Posted in Fanfiction, Pg17

Back In Time (Part 5)

​“Back In Time”

Part 5

Pg17

*Start Reading


“Bagaimana kalau ku bilang aku berasal dari 2 tahun lagi dari tahun sekarang. Percaya tidak percaya 1 tahun dari sekarang kita akan menikah! Di masa depan kau menikah denganku. Di masa depan kau hidup tapi seolah seperti mati karena sesuatu hal, kau jarang tersenyum, dan di masa depan kita tidak bisa seperti ini. Bersahabat? Kita bahkan seperti orang asing yang saling bermusuhan.” Jong Woon menatap tak percaya ke arah Song Yi setelah mendengar apa yang diucapkan gadis dingin itu padanya. Keduanya saling menatap dalam diam. Jong Woon sedang berfikir gadis ini sedang bercanda atau serius dengan perkatannya. Jika ini bercanda, ekspresi Song Yi masih dingin seperti biasanya. Haruskah dia mempercayai perkataan gadis dingin ini? Jong Woon berfikir keras.

“Aku hanya bercanda.” Ucap Song Yi ditengah kebekuan Jong Woon.

“Bercanda mu tidak lucu, Nona Han. Kau berbicara dengan nada dan tampang seriusmu.”

“Aku tahu itu.”

“Jadi, itu tadi hanya bercanda kan?” Jong Woon tersenyum lagi seperti tadi.

“Ah lucu juga cara bercanda gadis dingin. Beberapa detik tadi aku bahkan hampir percaya dengan perkataanmu itu.” Jong Woon mulai membaca lagi bukunya. 

Sementara Song Yi masih menatap Jong Woon yang sibuk membaca itu, sebenarnya tidak sepenuhnya apa yang dikatakan Song Yi barusan adalah sebuah kebohongan apalagi sebuah candaan. Itu adalah kenyataan yang terjadi pada Song Yi dan Jong Woon yang sudah terlewati. Song Yi tahu saat dia akan bercerita seperti ini pasti semua orang tidak akan mempercainya. Song Yi juga tidak peduli apa semua orang tidak mempercayainya. Yang jelas gadis dingin itu malah lebih menerima keadaan ini.

“Apa sebelumnya kita pernah bertemu, Han Song Yi? atau kita saling mengenal? Kenapa aku merasa sangat dekat denganmu?”

“Benarkah? Mungkin hanya perasaanmu.”

Lima belas menit kemudian munculah sosok Seol dari arah rak tadi. Seol mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencari sosok Jong Woon. Matanya berhenti bergerak ketika menemukan Jong Woon dengan Han Song Yi yang sedang duduk bersebelahan.

Seol berfikir sejenak, kemudian menepis fikiran itu. Kakinya kemudian melangkah mendekat ke arah Jong Woon dan Song Yi.

“Kau sudah dapat bukunya?” Tanya Jong Woon menatap Hong Seol.

“Hem, ini.” Hong Seol menunjukkan beberapa novel yang sudah ada di tangannya. Melihat itu Jong Woon mulai berdiri dari posisi duduknya, berjalan mendekat ke arah Hong Seol, dan sebelum mereka berdua pergi Jong Woon berpamitan kepada Han Song Yi.

“Kami pergi dulu, Nona Han. Oh iya kalau butuh tumpangan mobilku masih bisa menampungmu.” Lagi-lagi Jong Woon bercanda ke arah Han Song Yi jelas-jelas pria itu tahu Song Yi membawa mobilnya sendiri. Song Yi menggelengkan kepalanya menjawab usulan yang Jong Woon ucapkan barusan.

 “Baiklah, kami pergi dulu. Dah, Nona Han.” Jong Woon melambai ke arah Han Song Yi. Sambil pergi dari sana, Moe dan Song Yi saling berpandangan dalam diam mereka, tapi kemudian perhatian Seol teralihkan oleh Jong Woon. Song Yi masih melihat keduanya yang berjalan ke arah kasir, keduanya masih berpegangan tangan mesra seakan tidak ingin kehilangan satu sama lain. Setelah kepergian Jong Woon, Han Song Yi merasa ada yang hilang. Entah rasa apa itu Han Song Yi juga belum menyadarinya.

**********

*Next Day

Hong Seol sibuk dengan kegiatan memasaknya pagi ini. Memasak adalah salah satu hobinya. Kegiatan satu itu merupakan hal yang sangat Seol sukai. Rasanya ada sebuah rasa puas saat ia memasak, ada suatu kesenangan saat proses memasak itu terjadi. Dan ada satu senyuman tercipta dari seseorang ketika masakan itu dimakan oleh orang lain, dan pujian adalah nilai plus dari hasil memasaknya ini.

Pagi ini Seol dikejutkan oleh pria satu itu, tangan Jong Woon tiba-tiba melingkar di pinggang Seol, memeluk Seol dari arah belakang gadis itu. Jangan tanya bagaimana Jong Woon bisa sampai kemari. Pria itu sudah terbiasa datang ke rumah Seol, seluruh keluarga Seol mengenal siapa Jong Woon. Jadi saat pria itu ada di rumah ini dan berdua dengan gadis berwajah lembut itu tidak ada yang akan melarang atau terkejut dengan keduanya.

Seol tersenyum kecil menyadari tangan Jong Woon yang ada di pinggangnya.

“Kau menggangguku, Jong Woon.”

“Calon istri yang baik.” Bisik Jong Woon pada telinga Seol, bukannya menyingkir dari posisinya sekarang. Jong Woon justru menenggelamkan kepalanya ke arah bahu Seol. Menghirup dalam-dalam aroma gadis lembut itu.

“Manis.” Bisik Jong Woon lagi lagi.

Seol menjauhkan sedikit tubuhnya dari Jong Woon, berbalik lalu menggenggam tangan pria itu.

“Tolong berhenti, Jong Woon. Aku sedang memasak.” Mendengar perkaatn Seol, Jong Woon hanya menyipitkan matanya.

“Oh, iya. Siapa gadis itu?”

“Hem?” Tanya Jong Woon tak mengerti ke mana arah pembicaraan Seol.

“Gadis dengan tatapan dingin itu. Han Song Yi maksudku.”

“Ah dia, ha ha ha.” Jong Woon tidak dapat menahan tawanya ketika membayangkan wajah dingin Han Song Yi.

“Aku tidak sengaja bertatapan dengannya beberapa kali, padahal kami baru berkenalan, dan aku tidak tahu bagaimana aku merasa begitu dekat dengannya. Ah tunggu,” Jong Woon memberi jeda pada perkatannya, menatap dalam wajah lembut itu. Yang ada di fikiran Jong Woon kali ini adalah gadis lembutnya itu sedang cemburu, atau kalau tidak Moenya sedang was-was. Tidak pernah gadis lembut itu bertanya tentang teman wanitanya selama ini. Kecuali beberapa detik tadi.

“Kau cemburu, Moe?” Tanya Jong Woon di sela senyumannya.

“Tidak!” Seol menyembunyikan rona merah yang ada di pipinya.

“Katakan kau cemburu.” Jong Woon semakin gencar melihat rona merah itu.

“Baiklah aku mengaku. Aku cemburu dengan Han Song Yi. Saat melihatnya tatapanmu jadi berbeda. Puas?” 

“Kau tahukan gadis itu memiliki tatapan yang tidak biasa, orang lainpun akan menatap sama pada gadis itu jika di posisiku. Bukankah kau juga begitu.” Seol terdiam mendengar penuturan Jong Woon.

“Aku hanya ingin bersahabat dengannya, Moe. Tidak lebih. Karena hatiku hanya pada Moe sayangku.” Ucap Jong Woon sambil mengecup singkat pipi merona Moe.

“Jong Woon!” Seol membulatkan matanya menyadari apa yang dilakukan pria itu.

“Wae?” Tanya Jong Woon dengan tampang polosnya.

“Bagaimana jika Appa dan Eomma melihat? Aish.”

“Aku tidak peduli. Itu hanya ciuman pipi tidak lebih. Kau ingin lebih?”

“Yak!” Seol semakin membulatkan matanya mendengar penuturan Jong Woon.

************

Song Yi sedang duduk sambil memikirkan tentang Jong Woon di kepalanya, entahlah akhir-akhir ini Song Yi merasa diganggu oleh Jong Woon. Apalagi membayangkan perkataan Jong Woon tempo hari yang kata pria itu merasa dekat dengannya. Padahal di tahun ini mereka tidak cukup lama berkenalan.

‘Aish. Apa yang aku fikirkan’ Song Yi menggelengkan kepalanya ketika sekelibat bayangan Jong Woon saat tersenyum melintas di kepalanya. 

‘Kau sudah gila, Han Song Yi.’ Batin Song Yi sendiri.

Sementara dari kejauhan terlihat Yi Kyung mengerutkan keningnya melihat Han Song Yi. Gadis dingin itu duduk di depan televisi membuka lembaran novelnya sambil melamun entah kemana, tidak seperti Song Yi biasanya yang akan fokus saat membaca.

Yi Kyung mendekat ke arah adiknya sambil membawa setoples cemilan yang memang akan diberikan kepada Han Song Yi. Padahal tubuhnya sudah di dekat Han Song Yi duduk, tapi tampaknya gadis itu masih sibuk dengan lamunannya.

“Hei.” Yi Kyung menjentikkan kedua jarinya untuk menyadarkan Han Song Yi, gadis dingin itu tersadar dan kembali membaca novelnya.

“Kau melamun, adik ku sayang~” Yi Kyung menurunkan novel Song Yi, membuat sang adik melihat wajah Yi Kyung.

“Kau ada masalah?” Tanya Yi Kyung ingin mengetahui penyebab sang adik melamun seperti tadi, dan mendapat jawaban sebuah gelengan dari kepala Han Song Yi.

“Berceritalah kalau kau ada masalah, Nona Han.”

“Tidak ada, Eonni.”

“Kau tidak sedang jatuh cinta kan?” Tanya Yi Kyung yang mendapat tatapan dingin dari Han Song Yi.

“Ah .Kenapa tiba-tiba suhu menjadi dingin?” Tanya Yi Kyung sambil menelungkupkan kedua tangannya sambil berpura-pura sedang kedinginan.

***********

*Next Day

“Ayo akhir pekan ini kita pergi ke suatu tempat.” Bujuk Ara kepada Song Yi, mata gadis itu sudah berbinar seperti akan mendapat sebuah harta karun.

“Aku tidak mau.” Tolak Song Yi tegas. Pancaran mata Ara tadi tiba-tiba menghilang mendapat penolakan dari Han Song Yi, gadis itu mendekat lagi ke arah tempat tidur Song Yi.

“Ayolah Han?” Ara mengguncang-guncang tubuh Song Yi.

“Aku tidak mau, ya tidak mau. Berhenti memaksaku.” Ucap Song Yi mempertegas perkatannya. Gadis dingin itu tidak ingin seperti sebelum-sebelumnya ditinggal oleh Lee Ara. Song Yi mengingat sekelibat bayangan di masa yang sudah terlewat dengan hari yang sama yang diminta Ara itu, Song Yi ingat jelas saat itu juga dia lagi-lagi pulang sendiri dan Lee Ara berkencan dengan kekasihnya.

“Yah, baiklah aku juga tidak memaksa. Oh iya, Yi Kyung Eonni berbicara padaku kalau kau sering melamun akhir-akhir ini.”

“Tidak.” Jawab Song Yi mengelak.

“Kau bisa bercerita padaku, Nona Han.”

“Aku baik-baik saja, Lee Ara. Apa yang harus aku bicarakan denganmu?”

“Baiklah, kalau kau baik-baik saja.” 

Suara pesan dari I-phone Song Yi mengganggu obrolan keduanya, mata Song Yi dan Ara lurus memandang I-phone itu yang berada di atas nakas. Ara sedikit mengernyitkan keningnya ketika melihat itu. Setahu Ara pesan yang masuk dalam I-phone Song Yi kalau bukan dirinya, Ayah, ibu dan Yi Kyung kakaknya. Bagaimana mungkin ketiga orang  itu mengirimi pesan jika Song Yi saja ada di rumah. Bukan hanya sekali, pesan itu terus masuk seperti meneror Song Yi.

Gadis dingin itu hanya memandang i-phonennya tanpa bermaksud membalas ataupun sekedar membaca pesan itu, karena Song Yi yakin pesan itu berasal dari Kim Jong Woon siapa lagi kalau bukan pria itu yang menerornya seperti ini.

Nada pesan itu berhenti untuk beberapa detik, tidak ada pesan masuk lagi. Tapi tiba-tiba ganti dering panggilan masuk di sana. Song Yi masih diam tidak  menjawab panggilan itu.

“Kau tidak ingin menjawab, Han?” Tanya Ara penasaran.

“Tidak perlu. Hanya orang iseng.”

Panggilan itu berakhir, lalu deringan itu terdengar lagi. Ara yang tidak sabar segera mengambil i-phone Song Yi. Melihat sekilas nama Kim Jong Woon yang tertera di sana.

‘Kim Jong Woon.’ Batin Ara dalam hati.

“Yeoboseo.” Ara dengan lancang mengangkat panggilan itu.

“Hei.” Song Yi langsung merampas I-phonenya dari Lee Ara, ketika menyadari gadis cerewet itu dengan lancang menerima panggilannya.

“Astaga. Kenapa lama sekali mengangkatnya, Nona Han?” Suara Jong Woon terdengar dari seberang telefon Song Yi. Ara yang penasaran mendekatkan telinganya ke arah I-phone Song Yi, walaupun suara itu terdengar dengan volume kecil Ara masih dapat  mendengar suara Jong Woon.

‘Nona Han?’ lagi-lagi Ara dibuat mengernyit dengan situasi ini. Panggilan khusus itu juga menjadi panggilan pria yang bernama Kim Jong Woon itu.

“Kumohon, jangan menggangguku. Berhenti menghubungiku.” Dengan cepat Song Yi menutup begitu saja panggilan Jong Woon. Meletakkan dengan kasar begitu saja I-phonenya di dekitar dia duduk. Lee Ara yang dibuat penasaran semakin mendekatkan tubuhnya pada Han Song Yi. Menatap penuh harap pada gadis dingin itu.

“Apa?” Tanya Song Yi yang melihat ekspresi Lee Ara.

“Kim Jong Woon. Siapa dia?” Tanya Ara menginvestigasi Song Yi.

“Ceritakan padaku, siapa dia?” Tanya Ara semakin penasaran.

“Bukan siapa-siapa, Lee Ara.”

“Kalau kau mengatakan dia bukan siapa-siapa aku malah semakin penasaran, Nona Han.”

“Terserah saja dirimu, Ara.”

“Yak! Han.” Ara semakin geram dengan sifat Song Yi kali ini. Gadis dingin itu terlalu misterius kepadanya, padahal dia adalah sahabatnya sendiri.

“Padahal aku menceritakan semua tentang aku dan Kyuhyun selama ini. Kau tidak ingin menceritakan. Siapa Jong Woon?” Song Yi diam dan lebih memilih membaca novelnya dari pada mendengar ocehan dari Lee Ara.

“Apa dia yang membuatmu melamun akhir-akhir ini?” Tanya lagi Lee Ara.

“Dia kekasihmu?” Tanya Ara lagi dan mendapat tatapan dingin dari Song Yi.

“Ah, reaksimu membuktikan bahwa perkataanku benar. Baiklah aku akan mencari tahu sendiri siapa kekasihmu yang bernama Kim Jong Woon itu.”

“Dia bukan kekasihku.” Jawab Song Yi singkat.

“Lalu siapa dia? Seseorang yang kau taksir?” Tanya lagi Lee Ara.

“Shit, Lee Ara. Dia bukan kekasihku dan aku tidak tertarik padanya. Lagi pula dia juga mempunyai kekasih sekarang. Jangan berharap berlebihan, Ara.” Lee Ara melihat ada perubahan wajah dan intonasi suara saat Song Yi berbicara tentang Kim Jong Woon barusan. Biasanya gadis itu akan tenang dan memasang wajah dinginnya. Dan lihat apa yang terjadi sekarang dengan Han Song Yi.

“Baiklah, aku tidak bertanya itu lagi. Bagaimana kau mengenal Kim Jong Woon?”

“Kau ingat pria yang pernah menarikku saat aku bersamamu di universitasmu saat itu? Dia yang bernama Kim Jong Woon.”

“Ah pria itu. Lalu bagaimana kalian bisa dekat? Ah tidak aku bertanya bagaimana pria itu mempunyai nomor kontakmu?”

“Dia dengan lancang merampas I-phone ku saat di parkiran wahana taman bermain itu.”

“Taman bermain?” Lee Ara mulai tertarik dengan cerita Song Yi. 

Gadis dingin itu menyadari apa kesalahan dari perkataanya barusan. Lee Ara memancing pembicaraannya, gadis itu begitu ingin tahu siapa Kim Jong Woon. Harusnya Song Yi tidak masuk dalam jebakan percakapan Lee Ara barusan. Dan kalau Song Yi tidak mengatakannya dapat dipastikan Ara akan terus menerornya, bertanya terus dan mengganggu hidupnya.

“Setelah kau pergi dengan kekasihmu saat itu. Aku tidak sengaja bertemu dengannya dan kami berlajalan-jalan sebentar.”

“Ah, seperti itu.” Ara tersenyum mendengar cerita dari Song Yi barusan. 

“Menarik.” Ucap Ara nyaris berbisik hingga Song Yi tidak mendengar apa kata Ara.

**********

*Next Day

Ara keluar dari mobil Song Yi yang barusan mengantarnya, pandangannya tertuju pada dua orang yang berdiri tidak jauh darinya.

‘Bukankah pria itu yang dimaksud Song Yi?’ Ara melihat Jong Woon dan Seol yang berdiri tak jauh darinya, sementara Song Yi masih di dalam mobilnya tidak keluar sama sekali.

“Sepertinya benar kata Han Song Yi. Pria itu sudah memiliki kekasih.” Dari sudut mata Ara, gadis itu dapat melihat Jong Woon yang mencium kening Seol sekilas. Pandangan Ara menyipit melihat Hong Seol dengan Jong Woon.

“Ah, jadi kekasihnya Hong Seol.” Ara bergumam sendiri, dia kenal dengan kekasih Jong Woon. Ya, walaupun tidak begitu kenal, tapi setidaknya Ara tahu siapa Hong Seol. Beberapa menit kemudian Hong Seol pergi dari Jong Woon.

“Ada apa?” Tanya Song Yi yang tidak mendengar semua gumaman Ara.

“Ah, aku sepertinya pusing.” Ara berakting seolah dia akan pingsan. Membuat Song Yi panik dan keluar dari mobilnya, saat itu pula sudut mata Jong Woon menemukan dua gadis itu. Jong Woon tidak menyia-nyiakan hal itu. Pria itu berlari ke arah Ara dan Song Yi.

Ara kembali dengan kondisi normalnya.

“Kau tidak apa apa, Lee Ara?” Tanya Song Yi yang masih panik.

“Ah, mungkin karena panas ini Song Yi. Aku sedikit pusing, aku tidak apa apa, taraa.” Ara menunjukkan senyumnya, membuat Song Yi menyadari bahwa dirinya telah dipermainkan oleh Ara.

“Nona Han.” Sapa Jong Woon Jong Woon di dekat Song Yi.

“Ah kau pria yang waktu itu.” Ucap Ara berpura-pura mengingat.

“Ah maaf dulu aku meminjam temanmu.”

“Gadis ini bukan hanya sekedar teman untukku. Dia sahabatku.”

“Benarkah? Kenalkan aku sahabat barunya, Kim Jong Woon.”

“Ah. Kalau kau sahabatnya kita juga bisa bersahabat Kim Jong Woon. Aku Lee Ara, senang berkenalan dengan mu.” Ucap Ara tersenyum ke arah Kim Jong Woon. Sementara Song Yi yang berdiri di sana, merasa konyol dengan situasi ini. Keduanya sepertinya sangat cocok jika bersahabat. Song Yi menggelengkan kepalanya, gadis dingin itu ingin kembali ke dalam mobilnya dan segera pergi dari sana.

Lee Ara yang menyadari gelagat Han Song Yi, segera menggenggam lengan gadis itu, membuat Song Yi tetap berdiri di sana.

“Lepaskan, Lee Ara.” Ucap Song Yi berbisik.

“Oh iya, Han Song Y. Maaf jika panggilanku kemarin mengganggumu.” Ucap Jong Woon ke arah Song Yi.

“Jadi yang memanggil ke i-phone Song Yi kemarin dirimu, Jong Woon. Aku yang harusnya meminta maaf, saat itu aku bersama Song Yi. Aku menyuruh Song Yi menutup panggilan itu.” Song Yi membulatkan matanya tak percaya ke arah Ara yang telah sembarangan berbicara tentangnya kepada Kim Jong Woon. Situasi ini berbanding terbalik dengan apa yang sedang Song Yi fikirkan, gadis itu ingin menjauh dari Jong Woon, tapi karena ucapan Ara barusan membuat dirinya malah semakin dekat dengan Jong Woon.

‘Sialan, Lee Ara’ batin Song Yi dalam hati.

Lee Ara memandang Song Yi sekilas, dari sudut mata Ara dia bisa melihat ada pancaran yang berbeda dari Song Yi untuk Jong Woon, Ara yakin itu. Jika perkiraan Ara benar maka, hanya perlu waktulah untuk menebak jawaban dari situasi ini.

************

*4 Bulan kemudian

Song Yi berjalan cepat ke arah ruang salah satu Dosen penanggung jawab mahasiswa yang akan melakukan magang tahun ini. Sedari tadi Song Yi tidak habis fikir dengan pengumuman yang tercantum itu. Seingat Song Yi di tahun yang sama ini dirinya tidak akan magang di perusahaan yang akan menjadi tempat magangnya kali ini. Ada yang tidak beres maka dari itu Song Yi butuh penjelasan.

“Sonsaengnim. Bagaimana mungkin aku harus magang di perusahaan Saphire Group? Bukan kah aku kemarin meminta bukan di sana?” Song Yi berbicara tanpa berbasa basi.

“Maaf, Han Song Yi. Perusahaan itu meminta dirimu untuk magang di sana. Kau mempunyai potensi untuk magang di sana, Nona Han Song Yi.”

“Bisakah aku dipindahkan?”

“Ini keputusan Universitas dan tidak bisa di ganggu gugat lagi, Han Song Yi.”

“Tapi?”

“Ini keputusan mutlak kau harus menerimanya mau atau tidak mau, Han Song Yi.” Song Yi menatap tajam pada Dosen itu, gadis itu ingin menolak lagi dengan keputusan ini. Tapi sepertinya akan sia-sia, karena namanya tidak akan di hapus di sana. Dengan langkah kesalnya Song Yi keluar dari ruangan itu. Menendang apapun yang ada di sekitarnya.

“Shit, Kim Jong Woon.” Ucap Song Yi mengumpati pria itu. 

“Siapa yang bisa melakukan ini kalau bukan pria brengsek itu?” Lagi-lagi Song Yi berkata sendiri. Mengumpati Jong Woon.

“Kendalikan dirimu, Han Song Yi. Sia-sia kau marah di sini, karena ini tidak bisa di ganti. Kau di sana hanya magang ingat itu, ya cukup ingat itu”

***********

*Next Day

Hari ini adalah hari pertama magang Han Song Yi, bersama 5 teman dengan jurusan sama dengannya. Song Yi tampak rapi dengan balutan jas itu. Dia dan 5 temannya sedang berada di salah satu ruangan. Hingga nampaklah Ryeowook mendekat ke arah mereka.

“Kalian sudah di tempatkan di bagian penting dari perusahaan ini. Ini ada buku untuk kalian. Nama kalian sudah tercantum di buku-buku itu. Aku malas membacanya jadi tolong baca sendiri.” Ryeowook menyerahkan masing-masing buku itu pada peserta magang termasuk Han Song Yi.

Song Yi membaca sekilas buku itu, namanya tercantum di salah satu bagian periklanan. Walaupun sedikit berbeda dengan jurusan yang dia ambil tapi setidaknya Song Yi lega, dia tidak akan berdekatan dengan Jong Woon.

Rasa lega Song Yi tiba-tiba lenyap, saat sosok yang barusan ia batin muncul dari sudut ruangan itu, tersenyum sekilas kepada semua peserta magang termasuk Han Song Yi.

‘Sial sial sial.’ Umpat Song Yi dalam hati melihat Jong Woon yang semakin mendekat ke arahnya.

“Gadis ini.” Jong Woon menunjuk Song Yi.

“Tempatkan ruangannya tepat di sampingmu, dia akan membantu pekerjaanmu.”

“Apa sajangnim?” Ryeowook menatap tak percaya dengan keputusan Jong Woon barusan. Sementara Song Yi sudah memastikan pasti ini yang akan terjadi padanya, pria brengsek itu sedang mempermainkannya lagi. Kenapa dia tidak di tempatkan bersama peserta magang lain, kenapa harus membantu kinerja Ryeowook sang sekretaris apalagi kalau bukan Jong Woon yang meminta.

Semua peserta magang sudah pergi ke arah ruang kerja mereka masing-masing. Sementara Song Yi, Ryeowook dan Jong Woon masih berdiri di sana.

“Sajangnim kau ingin menyingkirkanku?” Tanya Ryeowook dengan sikap was-wasnya.

“Tidak mungkin Ryeowook. Gadis ini kenalanku, aku tahu dia bisa membantumu saat bekerja lebih baik dari pada siapapun.”

“Benarkah? Siapa nama mu, Nona?” Ryeowook menjabat tangan Song Yi, sebelum Song Yi menjawab pertanyaan Ryeowook, Jong Woon melepaskan jabatan tangan keduanya dengan tatapan kesal.

“Namanya Han Song Yi. Panggil saja Song Yi.” Ucap Jong Woon menjawab pertanyaan Ryeowook yang tertuju pada Han Song Yi.

“Aku pergi dulu. Tunjukkan saja ruangannya pada, Song Yi. Mengerti?” Perintah Jong Woon sebelum pria itu pergi dari sana.

“Astaga, kurasa sajangnim menggila. Kuharap kau bertahan dengan semua sikap anehnya, Nona Song Yi. Mari kita bekerja sama.” Ryeowook menyalami tangan Han Song Yi.

**********

“Tolong taruh ini di ruangan sajangnim, Nona Song Yi.” Ryeowook menyerahkan berkas penting pada Han Song Yi, Song Yi langsung berdiri dari tempatnya. Berjalan ke arah pintu ruangan Jong Woon.

“Sajangnim. Aku masuk.” Ijin Song Yi pelan. 

“Masuklah.” Jawab Jong Woon dari dalam.

Gadis itu masuk kedalam ruangan Jong Woon melihat betapa sibuk pria itu dengan beberapa berkas-berkas itu dari tangannya. Bahkan pria itu tidak menatap sama sekali seseorang yang masuk ke dalam ruangannya. Song Yi meletakkan berkas itu di meja Jong Woon, pria itu masih belum sadar bahwa yang masuk barusan adalah Han Song Yi. Karena Jong Woon masih mengira bahwa yang masuk adalah Ryeowook sang sekretaris.

Tapi kemudian kesadaran Jong Woon pulih, ketika matanya menemukan tangan Song Yi. Jong Woon sadar itu bukan tangan Ryeowook seperti biasanya. Jong Woon memandang ke wajah Song Yi.

“Ah itu kau, Nona Han. Hai.” Jong Woon tersenyum ke arah Song Yi. Sementara Song Yi mengabaikan senyum itu dan malah berbalik dari Jong Woon, ingin kembali ke ruangannya sendiri.

Jong Woon bangkit dari kursinya, dengan segera mengejar Song Yi sebelum mencapai pintu yang ada di ruangannya. Menghadang langkah Song Yi.

“Kau membenci bekerja di sini, Nona Han?”

“Maaf aku ingin kembali ke runganku, Sajangnim.” Song Yi berkata sopan ke arah Jong Woon.

“Ku harap kau betah bekerja di sini.”

“Dan kalau aku tidak betah. Apa aku bisa pergi dari perusahaanmu ini?” Tanya Song Yi menyindir Jong Woon.

“Kau akan tetap bekerja di sini.” Jong Woon menunjukkan senyum dengan deretan gigi putihnya di sana.

“Tolong menyingkir dari jalanku, Sajangnim.”

“Wah kau sudah tidak sopan dengan pimpinanmu.”

“Kalau begitu tolong bersikap sopan dengan bawahanmu juga, Sajangnim.” Song Yi menatap dingin Jong Woon, membuat Jong Woon reflek menyingkir dari jalan Song Yi. 

***********

*Next Day

Seol membawa bekal makanan untuk Kim Jong Woon. Gadis lembut itu sesekali memberi salam dengan menundukkan kepalanya kepada beberapa karyawan yang lewat di depannya. Semua karyawan Jong Woon sudah mengenal siapa Hong Seol. Apalagi dengan sikap lembut dan ramah Seol membuat semua orang yang ada di perusahaan Jong Woon menyukai dan mengagumi sosok Seol.

Seol memasuki lift menuju lantai tiga, dimana Jong Woon berada. Mata gadis itu sedikit memincing ketika sampai dulu di ruangan Ryewook sekedar untuk meminta ijin pada sekretaris Jong Woon itu. Kalau biasanya di ruangan ini Seol hanya menemukan sosok Ryeowook yang duduk di sana, tidak untuk kali ini. Mata lembut itu menemukan sosok Song Yi.

“Oh, Han Song Yi.” Song Yi mengangkat kepalanya, menatap seseorang yang memanggilkannya barusan. 

“Ah. Benar ini kau, Song Yi.” Seol tersenyum melihat gadis dingin itu.

“Kalian sudah saling mengenal?” Tanya Ryeowook ikut dalam ikutan obrolan mereka.

“Ya. Kami sudah saling mengenal, sekretaris Kim.”

“Ah Ya. Apa Jong Woon ada di ruangannya sekretaris Kim?” Tanya Seol selanjutnya.

“Ya. Dia ada diruangannya, Nona Hong. Silahkan langsung masuk saja.” Ucap Ryeowook tak kalah ramah terhadap Hong Seol. Sesaat sebelum Seol masuk ruangan Jong Woon, kedua gadis itu Hong Seol dan Han Song Yi saling menatap kembali seperti sebelumnya yang pernah mereka lakukan.

**********

“Kim Jong Woon.” Seol menyapa Jong Woon. Ketika gadis itu sudah sampai di dalam ruangan Jong Woon.

“Moe.” Jong Woon tersenyum, bangkit dari kursi kebesarannya dan segera memeluk Hong Seol. Rasanya seperti lama pria itu tidak melihat Hong Seol.

“Aku membawa bekal untukmu.” Seol menunjukkan bekal makan yang di bawanya. Meletakkan sekilas bekal itu di meja yang ada di ruangan Jong Woon. Jong Woon mengikuti langkah Seol duduk di samping sofa di dekat Seol duduk.

“Makanlah!” Ucap Seol membuka bekal buatannya.

“Suapi.” Ucap Jong Woon manja dengan Seol.

“Astaga, pria ini.” Seol menuruti perintah Jong Woon walaupun dengan bibir mengerucutnya, merasa Jong Woon sangat manja dengannya.

15 menit sudah berlangsung, dan Jong Woon sudah menyelesaikan makan siangnya. 

“Ikut aku.” Jong Woon menarik tangan Hong Seol ke arah meja kerjanya, menyingkirkan berkas-berkas itu ke arah meja lain yang ada di sana.

“Ada apa, Jong Woon?”

“Ssst~~ diamlah.” Ucap Jong Woon sedikit berbisik dengan intonasinya

Jong Woon mengangkat tubuh Hong Seol sehingga gadis itu duduk di atas meja kerjanya itu.

“Hei, apa yang kau lakukan?” Tanya Seol membulatkan matanya karena tak percaya dengan apa yang Jong Woon lakukan. Bukan hanya berhenti di sana, Jong Woon justru mengukung tubuh Hong Seol dengan tubuhnya. Tangan kanan dan kiri Jong Woon mengurung tubuh Seol, pria itu tersenyum menyeringai. Perlahan Jong Woon mendekatkan wajahnya pada wajah Seol. 

“Jong…Woon…apa..yang?” Tanya Seol gugup dengan kedekatan wajah Jong Woon dengan wajahnya.

“Diamlah Moe. Kau sebenarnya tahu apa yang sedang kulakukan.” Jong Woon tersenyum menyeringai lagi.

Tak lama kemudian bibir tipis pria itu bertemu dengan daun bibir Moe, Jong Woon menciumnya perlahan dan berlanjut melumat pelan bibir itu. Bahkan tangan Hong Seol kini sudah beralih ke arah leher Jong Woon. 

Sementara itu dari arah pintu Song Yi membuka pelan pintu itu, gadis dingin itu ingin memberikan berkas penting itu pada Jong Woon. Song Yi tidak menyadari bahwa waktunya tidak tepat saat masuk kali ini. Kedua makhluk yang berciuman itu bahkan tidak menyadari bahwa Song Yi ada di sana, mengamati keduanya dari jaraknya. Karena keduanya telah larut dalam ciuman panas itu.

Song Yi masih membeku di sana, gadis dingin itu hanya diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun pada keduanya. Entahlah rasanya ada yang aneh menjalar ke seluruh tubuh Han Song Yi. Song Yi tidak menyukai pemandangan yang tersaji di depannya saat ini. Entah itu rasa apa Song Yi juga tidak mengetahuinya. Ada sesuatu yang bergemuruh di dalam dadanya.

“Apa ini?” Ucap Song Yi memejamkan matanya. Mengatur sejenak deru nafas yang dari tadi semakin cepat melihat apa yang sedang Jong Woon dan Hong Seol lakukan. Mereka tidak melakukan kesalahan, bukankah itu adalah hal yang wajar bagi sepasang kekasih? Kenapa Song Yi kesal dan ingin marah melihat situasi ini.

Song Yi berjalan sepelan mungkin agar langkahnya tidak terdengar oleh Hong Seol dan juga Jong Woon. Perlahan tapi pasti Song Yi meninggalkan ruangan itu dengan hati kesalnya melihat apa yang Jong Woon dan Seol lakukan.

Song Yi berjalan ke arah kamar mandi wanita, membasuh air ke arah wajahnya dengan cepat. Gadis dingin itu berharap dengan melakukan itu fikiran panas dan tidak sukanya hilang dari sana. Apalagi perasaan sesak yang dari tadi memenuhi dadanya melihat itu.

“Ada apa denganmu Han Song Yi? Shit!” Song Yi mengumpati dirinya sendiri.

Gadis dingin itu membalikkan badannya, memunggungi kaca yang ia pakai barusan. Bukannya membuat hatinya semakin tenang malah mata dingin itu menemukan sosok Seol yang juga masuk ke dalam sana.

“Oh, Song Yi. Kau juga ada di sini?” Tanya Hong Seol lembut. Song Yi tidak menjawab pertanyaan Seol barusan, malah matanya menatap dingin kepada Hong Seol seolah benci. 

‘Apa yang kau lakukan Han Song Yi? Kau membenci gadis di depanmu ini? Gadis lembut ini tidak bersalah, Han Song Yi. Kalau kau membenci, harusnya kau membenci Jong Woon. Pasti pria brengsek itu yang memulai kegiatan tadi di ruangannya. Tunggu? Memang apa salah mereka? Tidak ada yang salah dengan sepasang kekasih ini Song Yi. Astaga kenapa dengan diriku?’ Song Yi bertanya dalam hati.

Song Yi pergi dari kamar mandi itu tanpa menjawab sama sekali sapaan Hong Seol yang tertuju padanya. Pandangan gadis itu juga masih dingin seperti tadi. Membuat Seol tidak memanggilnya lagi.

**********

*Next Day

Song Yi menuruti apa yang Ara inginkan, gadis dingin itu mengikuti Ara yang sedang sibuk berbelanja di dalam pusat perbelanjaan ini. Entah kaki kecil gadis cerewet itu terbuat dari apa, keduanya sudah berjalan-jalan cukup jauh tapi Ara tidak menunjukkan letih sekalipun.

Beberapa kali keduanya singgah dari satu toko ke toko lain, mulai dari butik, toko pakaian, toko sepatu, tas, dan make up. Saat melewati toko buku mata Song Yi benar-benar bersinar, gadis dingin itu seolah mendapatkan sebuah harta. Song Yi ingin menghentikan langkah Lee Ara, bermaksud mengajak gadis itu untuk ke sana, tapi Song Yi tahu pastinya dirinya akan mendapat sebuah penolakan dari Lee Ara.

“Lee Ara, kita sudah 2 jam berjalan-jalan di sini. Tidak bisakah kita pulang?” Song Yi mulai mengeluh dengan keadaannya, gadis dingin itu sedang berjalan tepat di belakang Lee Ara.

“Sebentar lagi, Han. Ada sesuatu yang ingin aku beli.” Ucap Ara.

“Ah, apa kita perlu makan dulu?” Ara tiba-tiba berbalik membuat Song Yi terkejut, jika saja gadis itu tidak memperhatikan baik-baik langkah Lee Ara dapat dipastikan tubuh Song Yi akan bertabrakan dengan Ara.

“Jangan berhenti tiba-tiba seperti itu, Ara.”

“Ah, maaf.” Ucap Ara di sertai senyum tanpa dosanya.

“Usulanmu tentang makan. Ayo lakukan! Aku juga sudah lapar.”

“Baiklah, kita cari tempatnya.” Ara bersemangat melangkah lagi di depan Han Song Yi. Lihat Song Yi bukan seperti teman yang sedang berjalan dengannya, melainkan seperti Body guard yang sedang mengikuti gadis itu dari belakang.

Tidak berapa lama kemudian Ara menghentikan lagi langkahnya.

“Bukankah itu Jong Woon dan Seol?” Tanya Ara saat matanya menemukan dua orang itu. Song Yi yang dari tadi fokus pada berjalannya, berhenti ketika mendengar nama Jong Woon di sebut-sebut oleh Ara. Perlahan penglihatannya mengikuti mata Ara, melihat kedua sejoli itu.

Dari tempat Song Yi dan Ara berdiri mereka dapat melihat Jong Woon dan Seol sedang ada di salah satu cafe sana. Dinding cafe itu terbuat dari kaca tembus pandang jadi siapapun yang berada baik di dalam ataupun di luar cafe itu dapat saling melihat. Song Yi dapat melihat Jong Woon yang tersenyum lebar sambil sesekali menyuapi makanan ke arah bibir Hong Seol. Tidak jauh berbeda Hong Seol seperti terlihat bahagia juga menyambut suapan dari tangan Jong Woon.

Song Yi membeku untuk beberapa saat melihat kejadian itu. Mata Song Yi melebar, tangannya saling menggenggam kuat, rasa marah dan sesak itu lagi-lagi datang ketika melihat keduanya.

“Apa mereka sedang bermesraan?”

“Wajarkan, Han? Mereka kan sepasang kekasih.”

 “Kenapa aku membenci saat mereka berdua seperti itu?” Ucap Song Yi tanpa sadar, dan berbalik begitu saja dari posisinya, berjalan cepat asal menjauh dari pandangan mata yang membuatnya ingin marah itu. Ara yang melihat perubahan Song Yi langsung mengejar gadis dingin itu, mensejajari Song Yi dan segera menghadang gadis dingin itu. Pernyataan Song Yi barusan membuat Ara berfikir sejenak, setelah sekian tahun bersahabat dengan Song Yi baru kali ini gadis dingin itu terlihat aneh melihat pasangan kekasih, padahal sebelumnya Song Yi tidak seperti ini. Ara membulatkan matanya ketika menemukan jawaban paling tepat dalam situasi ini. Tebakan Ara saat itu memang benar, dan sepertinya inilah jawabannya.

“Han Song Yi kau?” Pertanyaan Ara menggantung, sementara Song Yi masih diam di tempatnya.

“Kau jatuh cinta Han Song Yi.” Ucap Ara sesaat kemudian

“Apa?”

“Kau jatuh cinta dengan Jong Woon”

“Omong kosong macam apa itu?” Elak Song Yi dengan perkataan Ara barusan.

“Semakin kau mengelak. Semakin aku tahu bahwa kau memang mencintainya, Nona Han. Kau cemburu, itu salah satu bukti bahwa kau mencintai pria itu” Song Yi membeku di tempatnya ketika mendengar penuturan gadis itu tentang dirinya.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s