih frustasi dengan keadannya.

“Kau,” Ucap Song Yi menggantung.

“Aku,” Ucap Jong Woon yang juga tidak bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi dalam dirinya, sementara pandangan Song Yi lebih dingin dari pada biasanya. Song Yi memundurkan langkahnya perlahan dan kemudian berbalik, lalu berlari menjauhi Jong Woon.

Jong Woon sebenarnya ingin mengejar Han Song Yi, tapi jika itu terjadi apa yang harus dia jelaskan pada Song Yi. Jadi Jong Woon masih diam di tempatnya.

“Sialan! Apa yang kulakukan barusan?” Jong Woon mengacak rambutnya lagi secara frustasi di sana.

Sementara itu Song Yi masuk ke dalam toilet, dengan cepat gadis dingin itu membasuh wajahnya dengan air. Menatap sejenak kaca yang ada di depannya sambil menetralkan detak jantungnya yang terasa tidak karuan. Song Yi merasakan nafasnya yang sangat cepat. Tangan kanannya perlahan menyentuh lehernya sendiri yang jadi sasaran bibir Jong Woon. Baru kali ini Song Yi mendapatkan sebuah kecupan di sekitar lehernya itu. Ya, baru pertama kali inilah gadis itu merasakan hal barusan setelah lama dia hidup di dunia.

Jujur saja Song Yi memang tidak pernah memiliki kekasih karena sifatnya yang dingin itu. Siapa pria yang akan tertarik pada gadis dingin sepertinya? Mendekatinya pun mungkin mereka akan takut atau tidak tertarik dengan sifat Song Yi. Dan barusan? Untuk pertama kalinya Song Yi mendapat sensasi yang berbeda. Bahkan rasa itu masih dapat Song Yi rasakan sekarang. 

‘Apa maksud Jong Woon barusan?’ Tanya Song Yi dalam hati.

Mungkinkah pria itu lelah dengan pekerjaannya jadi untuk sesaat tadi Jong Woon berhalusinasi? Atau pria itu tadi menjahilinya seperti biasanya? Atau jangan-jangan Jong Woon memang waras melakukan hal barusan? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala Han Song Yi.

Kalau itu hanya acara jahil Jong Woon, bukankah itu melebihi batas? 

‘Sialan! Kenapa kau menjadi kacau seperti ini, Han Song Yi?’ Ucap Song Yi mengumpat dalam hati.

**********

“Han Song Yi? Hei!” Yi Kyung melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Han Song Yi.

“Ah, ada apa?” Song Yi tersadar dari lamunannya. Yi Kyung memposisikan untuk duduk di samping Han Song Yi.

“Penyakit melamunmu akhir-akhir ini semakin parah saja.”

“Apa yang membuatmu seperti ini? Kenapa akhir-akhir ini kau menjadi tidak fokus, Han Song Yi?”

“Aku baik-baik saja, Eonni.”

“Aku mengkhawatirkanmu, Han Song Yi.” Ucap Yi Kyung sambil mengusap pelan puncak kepala Han Song Yi, sementara Song Yi masih diam di tempatnya.

“Jangan pendam masalahmu sendiri, hem!” Bahkan nada bicara Yi Kyung seolah sedang berbicara dengan seorang anak kecil kepada Han Song Yi. Yi Kyung sangat menyayangi adiknya itu, sifat Song Yi memang sangat terbalik dengan dirinya. Kalau Yi Kyung gadis yang banyak berbicara maka Song Yi sebaliknya. Begitu pula dengan karakter mereka, bisa di bilang Yi Kyung mempunyai karakter yang ceria, suka menjahili orang lain termasuk Han Song Yi. Sementara Han Song Yi adalah gadis yang dingin.

“Kau tidak ingin melihat sesuatu di halaman rumah?” Tanya Yi Kyung penuh teka teki kepada Han Song Yi.

“Ada apa?” 

“Hujan kedua tahun ini.” Jawab Yi Kyung nyaris berbisik tapi masih dapat terdengar di telinga Han Song Yi. Mata Han Song Yi membulat mendengar kata satu itu, rona wajahnya berubah seolah hal yang sangat ia rindukan datang hari ini.

“Kau bisa melihatnya kalau tidak percaya.” Yi Kyung mengisyaratkan bola matanya ke arah pintu utama rumah mereka. Tanpa fikir panjang Song Yi langsung bangkit dari sofanya, dengan cepat gadis dingin itu membuka pintu rumah mereka. Kali ini gadis dingin itu harus percaya dengan ucapan Yi Kyung. Kakak perempuannya kali ini tidak menjahilinya atau berbohong tentang hal ini. Hari ini hujan kedua turun di depan rumahnya. Song Yi merasakan air hujan itu melalui telapak tangannya.

“Kalian harus sering menyapaku.” Ucap Song Yi sendiri di sana.

***********

Pagi ini Jong Woon sedikit kikuk saat berhadapan dengan Han Song Yi. Jujur saja Jong Woon tidak tahu bagaimana dia memulai percakapan atau menyapa Song Yi pagi ini. Libur satu hari di hari minggu kemarin Jong Woon tidak bisa berfikir tenang. Pria itu ingin menghubungi Song Yi, tapi dia tidak mampu menjelaskan apa yang terjadi. Di malam hari Jong Woon tidak bisa tidur nyenyak karena terus terfikirkan kejadian itu.

Bahkan tadi saat dia berpaspasan dengan Song Yi, Jong Woon hanya mampu diam tidak bisa mengatakan apapun.

“Aku bisa gila. Aish~” Jong Woon mengacak rambutnya sendiri seperti biasa, saat dia frustasi dia akan melakukan hal itu.

“Sajangnim.” Suara Song Yi terdengar dari pintu luar ruangan Jong Woon.

“Aish, Han Song Yi. Gadis itu” Jong Woon tampak panik dengan kehadiran Han Song Yi.

“Ma…masuk.” Ucap Jong Woon sedikit terbata-bata. Dengan cepat Jong Woon berpura-pura memasang wajah seriusnya saat sedang bekerja. Perlahan pria itu mendengar suara pintu di ruangannya terbuka. Jong Woon tidak sanggup melihat bagaimana wajah Han Song Yi, jadi pria itu memutuskan untuk tetap menatap berkas-berkas yang ada di tangannya. Walaupun Jong Woon sudah memasang wajahnya baik-baik saja, tapi tampak keringat dingin mulai keluar dari pori-pori pelipisnya. Jong Woon tidak dapat menyembunyikan rasa kegugupannya.

Song Yi meletakkan sekilas berkas yang harus di tanda tangani Jong Woon itu di meja pria itu. Gadis dingin itu melihat sekilas kondisi Jong Woon. Ada yang aneh hari ini dengan Jong Woon, fikir Song Yi hari itu.

“Maafkan aku.” Ucap Jong Woon sesaat sebelum Song Yi berbalik dan pergi dari ruangannya. Song Yi mengerti apa yang membuat pria itu terlihat aneh hari ini. Bahkan saat mengucapkan maaf pria itu tidak berani memandang wajah Han Song Yi.

“Lupakan!”

“Apa!” Jong Woon langsung memandang wajah Song Yi, karena terkejut dengan perkataan gadis dingin itu.

“Lupakan kejadian lusa itu. Anggap kejadian itu tidak pernah ada, karena aku juga menganggapnya seperti itu.” Jong Woon lega mendengar apa yang dikatakan Han Song Yi, kekhawatirannya hilang seketika ketika Song Yi menjelaskan kepadanya. Perlahan senyum khasnya mulai terlihat lagi di wajah Jong Woon.

“Baiklah kalau seperti itu, hah aku sudah frustasi memikirkannya.” Jong Woon mengeluarkan nafasnya secara perlahan, wajahnya mulai menampakkan semangat biasanya. Sementara Song Yi masih diam seperti biasanya. Sebenarnya gadis itu juga penasaran kenapa Jong Woon melakukan itu lusa malam itu. Tapi melihat Jong Woon yang tampak khawatir dan terlihat tidak seperti biasanya membuat Song Yi mengabaikan rasa penasaranya. Toh Song Yi juga tipe yang tidak peduli dengan apapun. Lagi pula Song Yi juga memang sudah menganggap hal itu tidak pernah terjadi, dari pada terus memenuhi fikiran di kepalanya. Song Yi mulai berbalik dari hadapan Jong Woon. Berjalan perlahan keluar dari ruangan itu. 

**********

*1 Minggu kemudian

Song Yi sudah berjalan keluar dari pintu Perusahaan Shappire Group, semenjak gadis itu tidak mengendarai mobil sendiri Song Yi terbiasa berjalan kaki ke arah halte yang ada di ujung jalan untuk menunggu bus yang akan lewat.

Song Yi menyadari jika dari tadi sejak dia keluar dari gedung besar itu, Song Yi rasa ada yang mengikutinya. Song Yi terhenti dari langkahnya, berbalik, matanya membulat ketika yang dia temui adalah Jong Woon yang sedang mengedarkan pandangannya untuk menghindari tatapan dari Han Song Yi.

“Apa yang kau lakukan, Kim Sajangnim?” Tanya Song Yi ke arah Jong Woon.

“Mencari Halte!” Jong Woon menjawab tanpa menatap Song Yi.

“Jangan bilang kau mengiku_”

“Aku tidak membawa mobil juga hari ini.” Ucap Jong Woon memotong pembicaraan Han Song Yi. Gadis dingin itu memutar bola matanya kesal, tak percaya dengan apa yang Jong Woon lakukan hari ini. Lagi-lagi pria itu bersikap aneh dengannya.

‘Terserah’ fikir Song Yi. Gadis dingin itu berbalik, mengabaikan Jong Woon dan berjalan lagi ke arah halte biasanya. Beberapa menit keduanya mulai berjalan lagi. Song Yi berjalan di ikuti Jong Woon yang berada tepat di belakangnya.

Keduanya tiba-tiba terhenti lagi. Song Yi menatap ke arah langit yang tiba-tiba menurunkan butir-butir air hujan itu. 

‘Sepertinya akan hujan.’ Batin Song Yi masih berdiri di sana. 

Tanpa Song Yi sadari Jong Woon yang ada di belakang gadis itu segera menyambar pergelangan tangan kanannya, membawa Song Yi berlari dari arah halte sana. Jong Woon bermaksud menghindari air hujan dengan membawa Song Yi berlari. Jong Woon dapat merasakan Song Yi tidak berontak dengan genggamannya kali ini. Dari kejauhan Jong Woon dapat melihat Halte itu ada di depan matanya, dan tak lama tibalah keduanya di halte untuk berteduh.

Jong Woon melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Han Song Yi, pria itu mencoba mengeringkan tubuhnya dari bulir bulir air gerimis yang mengenai tubuhnya, berbeda dengan Han Song Yi. Gadis dingin itu perlahan melangkah keluar dari Halte itu. Mengulurkan tangannya dan perlahan merasakan air hujan yang turun.

Jong Woon yang masih sibuk dengan kegiatannya, perlahan menyadari apa yang dilakukan Han Song Yi. Pria itu melihat Han Song Yi bukannya berteduh, malah keluar dari Halte dan merasakan hujan di sana.

“Gadis sialan. Aku susah payah membawanya berlari ke arah sini, malah dia hujan-hujanan. Hei, Han Song Yi. Apa yang kau lakukan?” Teriak Jong Woon ke arah Song Yi. Song Yi yang tidak mendengar suara Jong Woon malah merentangkan tangannya, sementara hujan turun semakin deras.

“Astaga, gadis itu!” Jong Woon bermaksud menerobos hujan dan menarik kembali gadis itu ke arah halte, tapi sebelum niatannya terlaksana Jong Woon membeku terlebih dulu di sana. Tidak ada yang salah dengan Jong Woon. Hanya saja pria itu sedang melihat Han Song Yi. Ya, Han Song Yi yang tengah menengadah ke arah langit, tersenyum kecil dan seolah senang sekali melihat air hujan yang turun itu.

“Gadis dingin itu tersenyum.” Ucap Jong Woon di tengah keterbekuannya.

“Han Song Yi tersenyum.” Ucap Jong Woon sekali lagi.

Ada yang berbeda dalam detakan Jong Woon melihat hal ini, detakan Jong Woon berpacu dua kali lipat dari pada biasanya. 

‘Apa yang terjadi padaku?’ Tanya Jong Woon dalam hati. Perlahan hujan mulai turun deras, Jong Woon tersadar dari kebekuannya.

“Hujan semakin deras. Ayo kita berteduh!”

“Aku menyukainya.” Ucap Song Yi masih menatap langit. Hujan kali ini membuat keduanya basah oleh air hujan. Jong Woon masih sempat melihat senyum kecil yang Song Yi perlihatkan itu, dengan kesadarannya Jong Woon menarik tangan Song Yi. Keduanya berlari di bawah guyuran hujan malam yang semakin deras sekali lagi.

“Kita kemana?” Tanya Song Yi yang tidak tahu kemana Jong Woon akan membawanya lari lagi kali ini.

“Ke suatu tempat.” Ucap Jong Woon masih menarik tangan Song Yi.

************

“Kita di?” Tanya Song Yi menggantung, sementara Jong Woon menyalakan saklar lampu yang ada di dekat pintu.

“Apartemenku.” Jawab Jong Woon singkat. Ruangan yang tadinya gelap itu, kini telah terang karena lampu yang barusan Jong Woon nyalakan.

“Ini apartemen yang ku beli di dekat perusahaan. Jika aku malas pulang karena kemalaman, aku kadang akan menginap di sini. Dengan keadaan kita yang basah, pulang akan memakan waktu lama. Bukankah lebih baik kita mandi dulu di sini? Dan mengeringkan baju kita masing-masing!” Jong Woon melihat kemejanya sendiri dan juga kemeja Song Yi yang basah akibat air hujan barusan. Bahkan lekuk tubuh Song Yi terlihat jelas di mata Jong Woon. 

Jong Woon mengalihkan pandangannya ke arah lain, sementara Song Yi tidak tahu apa sedang difikirkan pria yang ada di depannya.

“Kau bisa memakai kamar itu,” Jong Woon menunjukkan salah satu kamar yang ada di apartemennnya.

“Di kamar itu ada beberapa kemejaku, setelah mandi kau bisa memakai salah satunya.” Ucap Jong Woon lagi.

Song Yi hanya diam tidak membalas perkataan Jong Woon, gadis itu menurut kepada Jong Woon dan dengan santai masuk ke arah kamar yang Jong Woon tunjukkan barusan. Lagi-lagi detak jantung Jong Woon bekerja lebih cepat lagi dari pada biasanya. Dan sialnya tadi matanya hampir tidak ingin lepas dari lekuk tubuh Song Yi. Untung hari ini Jong Woon masih berfikir waras, jadi dia tadi memalingkan wajahnya, untuk menatap ke arah lain.

Jong Woon masih memegang kain kemeja yang ada di sisi dadanya. Merasakan detakan yang masih sama cepatnya di sana. Bersama Han Song Yi, Jong Woon merasakan ada yang lain dengan detakannya. Ya, sejak keduanya tidak sengaja bertemu di taman bermain itu, di beberapa hal dan keadaan detakan Jong Woon terasa berbeda, ada yang lebih cepat.

Beberapa pertanyaan muncul di kepala Jong Woon ‘Apakah dirinya tertarik dengan Han Song Yi melebihi yang dia fikirkan selama ini? Kenapa juga ada debaran saat bersama Han Song Yi? Dan itu rasa yang hampir sama saat dirinya bersama Seol. Lalu apa artinya semua ini? Apakah hatinya tergerak karena mata indah Han Song Yi?

Tidak! Jong Woon menepis semua pertanyaan yang muncul di kepalanya. Jong Woon meyakini hatinya masih milik Seol sepenuhnya. Jika dia ingin berdekatan dengan gadis dingin itu, karena Jong Woon ingin menjahili Song Yi, dan karena Song Yi adalah gadis yang unik di mata Jong Woon. Song Yi adalah sahabatnya, tidak lebih. Yakin Jong Woon di dalam hati.

*********

Jong Woon juga baru saja menyelesaikan acara mandinya di kamar sebelah. Kamar tak jauh dari kamar Han Song Yi mandi tadi. Gadis dingin itu juga baru keluar dari kamar. Jong Woon menatap Song Yi yang baru keluar, tampak gadis itu tengah memakai kemeja putihnya yang kebesaran, bahkan kain itu tidak mencapai di lutut Han Song Yi. Membuat Song Yi sedikit berbeda di mata pria itu. Jong Woon menelan perlahan air liurnya. Entahlah rasanya Jong Woon gugup sekarang ini.

“Ada yang bisa di makan atau di minum? Aku lapar.” Ucap Song Yi memecahkan lamunan Jong Woon.

“Ada persediaan susu coklat dan roti di lemari es.” Ucap Jong Woon sedikit kikuk. Song Yi melangkah ke arah dapur, di ikuti oleh Jong Woon yang ada di belakangnya.

Tak lama kemudian Song Yi membuat segelas susu coklat untuk dirinya, dan segelas kopi untuk Jong Woon. Song Yi fikir minum yang hangat bisa menghilangkan rasa dingin akibat hujan-hujanan barusan.

“Minumlah!” Song Yi menyodorkan kopi itu pada Jong Woon. Sementara Jong Woon masih gugup dengan keadaannya.

“Kenapa?” Tanya Song Yi yang berdiri di samping meja dapur. Dapur apartemen Jong Woon memang terlihat sederhana. Di sini tidak ada ruang makan, meja makan dan kursi makan menjadi satu di dapur ini. Tidak ada ruangan tersendiri untuk ruang makan di apartemen ini. Dan Jong Woon sedang duduk di salah satu kursi itu sambil memandang Song Yi.

“Kau tidak gugup atau takut dengan situasi kita, Nona Han?” Tanya Jong Woon memancing pembicaraan dengan Han Song Yi.

“Gugup?” Song Yi mengernyitkan keningnya mendapat pertanyaan dari Jong Woon.

“Iya, kita berdua di sini. Kau tidak takut aku melakukan apa apa padamu.”

“Pertanyaan konyol, Kim sajangnim. Kau yang gugup di sini.” Ucap Song Yi dengan senyum sinisnya.

“Aku bukan Hong Seol, jadi_” Ucapan Song Yi tiba-tiba tertahan saat dia rasa terkejut dengan kehadiran tiba-tiba Jong Woon. Perlahan tanpa berkata Jong Woon mengambil cangkir panas berisi susu coklat yang Song Yi buat sendiri. Meletakkannya perlahan di dekat meja di belakang Han Song Yi. Jong Woon mulai mengukung tubuh Song Yi dengan tubuhnya, mendekatkan tubuhnya lalu berbisik di telinga gadis dingin itu.

“Kau lupa apa yang telah aku lakukan pada lehermu, Nona Han? Bukankah ini kesempatan untuk ku melakukan lebih padamu.” Ucap Jong Woon dengan suara seraknya.

“Jangan bercanda, Kim Jong Woon.” Song Yi menjauhkan dada bidang Jong Woon dari tubuhnya. Jong Woon menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.

“Benar kata Lee Ara. Kau memang tidak bisa diajak bercanda, Nona Han.”

“Masalahnya, yang barusan bukan bercanda.” 

Song Yi mengambil lagi cangkir susu coklatnya, menatap Jong Woon sekilas. Lalu meninggalkannya sendirian di sana.

Song Yi meletakkan sejenak susu itu di meja ruang tamu apartemen Jong Woon. Gadis itu masuk lagi ke kamar yang tadi Jong Woon sediakan untuknya. Mengambil novel yang ada di dalam tasnya yang masih basah. Untung tas yang di pakainnya hari ini anti air. Jadi novel dan barang-barang di dalamnya tidak basah.

Gadis dingin itu berjalan lagi ke arah ruang tamu. Di ruang tamu itu hanya ada 2 lukisan, satu televisi dan beberapa bingkai foto Jong Woon dan Hong Seol. Song Yi tidak memperdulikan bagaimana dekorasi yang ada di apartemen ruang tamu Jong Woon. Gadis itu menyeruput lagi susu coklatnya, sambil matanya tidak lepas dari novel yang di bacanya.

***********

Sudah 45 menit Jong Woon sendirian menikmati kopi yang Song Yi buat tadi. Jong Woon fikir lebih baik sendirian dulu di dapur ini, dari pada berdua dengan Song Yi dan menjahili gadis dingin itu. Menurut Jong Woon saat ini adalah waktu yang tidak tepat menjahili Song Yi. Apalagi dia hanya berdua di Apartemennya ini.

Jong Woon begitu penasaran apa yang sedang di lakukan Song Yi di sana. Sementara dari jendela yang ada di dapurnya Jong Woon dapat melihat hujan masih saja turun deras tidak menunjukkan reda sekalipun. Jong Woon berdiri dari kursinya. Ingin tahu apa yang sedang Song Yi lakukan.

Sampailah pria itu di ruang tamu apartemennya. Jong Woon melihat posisi Song Yi yang sedang tertidur dengan masih memeluk novelnya itu. Diam-diam Jong Woon mendekat ke arah Han Song Yi, mengambil secara perlahan novel itu dari dekapan tangan Song Yi.

“Hi hi, lucu juga melihat dia tertidur seperti ini.” Jong Woon memerhatikan secara mendetail lekuk wajah Song Yi dari jarak dekat. Memandang sejenak wajah gadis dingin itu.

“Sebenarnya dia cantik kalau bisa tersenyum sekali saja.” Ucap Jong Woon sendiri.

“Dasar, gadis es.” Jong Woon mendekatkan wajahnya pada wajah Song Yi, melihat lagi lebih dekat mata gadis itu yang sedang tertidur.

“Indah.” Ucap Jong Woon lagi-lagi sendiri. Melihat Song Yi dari jarak yang sedekat ini ada yang begejolak lagi dalam diri Jong Woon, detakannya berpacu lebih cepat dari pada biasanya. Ada yang yang aneh pada salah satu organ tubuhnya. Apalagi ketika aroma khas buah Song Yi terasa di inderap penciuman Kim Jong Woon. Mata Jong Woon yang tadi fokus pada mata beralih ke arah bibir Song Yi yang baru saja Jong Woon sadari jika itu memang menggoda.

Entah naluri dari mana, perlahan Jong Woon mendekatkan bibirnya pada bibir Han Song Yi yang sedang tertidur, lebih dekat, sangat dekat, hingga 2 centi lagi Jong Woon akan merasakan bibir manis Song Yi itu, tapi tiba-tiba dengan kesadarannya Jong Woon menjauhkan kembali wajahnya dari wajah Han Song Yi.

“Tidak-tidak. Apa yang sedang kau lakukan, Kim Jong Woon. Kau gila?”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s