Posted in Fanfiction

Back In Time (Part 4)

​“Back In Time”

Part 4

*Start Reading

 “Aku tidak menginjinkamu pergi dari sini, Nona Es.”Jong Woon menarik tangan Song Yi.

Membuat tubuh gadis dingin itu mendekat ke arahnya. Song Yi terkejut dengan apa yang Jong Woon lakukan. Tidak seperti tadi yang hanya menarik dan mengajaknya berlari, kali ini keduanya tidak berlari. Jong Woon masih diam ditempatnya, tapi posisi mereka benar-benar sangat dekat. Hampir seperti orang berpelukan. Karena tidak ada jarak diantara keduanya. Jong Woon tersenyum bisa menjalihi Song Yi lagi kali ini, tapi senyum itu memudar menyadari bahwa dirinya dan Song Yi dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan Jong Woon dapat melihat mata dingin Song Yi dengan begitu jelas dengan jaraknya yang sedekat ini, dan Song Yi sedang membalas tatapan tajam Jong Woon yang sedang mengarah ke matanya.

Ada gejolak aneh yang terjadi pada diri Jong Woon dengan jarak Song Yi yang sedekat ini. Ada sesuatu yang membuatnya ingin berlama-lama dengan posisi seperti ini dengan Han Song Yi. 

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Hingga detik ke lima belas Jong Woon masih membiarkan posisi mereka seperti itu.

‘Ada apa denganmu Jong Woon? Kenapa kau jadi membeku seperti ini ketika berdekatan dengan gadis ini?’ Tanya Jong Woon dalam hati. 

Jong Woon menatap dalam-dalam mata dingin itu lagi. Saat kesadarannya pulih dengan segera Jong Woon melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan kanan Han Song Yi. Membuat gadis itu mengernyit tak mengerti.

“Ah. Mari kita bersenang-senang hari ini, Nona Es.” Jong Woon mencairkan suasana aneh barusan dengan tersenyum menampakkan dereta giginya yang putih dan lagi-lagi Jong Woon menarik Han Song Yi ke arah wahana yang ingin di naikinya

“Bagaimana kalau bianglala?” Tanya Jong Woon dan tak mendapat respon dari Han Song Yi, sementara Jong Woon masih menarik tangan Han Song Yi untuk mengikuti langkahnya.

Jika orang lain yang melihat mereka sekarang pasti sedang berfikir bahwa keduanya adalah sepasang kekasih. Bagaimana tidak? Jika Jong Woon dari tadi tidak melepas genggamannya sama sekali dari tangan Han Song Yi. Maksud Jong Woon agar Song Yi tidak kabur ke arah pintu keluar dari wahana bermain ini, tapi pandangan orang lain berbeda melihat keduanya jika seperti ini.

Dari tadi Jong Woon menarik Han Song Yi ke arah toko-toko acesoris, kedai-kedai makanan dan minuman untuk sekedar makan dan minum karena haus. Lalu berjalan-jalan mengelilingi sekitar wahana di area ini.

Tak jarang pula Jong Woon ingin membeli makanan ringan misal saja permen kapas, dan saat Song Yi berusaha kabur darinya Jong Woon menggenggam tangan gadis dingin itu lagi. Song Yi tidak tahu apa yang sedang dilakukannya di sini, membawa permen kapas? Tadi juga dirinya makan ice cream bersama Jong Woon. Mereka terlihat seperti berkencan bukan hanya sekedar jalan-jalan atau hanya menemani Jong Woon di sini.

“Kita akan menaiki itu.” Jong Woon menunjuk bianglala yang ingin ia naiki.

“Ayo!” Jong Woon menarik tangan Han Song Yi.

***********

Di dalam salah satu bianglala itu Song Yi duduk tepat di depan Jong Woon. Jong Woon tersenyum melihat pemandangan yang tampak kecil dari tempatnya duduk. menurut pria itu pemandangan di bawah tampak indah jika dilihat dari sana.

“Aku tahu pasti ada sesuatu di wajahku, sehingga kau selalu menatapku seperti ini.” Selama Jong Woon menatap pemandangan yang di bawah sana tadi. Jong Woon juga menyadari bahwa Han Song Yi dari tadi memang terus memandangnya. Jong Woon tidak mengalihkan penglihatannya dari pemandangan yang di bawah sana ketika berbicara dengan Song Yi barusan.

“Aku mengenal seseorang yang mirip denganmu.” Ucap Song Yi berteka teki dalam jawabannya.

“Benarkah? Seberapa mirip?” Jong Woon mulai tertarik dengan percakapan ini, kemudian beralih menatap Song Yi yang ada di depannya. Ganti Song Yi yang mengalihkan pandangannya dari tatapan Jong Woon. Gadis dingin itu lebih nyaman menatap pemandangan yang tersedia di sekitarnya, dari pada mendapat tatapan tajam mata Jong Woon itu.

“Entahlah. Hanya saja, kenalanku tidak pernah tersenyum sepertimu.”

“Yah payah! Bukankah kita hidup untuk dinikmati dan selalu tersenyum. Dia payah kalau tidak tersenyum.”

“Harusnya kau memberi tahu dirimu sendiri, cih.” Ucap Song Yi dengan senyum sinisya dan masih setia memandang yang ada di bawah sana.

“Jangan bilang itu dirimu, Nona Es?”

“Han Song Yi.” Ucap Song Yi meluruskan panggilan yang selalu Jong Woon ucapkan untuk memanggilnya.

“Oh, jadi nama mu Han Song Yi? Aku akan mengingatnya sekarang, Nona Han.” Song Yi langsung membulatkan matanya ketika panggilan ‘Nona Han’ itu terucap dari bibir Jong Woon. Selama ini yang memanggilnya dengan sebutan ‘Nona Han’ hanyalah keluarganya, Ayahnya, Ibu, Kakaknya dan satu lagi yang dekat dengan dirinya, Lee Ara. Hanya orang-orang itu yang memanggil dirinya Nona Han. Dan kali ini Jong Woon memanggilnya dengan nama itu.

“Aku akan memanggilmu seperti itu Nona Han hi hi.” Lagi-lagi Jong Woon menampakkan senyum dengan deretan gigi putihnya ketika Song Yi memandang dengan tatapan dingin.

*********

“Ternyata melelahkan ya, Nona Han. Padahal kita tadi bersenang-senang, bukan bekerja.” Jong Woon tersenyum. Keduanya sedang berjalan ke arah tempat parkir.

“Hari ini kau pulang naik apa?” Tanya Jong Woon.

“Mobilku.” Jawab Song Yi singkat.

“Boleh aku meminta kontakmu?” Tanya Jong Woon yang lagi-lagi pertanyaannya tidak mendapat jawaban sama sekali dari Song Yi. Song Yi tidak memperdulikan Jong Woon. Gadis itu terus berjalan ke arah mobilnya yang sedang terparkir, sementara Jong Woon masih diam-diam mengikuti langkah Song Yi.

Sampai di dekat mobilnya gadis dingin itu dapat melihat bayangan Jong Woon yang terpantul di kaca hitam mobil putihnya. Song Yi menaikkan alisnya, lalu perlahan berbalik. Melihat Jong Woon dengan tatapan tidak sukanya.

“Ada apa lagi?” Tanya Song Yi yang kali ini mengeluarkan suara terlebih dahulu kepada Jong Woon.

“Kontakmu.”

“Harus ku bilang berapa kali lagi Jong Woon.”

“Aku tetap di sini sampai kau memberi kontakmu.” Jong Woon melipat tangannya di depan dada, berlagak sombong di depan Han Song Yi. Tepat itu pula sebuah panggilan masuk di i-phone Song Yi.

“Ne Eonni.” Song Yi menjawab panggilan Yi Kyung.

“Ya, aku sebentar lagi akan segera pulang.” Ucap Song Yi lagi membalas pertanyaan Yi Kyung yang ada di seberang telefon sana.

“Hem” Song Yi masih menjawab panggilan itu. Sementara Jong Woon melirik sekilas ke arah Song Yi, dan tiba-tiba sebuah ide licik tercetak jelas di kepalanya.

“Ya.” Dan tak berapa lama kemudian Song Yi menutup panggilan itu. Sebelum Song Yi memasukkan lagi i-phonenya ke arah sakunya, Jong Woon segera merampas i-phone itu. Membuat Song Yi terkejut dengan perlakuan Jong Woon barusan.

Dengan cekatan Jong Woon memasukkan nomor kontaknya ke i-phone Song Yi dan memanggil nomornya melalui i-phone Song Yi tersebut.

“Yup berhasil!” Ucap Jong Woon senang mendapatkan kontak Song Yi barusan. Jong Woon ingin mengembalikan i-phone Song Yi, hingga tatapannya bertemu dengan tatapan horor dari Han Song Yi. Membuatnya berkecil hati bahkan sekedar untuk menatapnya sekilas.

Tanpa banyak bertanya Song Yi mengambil kasar i-phone itu dari tangan Jong Woon. Tanpa berpamitan pula Song Yi masuk ke dalam mobilnya. Menyalakannya dan pergi begitu saja dari pandangan Jong Woon.

Sementara Jong Woon masih di sana melihat mobil Song Yi yang semakin menghilang dari sudut matanya. Mengatur detak jantungnya yang berpacu dengan cepat melihat tatapan Song Yi yang semakin dingin barusan.

“Ya Tuhan. Apa itu barusan?”

“Ini bukan bencana kan?” Tanya Jong Woon sendiri sambil mengelus dadanya.

**********

Jong Woon tersenyum sendiri melihat hasil selcanya di wahana bermain tadi.

“Aku memang tampan.” Ucap Jong Woon sendiri memuji dirinya sendiri. Sebenarnya ada satu foto dari pada foto-foto lain yang membuatnya tersenyum hari ini. Saat dirinya mengambil selca dengan Song Yi yang tidak menyadarinya.

“Aku mendapatkanmu, Nona Han.” Ucap Jong Woon dalam artian adalah mendapatkan berfoto dengan Han Song Yi. Jong Woon membesarkan foto yang ada Han Song Yi tadi. Memperhatikan lebih teliti mata dingin Han Song Yi.

“Sialan! Mata dinginnya memang begitu indah.” Ucap Jong Woon menyadari bahwa mata Song Yi memang benar-benar indah. Dugaannya memang benar. Saat pertama kali ia bertemu dengan Han Song Yi dan dia langsung terpaku dengan mata dingin itu.

Jong Woon tidak mengalihkan ke foto lain, masih tetap setia menatap foto itu. Bola mata Jong Woon lebih membesar ketika melihat dengan teliti sudut wajah Song Yi dari gambar yang tadi diambilnya. 

Sebenarnya tidak ada wajah lembut yang menjadi tipenya pada gadis dingin itu, tapi entahlah Jong Woon seperti tersihir dengan wajah dingin itu.

“Tidak! apa yang sedang aku lakukan.” Jong Woon segera mengunci layar ponselnya. Membuat layar itu menjadi hitam. Tidak menampakkan lagi wajah Han Song Yi. 

************

Hal pertama yang Jong Woon lakukan pagi ini adalah mengganggu acara tidur Han Song Yi. Dari semalam Jong Woon tidak sabar menghubungi gadis itu setelah mendapatkan nomor kontaknya walaupun dalam tanda kutip ia dapatkan secara paksa.

Beberapa kali Jong Woon memanggil nomor Han Song Yi, lalu mematikannya lagi.  Memanggilnya lagi, mematikannya lagi, seperti itu sampai lima kali. Hingga panggilan ke 6, baru dua detik panggilan itu tersambung terdengar suara Han Song Yi dari seberang sana.

“Ada apa? Jangan menggangguku bodoh!” Suara Song Yi menggema di I-phone Jong Woon.

“Ah. Kau sigap sekali menjawab panggilan ini, Nona Han ha ha ha”

“Karena menggangguku bodoh!’

“Maaf, bisa kau ralat kata terakhirmu.”

“Aku ralat apa? Cerdas begitu?” Tanya Song Yi dengan nada mengejeknya.

“Ya, begitu lebih baik.” Ucap Jong Woon tersenyum sendiri mendengar suara khas Han Song Yi di telingannya.

“Hanya orang bodoh yang akan menuruti perkataanmu.”

“Dan kau salah satunya, Nona Han.” Ucap Jong Woon tak mau kalah dengan sindiran Han Song Yi.

“Maaf, aku tidak termasuk dalam kategori itu.”

“Kau sudah masuk, Nona Han.” Jong Woon masih tidak mau kalah dengan ucapan Han Song Yi. Sebenarnya Song Yi sudah bermaksud menutup panggilan itu dari tadi. Tapi entah mengapa gadis dingin lupa untuk menutupnya dan malah berdebat tidak jelas seperti anak kecil seperti ini dengan Jong Woon.

Song Yi melihat layar i-phone yang terdapat namanya Jong Woon di sana. Sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang sedang ia lakukan. Ini tidak seperti Han Song Yi. Biasanya gadis dingin itu akan mengabaikan segalanya, termasuk sekitarnya. Terlebih lagi Jong Woon seseorang yang pernah menyakitinya, dan ini apa?

“Kau tidak berbicara, Nona Han?” Tanya Jong Woon di seberang telefon sana.

“Hei, kau akan menutup panggilan ini?” Jong Woon terdengar was-was di seberang telefon sana.

“Awas kalau kau menutup panggilan ini.”

“Hei!”

‘Tut tut tut’

Jong Woon menghela nafas sejenak. Memandang layar i-phonenya yang tidak bersalah. Panggilannya di tutup begitu saja oleh Han Song Yi tanpa berkata apapun.

“Ya Tuhan. Gadis itu.” Jong Woon meletakkan kembali i-phonenya di atas nakas. Mengambil handuknya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk bersiap kerja pagi ini.

**********

“Jong Woon Hyung, kau banyak tersenyum pagi ini.” Ucap Jong Jin melihat Jong Woon berbeda dari hari-hari biasanya. Senyum Jong Woon pagi ini terlihat lebih bebas dari hari-hari kemarin saat Jong Jin melihatnya.

“Ah, benarkah?” Tanya Jong Woon dengan senyum lebarnya lagi.

“Nah, Ini yang membuatku merinding Hyung. Kau aneh.”

“Ya Tuhan. Bukankah aku memang banyak tersenyum, Jong Jin.”

“Senyum mu berbeda, Hyung.” Jong Jin memberi penekanan pada perkatannya. Rasanya perdebatannya pagi hari ini akan sia-sia dengan kakaknya. Apalagi kakaknya itu memang terkenal aneh. Jong Jin menggelengkan kepalanya melihat Jong Woon lagi.

“Apa?” Tanya Jong Woon

“Sudah! Kalian berdua makanlah.” Nyonya Kim menghardik kedua anaknya.

“Minggu ini kau ada jadwal, Jong Woon?” Tanya Tuan Kim ke arah Jong Woon.

“Tidak ada Appa. Wae?” Jawab Jong Woon dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.

“Bisakah kita pergi memancing minggu depan?”

“Tentu, Appa.”

*********

“Ash, Dosen killer itu bisa-bisa dia tidak memperbolehkan aku masuk ke kelasnya.” Ucap Ara panik sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangan kirinya.

“Terima kasih Han tumpangannya.” Ara berlari menjauh darinya dengan membawa tas sembarangan. 

Song Yi masuk lagi ke dalam mobilnya, lalu menemukan sesuatu yang tidak asing di sana.

“Aish, gadis itu? Ceroboh sekali!” Song Yi melihat i-phone Lee Ara yang tidak sengaja tertinggal di dalam mobilnya.

Perlahan tangan Song Yi terulur mengambil i-phone itu. Dia bukan gadis seperti Han Yi Kyung kakaknya yang jika dalam situasi ini malah menyembunyikan i-phone itu, dan membuat panik pemiliknya lalu dia akan tertawa terbahak-bahak melihat rencana jahilnya yang  tersusun secara sempurna itu telah berhasil dilaksanakan. 

Song Yi bermaksud memberikan i-phone itu pada Lee Ara. Gadis dingin tahu Ara tidak bisa hidup tanpa i-phonenya.

Song Yi berjalan menyusuri lorong-lorong ruang kelas di Universitas itu. Mencari sosok cerewet sahabatnya. Song Yi masih mencari sosok Lee Ara, hingga secara tidak sengaja Song Yi masuk ke dalam salah satu ruangan. Song Yi kira ruangan itu adalah ruangan Lee Ara berada. Tapi bukan Lee Ara di sana. Matanya menemukan hal yang menarik.

Ji Soo dan Mi Yeong terlihat sedang mendorong tubuh Hong Seol, sementara gadis yang biasa Jong Woon panggil dengan sebutan Moe itu hanya diam diperlakukan seperti itu oleh Ji Soo dan Mi Yeong. Hampir saja Seol terjatuh akibat dorongan kasar Ji Soo.

“Apa yang kalian lakukan?” Suara Song Yi memenuhi ruang kelas itu.

Ketiganya menoleh ke arah Song Yi.

“Siapa kau? Jangan sok jadi pahlawan kesiangan di sini. Jika kau tidak tahu apa permasalahan kami. Pergi dari sini!” Ji Soo berucap sinis ke arah Song Yi.

“Jauhi gadis itu.”

“Kau memerintah kami? Jauhi? Seperti ini?” Lagi-lagi Ji Soo mendorong tubuh Seol. Song Yi segera berlari ke arah Seol. Mendorong kasar kembali tubuh Ji Soo, membuat gadis itu jatuh tersungkur ke arah lantai.

“Yak! Sialan!” Ji Soo murka melihat dirinya dijatuhkan oleh Han Song Yi. Gadis dingin mengabaikan Ji Soo dan malah fokus kepada keadaan Hong Seol.

“Kau tidak apa-apa?”

Ji Soo yang tidak terima diabaikan oleh Han Song Yi bangkit dari jatuhnya. Secara tiba-tiba Ji Soo menarik rambut Song Yi.

“Tidak berkelas.” Song Yi yang menyadari rambutnya ditarik, langsung mencari celah. Menarik tubuh Ji Soo membuatnya terpanting ke depan dan jatuh lebih keras dari pada yang hanya dorongan tadi. Ganti Mi Yeong datang ke arah Song Yi, berusaha memukul gadis itu. Sebelum itu terjadi. Song Yi menarik tangan Mi Yeong, membuat gadis itu tidak berkutik karena tangannya yang berada di belakang punggungnya.

“Aku memperingatkan kalian!” Ucap Song Yi sambil mendorong keras Mi Yeong kedepan.

“Ouch!” ringis Mi Yeong merasakan sakit pada area sekitar tangannya. Menyadari situasi tidak menguntungkan bagi keduanya, Mi Yeong dan Ji Soo segera bangkit, cepat-cepat keluar dari kelas itu.

“Terima kasih.” Ucap lirih Hong Seol.

“Lawan mereka jika kau di situasi seperti tadi.” Hong Seol hanya diam mendengar suara dari Han Song Yi. Song Yi menatap wajah Hong Seol, begitu pula dengan Hong Seol. Keduanya saling membalas satu sama lain. Wajah lembut di depan Song Yi ini memang gadis yang cantik. Pantas Jong Woon menjadi dingin saat kehilangan gadis ini. Bahkan suaranya pun sangat lembut terdengar.

Song Yi berniat keluar dari kelas itu. Langkahnya sudah berada diambang kelas sana.

“Siapa namamu?” Tanya Seol sebelum Song Yi menghilang di balik pintu itu.

“Han Song Yi.” Ucap Song Yi sambil segera pergi dari sana.

**********

Pria berbadan atletis itu berdiri di samping mobilnya. Sambil sesekali melihat jam yang ada di pergelangan tangan kirinya. Senyumnya mengembang ketika melihat mobil putih yang tidak asing di matanya.

Song Yi keluar dari mobil putih itu. Matanya sedikit menyipit ketika menemukan pria itu ada di sana. Choi Siwon.

“Han Song Yi.” Panggil Siwon sambil melambai ke arah Han Song Yi.

Song Yi ingin mengabaikan pria itu seperti biasanya, tapi Siwon berjalan mensejajari langkah Song Yi. Tangannya Siwon terulur secara reflek untuk mengacak rambut Han Song Yi. Siwon dekat dengan Han Song Yi bahkan hampir terlihat seperti adik dan kakak. Tapi tidak bagi Siwon, pria itu mempunyai perasaan lebih pada Song Yi.

“Kapan kau tersenyum?” Ucap Siwon masih dengan kegiatan mengacak rambut gadis dingin itu.

“Berhenti melakukannya.” Song Yi memperingati Siwon, tak lupa tatapan matanya yang dingin sedang terpancar ke arah Siwon

“Baiklah-baiklah.” 

Song Yi berjalan ke arah kelasnya pagi ini, tanpa memperdulikan Siwon yang mengikuti langkahnya.

“Pulanglah Siwon. Aku tidak ingin melihat tatapan gadis-gadis di sini yang seakan-akan ingin menarik rambutku.”

“Ha ha ha ha. Mereka pernah melakukan itu padamu?”

“Belum pernah, tapi sebentar lagi mungkin akan terjadi padaku.” Tidak salah apa kata Song Yi tadi, beberapa teman kampus Song Yi kini menatap tajam ke arah Song Yi dan Siwon yang berjalan berduaan. Siwon yang tahu keadaannya menahan senyumnya dengan telapak tangannya. Pria itu tidak tahu bahwa dia selama ini menjadi incaran gadis-gadis teman Song Yi.

Gadis-gadis itu awalnya mengira Siwon dan Song Yi adalah sepasang kekasih, tapi Song Yi menjelaskan pada mereka bahwa dirinya dan Siwon hanyalah teman biasa. Melihat Siwon yang selalu menunggu Song Yi saat baru tiba di kampus dan saat gadis dingin itu pulang membuat beberapa gadis itu bertanya. Bisa saja Song Yi menipu mereka. Dan keduanya bukan hanya teman. Apalagi gadis-gadis yang terobsesi terhadap Siwon dan selalu mengawasi Song Yi, sama seperti hari ini.

Siapa yang tidak terpesona dengan ketampanan Siwon, pesona dan kharisma pria itu. Mungkin Song Yi lah satu-satunya gadis yang telah buta dengan keberadaan Siwon. Entahlah Song Yi dari dulu menganggap Siwon hanya teman dan sahabat sama seperti dia menganggap Ara. Apalagi sifat tegas Siwon yang kadang seperti Han Yi Kyung, membuat Song Yi nyaman dan kadang menganggap kakak laki-lakinya.

“Pulanglah, Choi Siwon.” Song Yi berbalik memberi tahu apa yang sedang ada di hatinya. Gadis dingin itu tidak tahan dengan tatapan gadis-gadis yang seolah ingin mengulitinya secara hidup-hidup. Bukan hanya satu atau dua orang tapi beberapa gadis melihatnya seperti itu.

“Lagi pula, sebentar lagi aku juga ada rapat.” Ucap Siwon mengelak dengan usiran Song Yi hari ini.

“Dah, Han Song Yi.” Siwon melambaikan tangan ke arah Han Song Yi.

**********

Jadwal Song Yi di hari minggu ini adalah ke toko buku, membeli novel yang masuk daftar list novel yang ingin dia baca, dari pagi Song Yi sudah bersiap-siap. Dan di sinilah dia sekarang. di toko buku langganannya. Sendirian tanpa Ara sahabatnya itu, karena Song Yi tahu Ara selalu merasa bosan jika diajak ke tempat seperti ini.

Hari ini Song Yi memakai hodie dengan bawahan celana jeansnya. Lihat bahkan dari pakainannya tidak ada kata feminim di sana. Song Yi berada di rak barisan kedua. Melihat-lihat sinopsis novel yang ada di belakang buku itu.

“Oh, Nona Han. Aku bertemu denganmu.” Suara yang tidak asing bagi Song Yi terdengar mengejutkannya. Song Yi menatap ke arah sumber suara itu, ada Jong Woon dengan Hong Seol di sampingnya. Keduanya tampak saling berpegangan erat satu sama lain.

“Oh!” Jong Woon sedikit salah tingkah. Kebiasaan pria itu jika berada di situasi seperti ini menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. Bagaimana Jong Woon tidak salah tingkah, jika Han Song Yi menatapnya dingin seperti itu. Ditambah tatapan Hong Seol yang seolah tak percaya dengan keadaan ini, lebih tepatnyaa bingung. Hong Seol tidak pernah tahu jika Jong Woon mengenal gadis di depannya ini.

“Ah Moe, ini Han Song Yi. Kenalan ku tidak lama ini.” Ucap Jong Woon sedikit ada ragu di sana, takut Moe nya cemburu melihat situasi ini. Ditambah Jong Woon yang tidak pernah bercerita tentang pertemuannya dengan Han Song Yi.

“Ah. Kau juga mengenal Han Song Yi, Jong Woon?” Tanya Seol lembut kepada Jong Woon. Membuat Jong Woon yang sekarang terkejut dengan situasinya. Jong Woon kira Moe akan marah, cemburu atau salah faham melihat situasi ini. Ternyata perkiraannya salah, Seol seolah bertanya bahwa gadis lembut itu juga mengenal Han Song Yi.

“Kau juga mengenalnya, Moe?”

“Dia gadis yang beberapa hari lalu membantuku?”

“Membantumu? Membantu apa?” Tanya Jong Woon ingin tahu.

“Rahasia, Jong Woon.” Ucap Seol dengan senyumnya. Selama Jong Woon dan Seol berdebat, Song Yi dari tadi sudah mengembalikan novel yang baru saja diambilnya kembali ke arah rak itu. Meninggalkan Jong Woon dan Seol berdua dengan asumsi mereka. Sementara Song Yi berjalan ke arah kursi yang di sediakan toko itu sebagai tempat membaca buku layaknya sebuah perpustakaan. Juga ada beberapa buku gratis yang boleh di baca pengunjung jika masuk toko itu. Song Yi mengambil salah satu novel yang di sediakan di sana. Membacanya sembari menunggu Jong Woon dan Seol pergi dari rak barisan kedua. Song Yi bermaksud memilih lagi novel yang ada di rak tersebut, setelah kedaunya pergi.

Sementara itu Jong Woon dan Seol baru saja menyadari bahwa Song Yi, seseorang yang menjadi topik pembicaraan mereka telah pergi dari sana. Membuat keduanya tertawa sendiri melihat situasi bodoh yang barusan mereka lakukan.

“Sepertinya gadis itu tipe yang tidak peduli dengan sekitarnya.”

“Aku rasa juga begitu.” Ucap Seol menyahut ucapan Jong Woon.

30 menit Song Yi duduk di kursi yang sama. Masih dengan kegiatan membacanya, kalau sudah dengan novel yang dia baca gadis itu selalu larut dan lupa dengan segalanya, seperti ini.

“Ah. Ternyata kau mempunya hobi membaca, Nona Han? Seperti Moe ku.” Ucap Jong Woon yang sudah berada di kursi tepat di samping Han Song Yi. membuat gadis dingin itu menghentikan aktivitas membacanya.

“Moe belum menemukan buku yang dia cari. Jadi aku duduk di sini, lelah.” Song Yi sudah bersiap-siap ingin pergi ke arah kursi lain, sebelum telinganya mendengar ocehan Jong Woon lebih banyak lagi di sana.

“Kau mau kemana? Tidak bisakah kau di sini?” Jong Woon menahan lengan Song Yi. Memaksa gadis dingin itu duduk lagi di kursinya. Song Yi menarik nafas panjang dan mengeluarkannya kembali secara perlahan. Seseorang yang sangat ingin Song Yi hindari malah menjadi seseorang sangat sering ia temui sekarang. Jong Woon menampakkan gigi putihnya lagi di depan Song Yi mencoba mencairkan suasana dengan senyum khasnya.

Mau tidak mau Song Yi duduk lagi di sana. Menuruti permintaan Jong Woon. 

“Ayo kita menjadi teman? Ah, tidak. Ayo kita menjadi sahabat. Entah rasanya aku ingin menjadi sahabatmu, Han Song Yi.”

“Kalau aku menolak?”

“Kita akan tetap bersahabat.” Ucap Jong Woon keras kepala.

“Terserah dirimu saja.” Ucap Song Yi malas berdebat dengan Jong Woon. Song Yi bermaksud kembali membaca halaman yang ia tunda barusan, tapi dengan tiba-tiba Jong Woon merampas novel yang ada di tangan Song Yi begitu saja.

“Aku juga ingin membacanya.” Ucap Jong Woon membaca halaman yang Song Yi tandai barusan.

“Sialan! itu novel bacaanku. Tidak bisakah kau mengambil sendiri novel itu?” Ucap Song Yi geram dengan perilaku Jong Woon.

“Tidak bisa.” Jawab Jong Woon tanpa memandang wajah Song Yi sama sekali. Pria itu sudah larut dengan novel yang sudah di bacanya. Song Yi mengalah, gadis dingin itu sebenarnya kesal dengan perlakuan Jong Woon. Dalam diam Song Yi memerhatikan Jong Woon yang sedang membaca itu. Mengamati dengan seksama lekuk wajah Jong Woon.

‘Apa ini sisi lain darinya? Sungguk kekanak-kanakan’ batin Song Yi. Melihat Jong Woon yang seperti ini mengingatkan Song Yi pada beberapa kejadian di sini. Sifat Jong Woon yang seratus delapan puluh derajat berbeda dengan yang ia ketahui, sifat jahil Jong Woon, sifat bersahabat Jong Woon, sangat berbeda dengan Jong Woon  dingin yang ia kenal selama ini. Sekelibat wajah dingin Jong Woon melintas di kepala Han Song Yi. Mengingat itu Song Yi jadi berfikir berulang kali, apa benar pria di sampingnya ini adalah pria sama yang ia kenal selama ini?

Song Yi melihat Jong Woon lagi, memastikan. Pria disampingnya ini memang Jong Woon itu, tidak ada Jong Woon yang lain apalagi kembaran Jong Woon. Entahlah Song Yi hanya merasa tidak percaya saja.

“Jong Woon!”

“Hem”

“Bagaimana kalau ku bilang aku berasal dari masa depan?”

“Ha ha ha. Jangan bercanda Song Yi mana ada hal seperti itu?” ucap Jong Woon tersenyum sambil matanya masih fokus pada Novel yang Jong Woon baca. Tidak menatap Song Yi sama sekali. 

“Bagaimana kalau ku bilang aku berasal dari 2 tahun lagi dari tahun sekarang. Percaya tidak percaya 1 tahun dari sekarang kita akan menikah! Di masa depan kau menikah dengan ku. Di masa depan kau hidup tapi seolah seperti mati karena sesuatu hal. Kau jarang tersenyum, dan di masa depan kita tidak bisa seperti ini, bersahabat? Kita bahkan seperti orang asing yang saling bermusuhan.” Jong Woon menatap tak percaya ke arah Song Yi, setelah mendengar apa yang diucapkan gadis dingin itu padanya. Keduanya saling menatap dalam diam. Jong Woon sedang berfikir gadis ini sedang bercanda atau serius dengan perkatannya. Jika ini bercanda, ekspresi Song Yi masih dingin seperti biasanya. Haruskah dia mempercayai perkataan gadis dingin ini? Jong Woon berfikir keras.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s