Posted in Fanfiction

Back In Time (Part 6)

​“Back In Time”

Part 6

*Start Reading

“Kau jatuh cinta, Han Song Yi.” Ucap Ara sesaat kemudian.

“Apa?”

“Kau jatuh cinta kepada Jong Woon”

“Omong kosong macam apa itu?” Elak Song Yi dengan perkataan Ara barusan.

“Semakin kau mengelak. Semakin aku tahu bahwa kau memang mencintainya, Nona Han. Kau cemburu, itu salah satu bukti bahwa kau mencintai pria itu” Song Yi membeku di tempatnya ketika mendengar penuturan gadis itu tentang dirinya.

Bukannya menyangkal semua pernyataan Ara. Song Yi justru berbalik, melangkah dengan cepat dari tempat itu. Ara dengan sigap langsung mengejar Song Yi. Langkah gadis dingin itu memang cepat, hingga Ara hampir tidak bisa mengejar Song Yi.

“Kau tidak perlu lari seperti ini. Jika tidak mencintainya, Han Song Yi.” Ara menghadang langkah Song Yi.

Song Yi masih diam di tempatnya, tidak mengelak sama sekali perkataan Ara. 

“Jadi perkataanku benar?” Ara mencoba mencari jawaban dari mata dingin gadis dingin itu, tidak ada wajah tenang yang biasa Song Yi tunjukkan, justru gadis dingin itu memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Aku tidak boleh jatuh cinta dengan Jong Woon, Ara. Tidak boleh.”

“Apa yang kau katakan, Han? Apa karena Jong Woon sudah bersama Seol?” Tanya Ara tak percaya.

“Di pernikahan kami tidak akan bahagia. Tidak akan pernah bahagia.” Ucap Song Yi tanpa menyadari perkataannya. Ara mendekat ke arah tubuh gadis dingin itu ‘Pernikahan? Apa maksudnya? Song Yi sudah menikah? Dengan siapa? Jong Woon?’ Batin Ara dalam hati. 

“Katakan. Apa maksudmu dengan pernikahan, Han Song Yi?” Ara menggenggam kuat lengan kiri dan lengan kanan Song Yi, membuat Song Yi reflek menatap gadis yang ada di depannya. Song Yi sadar, perkataan ambigunya barusan menimbulkan sebuah pertanyaan di kepala Lee Ara.

“Kau harus mengatakan padaku hari ini. Dan itu harus semuanya.” Ara berucap lagi

***********

Song Yi sebenarnya tahu rahasia yang coba ia simpan rapat-rapat selama ini, pasti suatu hari akan ada yang mengetahuinya. Song Yi ingin menyimpan sendiri kejadian melintasi waktu itu, atau sekarang bisa saja dia berbohong kepada Ara, tapi sepertinya itu tidak akan menyelesaikan masalahnya kali ini. Mungkin memang saatnya dia bercerita jujur dengan Ara tentang semuanya. 

Song Yi melihat pintu kamar Ara yang terbuka, gadis cerewet itu membawa dua buah jus melon di tangannya. Masuk lebih dalam kamarnya sendiri, dan meletakkan dua gelas itu di meja yang ada di dekat tempat tidur.

“Hanya ada jus melon. Minumlah kalau kau haus, Nona Han.” Ara ganti melangkah ke arah tempat tidurnya, duduk tepat di samping Han Song Yi. 30 menit yang lalu keduanya masih ada di pusat perbelanjaan sebenarnya, tapi Ara mengajak Song Yi untuk ke rumahnya. Ya, di sinilah mereka berdua. Di kamar pribadi Lee Ara.

“Kau bisa memberitahuku sekarang! Apa yang terjadi padamu? Pernikahan? Kau menikah dengan Jong Woon?” Lee Ara semakin penasaran dengan keadaan Han Song Yi. 

“Kau tidak akan percaya dengan apa yang akan aku katakan, Lee Ara.” Song Yi memandang lurus ke depan.

“Perkataanmu semakin membuatku penasaran, Han. Katakan sekarang!” 

“Aku melintasi waktu Lee Ara. Aku sudah hidup di tahun 2015 dan aku tidak tahu. Kenapa aku berada di tahun 2013 ini.” 

“Apa maksudmu, Han? Kau bercandakan?”

“Sejak kapan aku bercanda dengan mu?” Mendengar perkataan Song Yi yang tegas dan raut wajah gadis itu yang serius membuat Ara berfikir keras. Mengingat Song Yi adalah sahabatnya yang dia kenal selama ini, dan Ara sangat tahu bagaimana karakter dan sifat Song Yi. Gadis itu berkata jujur dan tidak sedang bercanda sekarang. Untuk beberapa detik Ara sempat membeku mendengar perkataan Song Yi. 

Melintas waktu? Hal yang cukup mustahil sepertinya. Tapi mengingat Ara percaya sebuah keajaiban, sepertinya itu mungkin.

“Melihatmu, seperti ini. Sepertinya aku harus percaya perkataanmu, Han. Aku mengenalmu lama, dan aku tahu kau tidak sedang bercanda sekarang. Jadi, beritahu aku apa yang terjadi padamu.”

“Di tahun 2015 aku dan Jong Woon menikah, kami hanya menikah tidak ada ikatan cinta atau apapun di sana. Dan hari itu kami bertengkar hebat, aku kembali ke kamarku dan aku tidak tahu bagaimana aku bisa di tahun 2013 ini.” 

“Jadi?” Ara mulai berdiri.

“Kau dan Jong Woon sudah menikah di tahun 2015 mendatang? Katakan sekarang!”

“Apa?”

“Kau mencintai Jong Woon kan?”

“Aku tidak tahu. Aku hanya merasa tidak suka saja jika Jong Woon sedang berdua dengan Hong Seol.”

“Kau sedang cemburu, Han Song Yi. Wajar kau tidak suka. Tidak! Kau menyadari perasaanmu tapi berpura-pura tidak merasakan apapun. Di tahun ini kau jatuh cinta kepada Jong Woon, Han Song Yi” Wajah Song Yi masih datar seperti sebelumnya, tidak menampakkan wajah terkejut sama sekali saat Ara mengatakan apa yang sedang ada di fikirannya.

***********

*Next Day

“Aku temannya, Han Song Yi. Pak petugas. Tolong lepaskan cengkraman tangan Anda!” Ara mencoba berontak dengan cengkraman petugas keamanan Perusahaan Shaphire Group. Tadi gadis itu kemari bermaksud membawakan bekal makan siang yang ia buat untuk Song Yi.

Bukan datang dengan baik-baik Ara justru berteriak di dalam gedung perusahaan memanggil-manggil nama Song Yi. Dan seperti inilah dia sekarang, berurusan dengan petugas keamanan.

“Tolong, lepaskan aku pak petugas! Aku bukan orang gila. Astaga, berapa kali aku harus memberi tahu kalian?”

“Ara!”

“Ah, Han Song Yi.” Ara langsung menyebut nama Song Yi, ketika gadis itu tidak sengaja melihat sosoknya. 

“Tolong, lepaskan Pak! Dia temanku.” Ucap Song Yi kepada petugas yang akan menyeret Ara untuk keluar dari gedung Shappire Group.

“Astaga! Lee Ara. Apa yang kau lakukan di sini.”

“Tarra, aku membawa bekal untukmu. Ah. Untung saja kau datang, Han Song Yi. Aku pasti di seret tadi jika tidak.”

“Siapa bilang? Aku tadi tidak sengaja melewati ini. Pulanglah, Lee Ara.”

“Tidak, sebelum kau menghabiskan bekal buatanku.” 

Song Yi membalikkan badannya. Berjalan ke arah ruangannya. Di ikuti Lee Ara yang ada di belakangnya.

“Ayolah, Han. Aku sudah susah payah membuatnya.”

“Bicaralah. Ku mohon!”

Jong Woon yang tidak sengaja melihat Ara dan Song Yi, pria itu langsung mendatangi 2 gadis itu.

“Ada apa?” Tanya Jong Woon kepada Lee Ara.

“Aku membuatkan bekal makanan, kau lihat. Tapi, sayang gadis ini tidak mau menyicipinya.” Ara memperlihatkan bekal yang di bawanya dari tadi.

“Ah, sayang sekali.” Balas Jong Woon kepada ucapan Ara. Dan keduanya masih berjalan tepat di belakang Song Yi.

“Padahal aku susah payah membuatnya.”

“Kalau yang kau maksud adalah gadis dingin. Ku rasa tidak akan bisa, Ara.”

“Ah. Kau benar, Jong Woon.”

“Kalian bisa diam!” Song Yi berhenti dari langkahnya. Mengahadap 2 orang yang dari tadi terus mengikutinya.

“Aku punya satu cara, Nona Lee.” Ucap Jong Woon mengabaikan Song Yi yang sepertinya mulai kesal dengan sikap 2 orang itu.

“Apa?” tanya Ara ingin tahu.

“Seperti ini.” Jong Woon menarik paksa tangan Song Yi, membawa berlari gadis itu ke dalam ruangannya. Di ikuti oleh Lee Ara yang mengikuti dari arah belakang.

“Nah berhasilkan, Nona Lee. Dan dia tidak bisa keluar dari ruangan ini, karena kuncinya ada di sini.” Jong Woon memasukkan kunci itu ke dalam sakunya.

“Kalian seperti anak kecil.”

“Kami memang anak kecil, Nona Han. sudah kemari! Kita makan bersama bekal makanan yang ku buat.” Ara dengan lembut menarik pergelangan tangan kanan Song Yi, duduk di sofa yang ada di ruangan Jong Woon.

“Kau juga bisa makan bekal buatanku, Kim Sajangnim. Aku tadi membuat untuk 3 orang.”

“Benarkah? Ah . Terima kasih, Lee Ara. Kau sahabat terbaik.”

Ketiganya pun makan siang bersama bekal buatan Lee Ara. Jong Woon tampak menikmati makanan yang telah Ara masak, begitu pula Song Yi. Dari tadi pandangan mata Lee Ara tidak lepas dengan pemandangan di depannya. Jong Woon yang terlihat sesekali menjahili Han Song Yi. 

Apalagi pemandangan yang sangat asing barusan, Jong Woon memaksa Song Yi untuk makan dari tangannya. Awalnya Song Yi menolak, tapi Jong Woon memaksa membuat gadis dingin itu mau tidak mau memakannya.

‘Aku mendapatkannya Han Song Yi’ Batin Ara dalam hati.

**********

Jong Woon melangkahkan kakinya dengan cepat. Pria itu menutup pintu ruangannya, keluar begitu saja dari ruangan itu tanpa menyapa ke arah Song Yi yang masih duduk di kursinya. Sementara Song Yi gadis itu tengah membereskan ruang kerjanya. Dia sudah selesai dari 5 menit yang lalu. 

Ketika Jong Woon melesat jauh ke arah lorong, Song Yi juga berjalan di belakang pria itu, tapi tidak terlalu tergesa-gesa seperti apa yang di lakukan Jong Woon.

Hingga sampai di depan pintu utama gedung Jong Woon langsung berhambur ke arah gadis lembut itu, memeluk hangat tubuh Hong Seol. Malam ini Seol menunggu Jong Woon di depan gedung perusahaan pria itu. Memberi kejutan ketika sang kekasih keluar dari sana.

Song Yi melihat itu semua, senyuman Jong Woon, senyuman Hong Seol. Di tahun yang terlewat Song Yi tidak pernah melihat senyum itu. Tidak pernah juga melihat senyum yang selalu melayang padanya dari pria itu.

Bayang-bayang sifat dingin Jong Woon melintas di kepala Song Yi. Tidak ada senyuman di wajah dingin itu, hanya ada kesedihan di sana. Yang membuat Song Yi menyesal adalah, kenapa dia baru menyadari perasaaannya sekarang? Kenapa tidak dulu waktu yang sudah terlewat itu?

Jatuh cinta pada Jong Woon hari itu ataupun hari ini, semua itu sama saja. Jong Woon tak pernah memandangnya. Jong Woon hanya mencintai Seol. Ya, hanya gadis itu. Tidak ada yang lain di hati Jong Woon.

‘Aku akan membuatmu tersenyum seperti hari ini Jong Woon’ Ucap Song Yi dalam hati.

‘Aku tidak ingin melihat tangisan itu lagi.’ Batin Song Yi dalam hati. Mungkin Jong Woon tidak pernah tahu, di waktu yang telah terlewat pernah suatu kali Song Yi tidak sengaja melihat Jong Woon yang menangis karena Seol. Pernah juga suatu malam Song Yi melihat Jong Woon yang memeluk bingkai foto Seol. Saat itu Song Yi belum jatuh cinta pada Jong Woon, gadis dingin itu juga tidak peduli apa yang telah terjadi pada pria itu.

Dan hari ini ketika gadis itu mulai tahu dan menyadari perasaannya, walaupun itu sudah terlambat. Sakit Jong Woon adalah sakitnya, senyum Jong Woon adalah senyumnya.

“Aku berjanji padamu Kim Jong Woon. Aku akan membuatmu berakhir menikah dengan Hong Seol” bisik Song Yi sendiri melihat Jong Woon yang sedang tersenyum.

************

“Aku tidak menyangka kau benar-benar akan menginap di rumahku, Nona Han.” Ara mulai mengusapkan cream malam ke arah wajahnya. Malam ini Song Yi menginap di kamar Ara, karena gadis cerewet itu yang meminta saat makan siang di ruangan Jong Woon tadi, mau tidak mau Song Yi menuruti gadis itu. Dari pada dia dipusingkan dengan teror dari Lee Ara. Jadi di sinilah mereka sekarang. Song Yi sudah berbaring di tempat tidur, sementara Ara masih duduk di depan kaca riasnya.

“Kau pasti akan menerorku jika aku tidak datang hari ini.” Sementara itu Song Yi mulai menarik selimut di tempat tidur Ara.

“Ha ha ha, padahal aku hanya bercanda.” Ara melangkah ke arah tempat tidurnya, mulai berbaring di samping Han Song Yi. Song Yi mulai tidur menyamping, membelakangi Ara yang sedang terlentang menghadap ke arah langit-langit kamarnya.

“Han.”

“Ehm.”

“Nona Han.”

“Ya. Ada apa Ara?”

“Bagaimana kalau asumsiku benar Han Song Yi?”

“Asumsi apa? Katakan padaku, aku tidak mengerti.”

“Kau kembali ke tahun ini untuk menemui Jong Woon.”

“Tidak mungkin.”

“Seperti katamu tadi, kau bertemu dengan Jong Woon di parkiran universitasku, tidak sengaja berpandangan saat di depan kelas Seol, di taman bermain yang harusnya di tahun yang terlewat lalu kau pulang, malah sekarang kau bertemu Jong Woon, dan lalu magang ini. Apa ini namanya? Kebetulan? Tidak, Han Song Yi.”

“Tidak. Bukan itu kenapa aku kembali ke masa ini.”

“Lalu apa?” Ara mulai bangun dari posisinya berbaringnya, di ikuti Song Yi yang juga ikut duduk tepat di hadapan Lee Ara.

“Membuat Jong Woon berakhir dengan Hong Seol.” Ucap Song Yi menatap mata Ara

“Kau gila? Jong Woon ditakdirkan bersama mu, Han Song Yi.”

“Tidak! Bukan aku, Lee Ara. Kau tahu di tahun yang sudah terlewat saat dia kehilangan Seol? dia tidak pernah tersenyum seperti ini. Dia bersikap dingin, seratus delapan puluh derajat berbeda dengan sekarang. Karena dia kehilangan Seol dia menjadi dingin. Aku tidak ingin melihat wajah dingin dan air mata itu lagi dari Jong Woon. Aku akan menyatukan keduanya sebelum kejadian itu terjadi.”

“Apa yang bisa kau lakukan?”

“Membuat keduaanya menikah.”

“Lalu bagaimana dengan mu, Han Song Yi? Bagaimana dengan hatimu, Han Song Yi?” Mata Ara mulai berkaca-kaca dengan obrolan ini, di satu sisi Ara sangat menyayangi Song Yi sebagai sahabatnya, di sisi lain Ara merasa Song Yi telah bodoh dengan keputusannya.

“Beri tahu aku Han Song Yi? Bagaimana dengan hatimu?” Lolos sudah air mata yang Ara tahan dari tadi, gadis cerewet itu memang sensitive jika menyangkut hal seperti ini. Song Yi terlalu memperdulikan perasaan Jong Woon pada gadis yang bernama Hong Seol itu, dan dengan bodohnya Song Yi mengabaikan perasaanya sendiri kepad Jong Woon.

“Bukankah kau mencintai, pria itu?” Tanya Ara, sementara Song Yi masih diam tidak bisa menjawab sama sekali pertanyaan Ara.

“Aku akan berhenti mencintainya.”

“Tidak semudah kau mengatakannya, Han Song Yi. Kau akan sakit hati, Han”

“Kau akan sakit hati.” Ulang lagi Ara dalam perkatannya.

“Tidak sesakit saat Jong Woon kehilangan Moe nya.”

“Bagaimana jika hati Jong Woon berubah di tahun ini? Bagaimana jika pria itu juga mempunyai perasaan padamu?” Ara mulai meraih kedua tangan Song Yi, meyakinkan gadis dingin itu dengan opini dan instingnya.

“Mustahil, Lee Ara.” Song Yi menggelengkan kepalanya.

“Aku melihatnya, Han Song Yi. Aku melihatnya hari ini. Pandangan mata Jong Woon, sama seperti pandangan matamu Han Song Yi.” Ara mengusap pelan air matanya sendiri, mulai mencoba tersenyum ke arah Song Yi.

“Mungkin itu hanya perasaanmu, Ara. Di mata Jong Woon hanya ada Moenya. Tidak ada Han Song Yi.”

“Aku akan membuktikan kalau pria itu juga mempunyai perasaan padamu, Han.” Ada keyakinan di mata Ara kali ini, Song Yi melihat itu semua. Tidak pernah sahabatnya itu seyakin ini. Tapi untuk Jong Woon menyukainya dari 100%, mungkin hanya 2% sebagai teman, tidak lebih.

“Sebaiknya kita tidur saja, Ara. Percakapan ini tidak akan ada ujungnya.” Song Yi mulai berbaring lagi seperti tadi, mencoba memejamkan matanya.

**********

*1 Minggu kemudian

Song Yi dari tadi melihat jam yang ada di i-phonennya, harusnya pagi ini dia berangkat menggunakan mobilnya sendiri, tapi tidak untuk hari ini. 30 menit tadi saat ia mencoba menyalakan mobilnya. Dan sayang mobilnya tidak mau diajak kompromi. Mobil itu mogok hari ini. Sementara kakaknya, Han Yi Kyung sudah berangkat kerja. Jadi hari ini Song Yi menaiki Bus menuju perusahaan Jong Woon.

Setiap berhenti di halte, Song Yi tidak lupa memerika jam lagi di layar i-phonennya. Song Yi rasa tahu, hari ini dia akan telat. Jam menunjukkan 06.55 sementara ini masih menujukkan sepertiga dari perjalanan menuju kantor Jong Woon.

Setelah tiba di ujung jalan Song Yi segera berlari ke arah pintu utama perusahaan Shappire Group. Gadis dingin itu sangat tahu diri. Dia adalah peserta magang, dan tidak semestinya dia telat saat magang seperti ini. Song Yi berharap Jong Woon tidak menyadari dirinya tidak ada di kursinya pagi ini. 

Gadis dingin itu dengan cepat berlari ke lantai tiga. Tepat di lorong dekat ruangannya Song Yi mulai memelankan langkahnya, seperti pencuri yang sedang masuk suatu rumah, hingga langkah SongYi bahkan tidak terdengar. Song Yi membuka pelan pintu ruangan yang menghubungkan ruangannya yang berada tepat di depan ruang Jong Woon.

“Kau telat, Nona Han.” Song Yi terlonjak dari posisinya, gadis dingin itu benar-benar terkejut. Jong Woon ternyata berdiri di dekat pintu itu menanti kehadiran Han Song Yi.

“Kau tahu. Kau telat berapa menit?” Jong Woon memperlihatkan jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya.

“15 menit.” Ucap Song Yi singkat.

“Kenapa kau telat?” Tanya Jong Woon dengan pura-pura nada sinisnya.

“Mobilku mogok, dan hari ini aku naik bus.”

“Kau akan dihukum.”

“Apa?” Song Yi melebarkan matanya menatap Jong Woon. Yang Song Yi tahu, di perusahaan ini tidak ada aturan tentang hukuman. Yang Song Yi tahu jika dia pegawai tetap di sini saat dia telat, gajinya akan berkurang. Dan jika dia peserta magang, bukankah dengan pengurangan nilai atau point itu cukup? Hukuman, mana ada itu? Song Yi berfikir keras. Sambil pandangannya tidak beralih dari pandangan mata Jong Woon.

“Tidak sekarang, tapi nanti. Tunggu saja.”

“Hei. Tidak ada seperti itu, di perusahaan ini.”

“Aku pimpinannya. Dan aku berhak melakukan apapun, Nona Han.” Ucap Jong Woon dengan kerlingan mata nakalnya di sana.

***********

“Sekretaris Kim.” Sapa Song Yi yang duduk di kursi tepat di sebelah ruang kerja Ryeowook, memang tempat ini di desain mulanya hanya 1 meja dan kursi hanya Ryeowook, semenjak ada Song Yi. Ruangan tempat Ryeowook diubah dengan tambahan meja dan kursi tepat di sampingnya. Ryeowook tidak begitu mendengar sapaan Song Yi sehingga pria itu hanya diam.

“Sekretaris Kim.” Panggil lagi Song Yi dengan volume sedikit meninggi.

“Ah, Han Song Yi. Kau memanggilku?” Ryeowook menoleh ke arah kursi Song Yi.

“Kemarin, aku mendapat kabar untuk datang ke universitas hari ini. Aku harus mengambil sesuatu penting di universitasku. Bolehkah aku ijin untuk keluar sebentar, sekretaris Kim?”

“Itu bukan wewenangku, Song Yi. Kau harus meminta ijin Presedir Kim untuk memintanya.”

“Meminta ijin Jong Woon? Pria itu?” Ucap Song Yi kelepasan dengan perkataannya.

“Aku harus meminta ijin pada Sajangnim?” Ralat Song Yi

“Ya, seperti itulah prosedurnya Song Yi. Seandainya aku ketua tim pasti aku mengijinkanmu. Secara tidak langsung kita itu tim, dan ketua tim kita adalah Kim Sajangnim.”

“Ah, baiklah. Aku mengerti, Sekretaris Kim”

************

“Sajangnim.” Song Yi mengetuk pintu ruangan Jong Woon dengan pelan.

“Masuklah!” Perintah Jong Woon yang berada di dalam. Mendengar suara Jong Woon, Song Yi masuk perlahan. Mata gadis itu melihat Jong Woon yang sedang sibuk dengan berkas-berkas di tangannya. Hari ini ada yang berbeda dari pria itu, sejak tahu dan mengenal Jong Woon baik di masa yang telah terlewat atau kembali ke masa ini Song Yi baru melihat pria itu memakai kaca mata. Song Yi merasa ada aura yang berbeda dari pria itu hari ini.

“Terpesona denganku, Nona Han?” Tanya Jong Woon memecahkan kebekuan Song Yi barusan.

‘Sialan!’ batin Song Yi dalam hati. Sementara Jong Woon mulai mendongakkan kepalanya untuk menatap Song Yi yang sedang berdiri tepat di depannya.

“Ada apa?” Tanya Jong Woon

“Aku ingin meminta ijin untuk ke universitas hari ini, Jong Woon.”

“Ah Sajangnim.” Ralat Song Yi pada perkatannya.

Jong Woon masih diam di tempatnya, memerhatikan ekspresi Song Yi yang sedang memejamkan matanya sebentar untuk meralat perkataan gadis itu. Lagi-lagi perasaan nyaman saat berada dengan Han Song Yi datang lagi di fikiran Jong Woon. Ada sesuatu yang membuat Jong Woon tertarik dan ingin tahu bagaimana sifat dan karakter Song Yi sebenarnya. Atau lebih tepatnya Jong Woon ingin mengenal lebih dalam bagaimana Han Song Yi.

“Kalau aku tidak mengijinkanmu?” Jong Woon menghentikan kegiatannya. Menyanggga dagu dengan tangan kirinya, dan menatap Song Yi dengan tatapan menggodanya.

“Aku akan bekerja kembali kalau begitu, terima kasih.” Song Yi segera berbalik dari hadapan Jong Woon, dia tidak mau melihat tatapan itu lagi. Jantungnya bahkan berdetak lebih cepat dari pada biasanya. 

Jong Woon memang brengsek telah menggodanya dengan hanya posisi seperti itu. Mungkin bagi Jong Woon itu hanya candaan, tapi efeknya cukup dahsyat untuk membuat jantung Song Yi berdetak lebih cepat dari pada biasanya.

“Aku akan mengijinkanmu.” Ucap Jong Woon yang tiba-tiba berada di depan hadapan Han Song Yi, dengan tangan yang ia rentangkan untuk menghadang langkah Song Yi.

“Lagi pula, sebentar lagikan jam makan siang. Aku akan mengantarmu.”

“Apa?”

“Bukankah aku baik hati? Aku mengantarmu karena kau tidak membawa mobil hari ini.”

“Kenapa kau tidak meminjamkan mobilmu saja, Sajangnim!”

“Aku tidak ingin mobilku tergores satu inci pun karena mu.”

Song Yi menggelengkan pelan kepalanya, gadis dingin itu mulai terbiasa dengan sifat kekanak-kanakan, keras kepala dan aneh Jong Woon selama ini. Percuma menolak Jong Woon, pria itu akan keras kepala dengan jalan fikirnya. 

**********

“Jangan ikut masuk. Tetap di mobil ini.” Ucap Song Yi sesaat sebelum dia turun dari mobil Jong Woon. 

“Dan aku harus menunggumu selama kau di dalam? Aku bisa bosan.” Ekspresi kecewa tampak pada wajah Jong Woon, sementara Song Yi sudah mulai keluar dari mobil Jong Woon.

“Itu resikomu. Kenapa kau mengantarku. Kembalilah kalau begitu, aku juga tidak butuh bantuanmu.” Ucap Song Yi yang sudah berdiri di samping mobil Jong Woon.

“Begitu bencikah kau denganku, Nona Han? Kenapa setiap kata yang keluar dari bibirmu selalu terasa pedas ke arahku?”

“Aku minta maaf jika kejujuranku terasa pedas bagimu Sajangnim.” Sorot mata Song Yi terlihat lebih dingin dari pada sebelumnya. Tanpa mendengar lagi apa kata Jong Woon, Song Yi sudah berbalik dan melangkah menjauh dari Jong Woon.

Bukan Jong Woon si keras kepala namanya jika pria itu masih duduk di dalam mobil sana dan menuruti apa kata Song Yi barusan. Jong Woon keluar dari mobilnya, melihat Song Yi yang semakin jauh dari pandangannya. Sebelum pria itu kehilangan sosok Song Yi dari pandangannya, Jong Woon dengan diam-diam mengikuti langkah Song Yi.

Jong Woon berjalan tak jauh dari tubuh Song Yi, melihat gadis itu melangkah dengan cepat dan tepat. Sepanjang jalan di lorong Universitas gadis itu Jong Woon melihat beberapa mahasiswa yang berlalu lalang di sana, tapi tidak satupun menyapa Han Song Yi. Begitu pula sebaliknya, Song Yi tidak menyapa mereka sama sekali.

Beberapa orang yang melewati Song Yi terkadang malah saling berbisik, entah sedang membicarakan siapa. Jong Woon tidak sengaja melewati kerumunan gadis-gadis yang berbisik itu, suatu waktu telinganya mendengar ‘Ah gadis dingin itu lagi.’, ‘Pasti dia dan orang tuanya menyuap salah satu dosen hingga dia masuk shappire group.’ Atau kalau tidak Jong Woon mendengar ‘Aku muak melihat wajah sombong gadis itu.’ 

Mendengar beberapa bisik-bisik gadis-gadis itu Jong Woon menyimpulkan Song Yi di benci di sini. Jong Woon melihat Song Yi yang berhenti sebentar dari kegiatan melangkahnya, mengambil nafasnya panjang dan mengeluarkannnya perlahan. Jong Woon juga ikut terhenti dari langkahnya

“Kau mengetahui apa yang mereka bicarakan, bukan?” Tanya Jong Woon nyaris berbisik dari tempatnya.

Jong Woon melihat Song Yi melangkah lagi. Pria itu juga ikut melangkah sama seperti Han Song Yi. Song Yi masuk ke ruangan dosen. Sementara Jong Woon duduk di kursi yang ada di depan ruangan dosen itu. Tidak sampai 10 menit Song Yi keluar dari sana, membawa sebuah kertas di tangannya dan pergi dengan cepat ke arah lorong yang berlawanan dengan Jong Woon duduk sekarang. Membuat Song Yi tidak menyadari bahwa Jong Woon tengah menunggunya di kursi itu.

Jong Woon segera mengikuti langkah Song Yi lagi. Jong Woon kira Song Yi akan pergi ke parkiran, ternyata tidak. Gadis dingin itu berjalan ke arah belakang gedung utama universitasnya ini. Ke sebuah taman kecil yang dulu Song Yi kunjungi saat dia aktif menjadi mahasiswa, lebih tepatnya tempat ternyaman kedua bagi Song Yi setelah perpustakaan di universitasnya ini.

Song Yi memandang sebentar ke arah cahaya matahari yang mengenai dirinya, menghirup dalam udara di sana. Lalu mendekat ke sebuah kolam ikan kecil yang menjadi pusat di taman kecil itu. Terdapat beberapa ikan berenang kesana kemari di kolam itu.

“Hai, lama tidak menyapa kalian. Maaf, aku tidak membawa makanan untuk kalian hari ini.” Song Yi menyapa ikan-ikan itu, seolah dirinya lama tidak menyapa ikan-ikan itu. Membuat Jong Woon mematung di tempatnya melihat kejadian itu.

“Kalian harus sehat selama aku jarang kemari.” Song Yi memainkan air di kolam itu. Matanya mengedar melihat sekeliling, hingga berhenti tepat saat melihat Jong Woon yang berdiri mematung tak jauh dari tempatnya.

“Kau mengikutiku?” Tanya Song Yi memecah kebekuan Jong Woon. Mata Jong Woon mengerjap sebentar mendengar sapaan itu. Kemana lagi Song Yi berbicara jika tidak kepada dirinya.

“Maaf.” Ucap Jong Woon singkat. Song Yi kembali menatap ikan-ikan itu lagi, sambil tangannya sesekali memainkan air di sana.

“Dan kau pasti melihat semuanya.” Ucap Song Yi berbisik, tapi masih dapat di dengar oleh Jong Woon.

Jong Woon semakin mendekat ke arah Song Yi, duduk tepat di samping gadis itu. Memandang Song Yi yang sedang melihat ikan-ikan di kolam itu.

“Siapa saja temanmu?”

“Lee Ara.” Jawab spontan Song Yi.

“Selain itu?”

“Choi Siwon.”

“Selain itu?” Jong Woon masih bertanya lagi, membuat Song Yi menghentikan aktivitas memainkan air di kolam. Tiba-tiba suasana menjadi hening. Jong Woon tidak mengeluarkan suaranya, Song Yi juga belum menjawab pertanyaan Jong Woon. Yang ada hanya suara angin yang lewat di sana.

“Kau tidak mempunyai teman?” Tanya Jong Woon dengan lembutnya. Song Yi terdiam beberapa detik mendengar pertanyaan itu. Gadis dingin itu tidak bisa membantah sama sekali pertanyaan Jong Woon, karena nyatanya hanya 2 orang itulah yang bertahan berteman dengan gadis seperti dirinya.

“Kau tidak mempunyai teman, Han Song Yi?” Tanya Jong Woon sekali lagi.

“Lebih baik aku berteman dengan satu atau dua orang yang dapat ku percaya, dari pada aku mempunyai banyak teman dan akhirnya mereka menusukku. Kenapa aku harus berteman dengan mereka yang membenciku? Mereka hanya melihatku hanya dari sudut mata mereka, mereka tidak tahu bagaimana sebenarnya diriku. Dan dengan seenaknya menyimpulkan bagaimana diriku.”

“Kau juga melihatnya bukan? Kalau mereka membenciku?” Lanjut Song Yi pada perkataannya, di saat itu pula Song Yi menoleh ke arah Jong Woon. Menatap mata tajam pria itu.

“Aku juga temanmu, Han Song Yi. Mulai sekarang kau juga harus mempercayaiku.” Ucap Jong Woon lembut tidak seperti biasanya.

“Sebaiknya kita kembali ke perusahaan. Urusanku sudah selesai di sini.” Song Yi berdiri dari posisi duduknya, menatap ke arah lain, yang jelas tidak ke arah pemilik tatapan tajam itu.

************

Song Yi mengetuk pelan ruangan Jong Woon, gadis dingin itu masuk perlahan ruangan itu. Jong Woon sedang menerima panggilan dari seberang sana, tapi pria itu tahu ada Song Yi di ruangannya. Jadi dengan menggunakan isyarat tangan dan matanya Jong Woon menyuruh Song Yi masuk masuk.

“Ha ha ha, benarkah?” Jong Woon tertawa, entah apa yang sedang dia dengar dari seberang telefon sana.

Song Yi membuka berkas yang sedang di bawanya, menunjukkan pada Jong Woon bagian mana yang harus pria itu tanda tangani. 

“Baiklah Moe sayang~~ nanti malam aku menjemputmu. Aku sedang banyak pekerjaan, jadi aku tutup.” Bersamaan dengan berakhirnya panggilan itu, Jong Woon menahan pergelangan tangan kanan Han Song Yi. Membuat gadis dingin itu tidak jadi keluar dari ruangan Jong Woon.

“Aku harus tanda tangan dimana?” Tanya Jong Woon.

“Di sini.” Song Yi menunjukkan pada Jong Woon.

“Bisa kau lepas pergelangan tangan kananku, Sajangnim?”

“Ah, maaf.” Jong Woon baru menyadari jika tangannya dari tadi memegang pergelangan tangan kanan gadis dingin itu.

*********

Song Yi membereskan berkas-berkas yang ada di mejanya, melihat sekilas ke arah i-phone yang ada di mejanya. Song Yi dapat melihat jam menunjukkan pukul 8 malam. Hari ini beberapa karyawan sudah pulang, termasuk Sekretaris Kim. Yang ada di perusahaan ini beberapa karyawan yang sedang lembur, juga Jong Woon yang dari tadi belum keluar dari ruangannya.

Sesekali Song Yi melihat pintu yang berada tak jauh dari matanya itu, berharap Jong Woon keluar dari sana. Dan juga segera pulang. Tapi Song Yi sepertinya harus menepis semua angannya, nyatanya Jong Woon tidak keluar dari ruangan itu, atau mungkin masih sibuk dengan beberapa pekerjaannya.

Song Yi sudah bersiap untuk pulang, perlahan gadis itu berjalan ke arah pintu ruangan Jong Woon. Gadis dingin itu sudah memegang gagang pintu ruangan Jong Woon, tapi beberapa detik kemudian ia melepas gagang itu, dan pergi begitu saja.

Song Yi berjalan di lorong perusahaannya. Hingga sampailah dia di depan pintu besar perusahaan itu. Tepat di sana, Song Yi melihat seseorang melambai ke arahnya. Song Yi tahu siapa sosok itu. Perlahan Song Yi berjalan ke arahnya.

“Selamat malam, Han Song Yi.”

“Choi Siwon.”

“Kau pasti tidak percaya kenapa aku di sini. Seseorang memberi tahuku bahwa mobilmu bermasalah hari ini. Jadi aku datang untuk menjemputmu.”

“Menjemputku?” Song Yi masih berfikir keras.

“Aku akan mengantarmu pulang hari ini.”

“Aku akan naik taksi saja, Siwon. Lagi pula rumah kita berbalik arah, bukan?”

“Aku mengantarmu tidak akan mengabiskan banyak bensinku, Han Song Yi.” Siwon mengusap pelan puncak kelapa Han Song Yi, seperti yang dia lakukan selama ini. 

Jong Woon yang baru saja keluar dari pintu utama gedung perusahannya menyipitkan matanya melihat Song Yi dan Siwon yang sedang berbicara itu. Jong Woon ingat percakapannya tadi siang dengan Han Song Yi. Bahwa mobil gadis dingin itu ada masalah. Melihat Siwon yang tampak mengusap pelan puncak kepala Song Yi membuat Jong Woon tidak suka. Dengan langkahnya Jong Woon mendekat ke arah keduanya.

“Masuklah, Song Yi. Aku akan mengantarmu.” Siwon mempersilahkan masuk Song Yi kedalam mobilnya, sementara Song Yi masih bersikukuh berdiri di sana. Jong Woon yang tahu kondisi itu segera menarik pergelangan tangan kanan Song Yi, membuat tubuh gadis dingin itu berada di belakang pungggung Jong Woon sekarang.

“Gadis ini akan pulang bersamaku, lagi pula rumah kami searah.” Song Yi menatap tak percaya ke arah Jong Woon barusan. Pulang bersama Jong Woon? Bukankah pria itu ada janji dengan Hong Seol? Song Yi berfikir keras. Song Yi ingin berontak dengan genggaman Jong Woon, bukannya lepas, justru genggaman itu semakin erat di sana.

‘Apa yang kau lakukan Jong Woon?’ Batin Song Yi dalam hati. Sementara kedua pria yang ada di depan Han Song Yi saling melempar tatapan tajam mereka.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s