Posted in Fanfiction

Back In Time (Part 3)

Part 3 “Han Song Yi”

*Start Reading

Back In Time, 2013

Jong Woon yang tadi melihat ke arah Yi Kyung beralih ke arah Song Yi. Dalam keadaan Song Yi yang membeku membuat pandangan gadis itu terlihat semakin dingin. Dalam waktu seperkian detik Jong Woon dan Song Yi saling menatap satu sama lain. Hingga kesadaran Song Yi pulih saat ia melihat alis Jong Woon yang terangkat. Menandakan pria itu tidak mengerti dengan ekspresi Han Song Yi. Dengan cepat Song Yi mengalihkan pandangannya ke arah lain.

‘Hal ajaib apa yang terjadi padaku?’ Tanya Song Yi dalam hati sambil mengikuti langkah Yi Kyung yang menjauh dari mobil mereka untuk menemui Lee Ara. 

Song Yi ingat dia memang pernah mengalami kejadian ini. Jadi gadis dingin itu menyimpulkan keadaannya. Melewati lorong waktu, tapi kenapa dia ada di sini? Apa tujuanya datang kemari? Dan kenapa hanya dirinya yang melewati ini semua? Semua pertanyaan yang cukup mustahil muncul di kepala Han Song Yi.

“Eonni, ini tanggal?”

“15 Januari 2013, Han. Ada apa?” Tanya Yi Kyung menoleh ke arah Song Yi yang berjalan tepat di sampingnya.

“Ah iya, Ara ada di ruangan A12 113.” Setelah mengingat dimana letak gedung kesehatan yang ada di universita Lee Ara, Song Yi langsung melesat berlari menjauh dari Yi Kyung.

“Aku akan segera kembali, temui Ara dulu.”

“Hei kau mau kemana? Dari mana kau tahu Ara ada di sana?” Yi Kyung berteriak melihat Song Yi yang sudah berlari menjauh dari dirinya. Tanpa memperdulikan Song Yi yang entah pergi kemana, Yi Kyung mengikuti intruksi Song Yi menuju ke gedung A12 113. Siapa tahu Lee Ara memang berada di sana.

************

Song Yi sudah ada di atas tempat tidurnya. Menatap langit-langit kamarnya. Rasanya seperti sudah lama dia tidak tidur di kamar ini semenjak dia menikah dengan Jong Woon, Song Yi merindukan kamarnya ini. Ada sesuatu yang Song Yi tidak mengerti dan terima sebenarnya, tapi gadis itu lebih berfikir positif ada hikmahnya dia kembali ke tahun 2013 ini. Dia tidak akan menjalani pernikahan dengan Jong Woon lagi. Dia masih ada di kamarnya sendiri, dan tentunya dia bisa mencegah kebangkrutan yang nanti akan melanda perusahaan keluarganya.

“Aku tidak ingin menjalin hubungan denganmu lagi Jong Woon.” Ucap Song Yi sendiri malam ini. Song Yi berfikir lagi, mungkin saja hal ajaib ini terjadi padanya sebagai kesempatan kedua sebelum menikah dengan Jong Woon. Song Yi tidak menyalahkan pernikahannya dengan Jong Woon. Hanya saja dia tidak ingin berdekatan atau berhubungan dengan Jong Woon lagi.

Masih teringat jelas dalam ingatan Song Yi. Hari itu ketika Jong Woon menampar pipinya dengan keras. Mengingat itu ada rasa kecewa dan marah menjalar di seluruh fikiran dan hatinya. 

“Pria brengsek itu.”

Mengingat Jong Woon. Ia juga teringat akan siang hari ini. Saat ia menyuruh kakaknya menemui Lee Ara, sedangkan dirinya berlari ke arah koridor Universitas Lee Ara. Song Yi tadi hanya ingin memastikan apa Jong Woon juga mengalami hal ajaib itu juga. Apa pria itu juga melintasi waktu sama seperti dirinya.

Secara tidak sengaja saat ingin menemui Jong Woon, Song Yi melihat Jong Woon yang berada di depan salah satu kelas sedang mencium kening Hong Seol dengan hangatnya. Tak lupa sebuah senyuman kecil tercetak jelas dari bibir tipis pria itu. Song Yi yang tadi berdiri di dekat sana hanya mampu membeku melihat kejadian itu. Mungkin gadis dingin itu membeku melihat sifat Jong Woon yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan yang ia tahu selama ini.

Setelah melihat Hong Seol masuk kedalam kelasnya. Jong Woon menatap Song Yi yang berdiri tidak jauh darinya. Masih dengan tatapan dingin yang Jong Woon masih tidak mengerti. Jong Woon memincingkan penglihatannya ketika melihat Song Yi. Sedikit berfikir dan kemudian pergi dari sana.

Melihat apa reaksi Jong Woon siang tadi. Dapat dipastikan pria itu tidak melintasi waktu seperti apa yang terjadi padanya. Melihat Jong Woon yang tidak mengenalnya, Song Yi menyimpulkan hanya dirinya yang melintasi waktu ini. ‘Tidak apa-apa. Itu lebih baik’ fikir Song Yi.

“Lupakan semua yang sudah terjadi padamu, Han Song Yi. Tuhan sedang memberimu kesempatan kedua sekarang ini. Jadi mulai dari awal.” Kata Song Yi memotivasi dirinya sendiri.

**********

‘Jadi sekarang aku mengulang kuliahku lagi?’ Tanya Song Yi sendiri di dalam hati. Hah sepertinya dia memang harus melakukan itu. Song Yi bangun dari tempat tidurnya. Melihat kakaknya Yi Kyung yang sepertinya bersiap-siap untuk membangunkannya.

“Ah adik kecilku sudah bangun. Biasanya kau juga telat bangun, adik kecilku.”

“Berhenti memanggilku seperti itu, Eonni.”

“Baiklah. Eonni, mengerti adik kecilku. Cepat mandi dan kita sarapan pagi.” Ucap Yi Kyung dengan senyum yang mengembang di bibirnya, tidak lupa gadis itu menutup kembali pintu kamar Han Song Yi. 

Yi Kyung tahu sifat dingin Han Song Yi merupakan keturunan dari Ayah mereka, sementara sifat ramah Yi Kyung merupakan keturunan dari Ibu mereka. Satu hal yang sangat Yi Kyung sukai dari Song Yi, Yi Kyung suka sekali menjahili Han Song Yi. Apa lagi memanggil Song Yi dengan sebutan adik kecilku atau kalau tidak adik sayangku. Padahal Song Yi tidak menyukai sama sekali panggilan itu. Kalau masih kecil Song Yi mungkin akan diam dipanggil dengan sebutan itu, sementara dirinya sekarang sudah dewasa sekarang.

Sifat jahil Yi Kyung kepada Song Yi bukannya berkurang menginjak mereka dewasa, malah semakin menjadi-jadi. Entahlah Yi Kyung sangat gemas melihat ekspresi Song Yi yang selalu terlihat datar dan dingin itu. Jadi setiap hari ada satu kalau tidak dua rencana jahil yang ia persiapkan untuk  Han Song Yi. Yi Kyung ingin melihat gadis dingin itu kesal atau akan lebih baik tersenyum.

Song Yi duduk di atas tempat tidurnya. Mengingat kejadian ini di masa lalu. Kalau dulu ia lebih sering telat bangun pagi dan Yi Kyung lah yang selalu membangunkannya. Satu tahun hidup dengan Jong Woon kebiasaannya bangun telat itu menghilang. Ia lebih rajin bangun pagi untuk menyiapkan sarapan keduanya. Lalu sarapan berdua hanya dengan Jong Woon.

“Tidak-tidak. Apa yang kau fikirkan, Han Song Yi.” Song Yi menepis apa yang ada di kepalanya.

**********

Song Yi sudah duduk di meja makan, bersama Han Yi Kyung, Ayah dan juga Ibunya. Ada satu hal yang tidak pernah Song Yi sesali dari kejadian ajaib ini. Dia bisa berkumpul kembali dengan orang tuanya dan juga kakaknya. Entahlah setahun bersama Jong Woon dan jarang bertemu orang tuanya rasanya seperti sangat lama baginya kejadian itu.

“Ada apa, Han Song Yi?” Nyonya Han bertanya ke arah gadis dingin itu, ketika menyadari bahwa Han Song Yi hanya menatap makanan yang ada di depannya. terlebih lagi ia hanya mengedarkan pandangannya ke arah Han Yi Kyung, Ayahnya dan kembali ke arah Ibunya. Dan gadis dingin itu belum menyentuh makannya sama sekali.

“Aku merindukan suasana seperti ini, Eomma.” Jawab jujur Han Song Yi. Membuat Yi Kyung lagi-lagi berfikir aneh tentang adiknya.

“Kemarin, kau terbentur apa Nona Han? Kenapa dari kemarin kau bersikap aneh seperti ini, adik ku sayang.”

“Aku baik-baik saja.”

“Ah jangan pandangan dingin itu lagi. Aku bisa membeku sekarang.” Ucap Yi Kyung bercanda ke arah Han Song Yi. Membuat ibu mereka tersenyum mendengar candaan anak pertamanya itu.

“Bukankah hari ini jadwal kuliahmu siang hari, Han Song Yi?” Tanya Yi Kyung  ke arah Song Yi.

“Aku harus mengantarkan Lee Ara ke kampusnya.”

“Ah sekarang kau menjadi sopir sahabatmu itu? Baiklah semoga sukses dengan pekerjaan sampinganmu Han. Fighting!” Ucap Yi Kyung lagi-lagi tersenyum ke arah Song Yi. Bagi Yi Kyung menjahili Song Yi di pagi hari seperti ini ada rasa kepuasan tersendiri untuknya.

“Kalau bukan bibi Lee yang mengkhawatirkan keadaannya akibat pingsan kemarin, aku tidak akan pergi sekarang. Dan lagi tadi Bibi Lee yang langsung memintaku untuk mengantar Lee Ara.”

“Baiklah. Cukup aku mendengar isi hatimu pagimu ini, Han Song Yi. Eonni akan berangkat ke kantor.” Yi Kyung bangkit dari kursinya. Menghampiri Nyonya Han yang duduk di dekat Han Song Yi, mengecup pelan kening ibunya.

“Aku berangkat, Eomma.”

“Hati-hati Yi Kyung.” Jawab Nyonya Han ke arah Han Yi Kyung.

“Aku berangkat, adik ku sayang~~” Ganti Yi Kyung berpamitan ke arah Song Yi dan kemudian ganti berpamitan ke arah Ayahnya yang duduk di kursi utama ruang makan mereka.

**********

Jong Woon baru saja mengantar Hong Seol ke depan kelasnya lagi hari ini. Pria itu berjalan ke arah parkir di mana mobilnya berada. Jong Woon masih tersenyum seperti orang gila saat berjalan dari kelas Hong Seol sampai di tempat parkiran. Fikirannya melayang ke arah rencana ia akan mengajak Hong Seol ke wahana taman bermain.

Sementara tak jauh dari tempatnya berdiri Jong Woon melihat dua gadis itu, Lee Ara dan Han Song Yi di sana.

“Terima kasih, sudah mengantarku.” Ucap Ara dengan nada manjanya ke arah Han Song Yi.

“Mengganggu jadwal tidurku.”

“Ah, Nona Han yang baik hati~~”

“Lama-lama kau seperti Yi Kyung Eonni yang suka menggodaku, Lee Ara. Sudah aku ingin pulang lagi. Melanjutkan kegiatan tidurku.” Song Yi mengedarkan pandangannya ke arah sekitar sana. Melihat Jong Woon yang berdiri tidak jauh darinya.

“Kenapa dunia ini sempit sekali? Kenapa bertemu dengannya lagi?” Ucap Song Yi lirih.

“Siapa?” Tanya Ara ingin tahu.

“Bukan siapa-siapa.” Jawab Song Yi masuk lagi kedalam mobilnya dan langsung menyalakan mesin mobilnya dan melesat pergi jauh dari sana.

Sementara Jong Woon yang masih di sana sedang berfikir. Pria itu entah mengapa merasa penasaran dengan Han Song Yi. Mulai dari ia dan Song Yi berpaspasan di area parkiran hari itu, pandangan Song Yi yang melihatnya di depan kelas bersama Hong Seol. Dan hari ini Jong Woon melihat lagi gadis itu. Jong Woon berharap semua ini hanyalah sebuah kebetulan yang terjadi padanya.

**********

Lagi-lagi saat mengantar Hong Seol pagi ini Jong Woon tak sengaja bertemu Han Song Yi. Ini pertemuan ke empat mereka tanpa saling menyapa karena Jong Woon berfikir tidak mengenal Han Song Yi. Tapi lagi-lagi Jong Woon melihat mata dingin itu. Pandangan Jong Woon beralih ke arah jas yang sedang dipakainnya pagi ini. Apa mungkin ada yang tidak beres ketika ia memakai pakainnya. Kenapa gadis itu selalu menatapnya seolah benci.

Tidak ada yang salah. Jong Woon menggelengkan kepalanya. Bukankah ini ke empat kalinya mereka bertemu, Jong Woon sudah melewati edisi mendapat piring cantik itu. Dengan tak sabar Jong Woon mendekat ke arah Ara dan Song Yi berada. Jong Woon tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya yang dengan tiba-tiba mendekat ke arah dua gadis itu. Yang pasti dia butuh penjelasan dari gadis dengan tatapan dingin itu.

“Tunggu, Nona!” Jong Woon menghalangi langkah Song Yi dan juga Lee Ara. Song Yi memasang wajah datarnya mendapat sapaan dari Jong Woon, sementara Lee Ara gadis yang ada di samping Song Yi itu terkejut dengan situasi ini.

“Apa ada yang salah dengan wajahku? Kenapa kau menatapku seperti itu sejak kita bertemu?” Jong Woon berkata sambil menatap Song Yi, sementara Lee Ara yang mendengar pertanyaan dari Jong Woon barusan segera menoleh ke arah Song Yi yang ada di sampingnya.

“Kau mengenalnya?” Tanya Lee Ara, dan mendapat jawaban sebuah gelengan dari kepala Han Song Yi.

“Kita tidak saling mengenal, tapi aku butuh penjelasan. Maaf aku harus meminjam temanmu!” Jong Woon menarik tangan Song Yi. Membawa Song Yi berlari menjauh dari Lee Ara. Song Yi ingin berontak, tapi entah kenapa justru dia mengikuti langkah Jong Woon. Ikut berlari dengan pria itu.

“Lepaskan!” Song Yi menghempaskan tangan Jong Woon ketika keduanya berhenti.

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau membenciku?”

“Aku membencimu!”

“Alasannya?”

“Aku membencimu tanpa alasan! Apa tidak boleh?”

“Tidak logis! Bahkan kita tidak saling mengenal bagaimana tiba-tiba kau membenciku?”

“Tidak ada yang logis ketika seseorang membenci orang lain.”

“Baiklah. Aku tidak akan melarangmu  untuk membenciku, tapi sebelum kau membenciku. Mari kita berkenalan. Aku Kim Jong Woon.” Jong Woon mengulurkan tangannya di depan Song Yi. Bibir Jong Woon tersenyum dengan lebarnya, ciri khasnya selama ini. Beberapa menit Jong Woon mengulurkan tangannya, tapi tidak mendapat sambutan balasan sama sekali dari tangan Song Yi. Membuat Jong Woon mengalah dan menurunkan sendiri tangannya.

“Kau tidak ingin memberi tahu siapa nama mu?” Tanya Jong Woon lagi-lagi dan tak mendapat respon sama sekali dari Han Song Yi. 

Song Yi masih terdiam tak ingin menjawab sama sekali pertanyaan Jong Woon. Sekalipun itu hanya sekedar untuk memberi tahukan namanya. Di tahun 2015 atau di tahun ini Song Yi sudah berkomitmen tak ingin sama sekali berhubungan dengan Jong Woon. 

“Nona Es, aku akan memanggilmu seperti itu. Entah kau suka atau tidak. Deal Nona Es?” tanya Jong Woon lagi. Pria itu tahu Song Yi tak akan membalas semua pertanyaannya. Song Yi berbalik, bersiap-siap pergi dari Jong Woon. Sebelum gadis itu pergi lebih jauh Jong Woon mencengkeram pergelangan tangan kanan Song Yi. Membuat gadis dingin itu menoleh ke arah Jong Woon.

“Apa kau tahu? Sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Kenapa aku memandangmu lama di parkiran saat itu? Aku menyukai mata dinginmu, itu indah.” Ucap Jong Woon tanpa sadar dengan perkataannya. Entahlah Jong Woon tiba-tiba ingin mengatakan apa kejujuran yang ada di hatinya.

Keduanya membeku di tempat, ketika mendengar pernyataan Jong Woon barusan. Song Yi mencoba mencerna apa yang Jong Woon katakan, dan Jong Woon juga sedang berfikir apa yang terjadi pada dirinya? Kenapa tiba-tiba mengatakan hal itu? Sementara keduanya masih saling menatap satu sama lain dengan posisi Jong Woon menggenggam tangan kanan Han Song Yi.

“Ha ha ha ha.” Jong Woon tertawa lebar melihat  wajah membeku Han Song Yi. Ekspresi dingin dari Han Song Yi benar-benar semakin terlihat jika gadis dingin itu membeku seperti ini. Suasana alami itu mencairkan suasana canggung yang barusan terjadi diantara keduanya.

“Ekspresimu semakin lucu Nona Es, jika membeku seperti tadi. Ha ha ha ha aku baru melihat secara live es batu membeku ha ha ha.”

“Sialan!” Song Yi mengumpati Jong Woon yang sedang mentertawakannya. 

“Ah, akhirnya aku mendengar lagi suaramu Nona Es.” Ucap Jong Woon tersenyum, sambil perlahan melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan kanan Han Song Yi. Song Yi melangkah menjauh dari tubuh Jong Woon, dan ketika mendapat langkah ke delapan Song Yi berbalik melihat sekilas ke arah Jong Woon yang ternyata masih setia berdiri di sana sambil melambaikan tangan ke arahnya. Dengan cepat Song Yi berbalik dan melanjutkan langkahnya lagi.

Sementara Jong Woon masih berdiri di sana. Menatap punggung Song Yi yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangan matanya. Entahlah ada apa dengan dirinya hari ini. Padahal Jong Woon tidak mengenal sama sekali Han Song Yi, tapi ketika melihat tatapan dingin itu tertuju kepadanya membuatnya ada yang salah. Barusan ketika bersama gadis dingin itu dalam beberapa menit membuat Jong Woon merasa nyaman, membuat Jong Woon ingin berlama-lama dengannya. Apalagi kejujuran yang tadi tidak sengaja keluar dari bibirnya. Entahlah kenapa Jong Woon tiba-tiba mengatakan bahwa mata dingin Han Song Yi itu indah.

“Gadis unik!” Ucap Jong Woon lirih.

************

Lee Ara merasa bosan dengan kegiatannya. 30 menit dia di sana, bermain dengan games yang ada di i-phonennya, sementara Song Yi tengah sibuk dengan dengan novel yang tengah di bacanya. 

“Aku bosan.” Teriak Lee Ara, gadis itu mengedarkan pandangannya ke arah penjuru kamar Song Yi. Hanya ada deretan buku yang terletak di rak yang tersusun rapi di sana.

“Ini kamar atau perpustakaan?” Keluh Ara melihat kamar Song Yi yang sepanjang ruangan di penuhi buku-buku itu. Sudah berapa kali Ara datang kemari. Bukannya buku-buku itu semakin berkurang, Ara rasa Song Yi semakin menambah koleksi buku untuk ‘perpustakaan pribadinya’ Ara menamai kamar Song Yi dengan itu. 

“Ini lemari es.” Jawab Song Yi dingin.

“Maaf. Bercandamu tidak lucu, Nona Han.”

“Jelas-jelas kau tahu ini kamar Ra. Kenapa masih bertanya?”

“Oh iya.” Ara mengingat tujuannya datang ke rumah Han Song Yi.

“Han, ayo besok kita ke taman bermain.”

“Tidak mau.” Tolak Song Yi, mendengar penolakan dari sahabatnya Ara berjalan mendekat ke arah di mana Han Song Yi duduk. Perlahan Ara duduk di samping Han Song Yi.

“Ayolah Han kita ke sana. Kita kan lama tidak bersenang-senang.”

“Tidak mau.”

“Ayolah? Mau ya?”

“Mau kan?” Tanya sekali lagi Lee Ara.

“Ayo kita kesana Nona Han.” Lee Ara mengganggu kegiatan Song Yi yang sedang membaca novelnya.

“Baiklah-baiklah.” Song Yi risih dengan permintaan Ara dan akhirnya mengiyakan apa yang Ara minta.

“Yei.” Ara terlihat senang mendapat jawaban dari Han Song Yi, gadis cerewet itu berdiri lagi. Tiba-tiba dirinya merasa haus dan berjalan ke dapur untuk mengambil minum sendiri. Ara sudah terbiasa di rumah Han Song Yi. Bahkan gadis itu sudah tahu seluk-beluk ruang-ruang di rumah Song Yi. Gadis cerewet itu sudah mengganggap rumah Song Yi seperti rumahnya sendiri.

**********

Jong Woon sudah selesai dari pekerjaannnya malam ini. Entah mengapa ia merindukan Hong Seol. Sebelum dia pulang kerumahnya Jong Woon berniat mampir ke rumah Seol. Ya, disinilah pria itu sekarang. Jam 11 malam ada di depan rumah Seol, tanpa bermaksud masuk ke sana.

Jong Woon barusan mengirimi pesan Seol untuk keluar ke arah balkon kamarnya yang ada di lantai 2. Jong Woon melihat lagi kamar Seol, tadi lampu kamar itu terlihat sudah padam, dan sekarang ia melihat lampu di kamar itu menyala lagi.

Jong Woon tahu Seol pasti menyalakan lagi lampu kamarnya, dan tak lama kemudian keluarlah Seol dari kamar itu. Jong Woon mencari kontak Seol yang ada di I-phonennya dan segera memanggil nomor itu.

“Belum tidur?” Tanya Jong Woon dengan lembutnya.

“Aku harusnya memang sudah di alam mimpi jika tidak menerima pesan mu barusan ck” Hong Seol menatap Jong Woon yang sedang berdiri di dekat mobilnya

“Aku merindukanmu Moe.”

“Baru tadi pagi kita bertemu, Jong Woon.”

“Aku mencintaimu Moe.” Ucap Jong Woon di seberang telfon dengan Seol. Membuat detakan yang ada pada diri Seol tidak karuan mendengar penyataan pria itu.

“Aku juga mencintaimu Jong Woon.” Balas Hong Seol dengan nada yang nyaris tak kalah lembutnya dengan Jong Woon barusan.

Jong Woon mengangkat kedua tangannya membentuk love di sana. Disambut dengan senyuman Seol dari arah balkonnya, kemudian salah satu tangannya turun dan tangan yang masih terangkat tadi melambai ke arah Seol.

“Aku pulang. Mimpi indah Moe sayang~~”

“Mimpi indah juga Jong Woon.”

***********

Song Yi dan Lee Ara sudah berada di sekitar wahana taman bermain, Lee Ara menampakkan senyum manis setibanya di sana. 

Song Yi sedikit mengingat tentang kejadian ini. Apa yang terjadi saat dia dan Lee Ara sudah sampai di taman bermain ini? Perlahan sekelibat bayangan muncul di kepalanya. Song Yi mengingat bahwa setelah ini Ara akan berpamitan dengannya, dan meninggalkannya sendirian di tempatnya berdiri sekarang. Sebelum gadis itu mengutarakan keinginannya Song Yi bermaksud menghentikan Lee Ara, dia tidak ingin terjadi seperti sebelum-sebelumnya. Dia ditinggal sendirian dan akhirnya memutuskan untuk pulang, sementara Lee Ara bersenang-senang dengan kekasihnya Cho Kyuhyun itu.

Song Yi terlalu lama berfikir hingga,

“Song Yi, maafkan aku.” Ara mengantupkan kedua tanggannya di depan Song Yi.

“Hei, tidak aku tidak menginjinkamu.” Lee Ara membulatkan matanya, mengetahui bahwa Song Yi tahu ia akan meminta ijin padanya untuk meninggalkannya sendirian.

“Maafkan aku.” Ucap Ara sambil berlari menjauh dari Han Song Yi.

“Sialan.” Umpat Song Yi yang melihat Ara sudah lari jauh darinya. Harusnya dia tahu, harusnya dia ingat. Ara mengajaknya kemari hanya untuk menjadikannya sopir, selebihnya dia akan bersenang-senang dengan kekasihnya. Jika dulu adalah sebuah kesalahan Song Yi yang telah menuruti keinginan Lee Ara, maka untuk kali ini adalah sebuah kebodohan. Apa namanya jika ia terjebak di situasi yang sama dan keadaan yang sama jika bukan sebuah keboodohan.

Song Yi tidak ingin berjalan-jalan sendiri di area taman bermain ini, maka ia memutuskan seperti di masa lalu, dia akan pulang.

Sementara itu di tempat lain Jong Woon dan Hong Seol baru saja tiba di wisata taman bermain yang sama seperti yang di datangi Lee Ara dan Song Yi hari ini. Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan sepanjang keluar dari mobil tadi. 

“Moe kau ingin naik apa hem?” Tanya Jong Woon tentang wahana permainan apa yang ingin di naiki Hong Seol.

“Bagaimana kalau bianglala?” 

“Setuju.” jawab Jong Woon bersemangat dengan kencan mereka hari ini. Apalagi mengingat Jong Woon yang memang sudah lama tidak kemari. Terakhir dia kemari bersama Jong Jin dengan kedua orang tuanya, kalau tidak salah saat dia Senior High School. Setelah itu karena keluarganya banyak kesibukan masing-masing mereka tidak pernah kemari lagi.

I-phone Hong Seol berdering, dengan berat hati Seol mengangkat panggilan masuk di i-phonenya itu, sedikit menjauh dari Jong Woon sekedar untuk mengangkat panggilan itu. Seol menjawab panggilan itu sambil sesekali mengamati Jong Woon. Gadis lembut itu dapat melihat pancaran bahagia pria itu ketika Jong Woon sesekali mengamati keadaan di sekitarnya. 

Seol yakin Jong Woon memang sangat ingin ke tempat ini. Sementara panggilan ini, mengharuskannya untuk ke sana. Dan meninggalkan Jong Woon? Pasti pria itu akan kecewa nanti. Seol menutup panggilan penting itu dan perlahan berjalan mendekat ke arah Jong Woon.

“Sudah selesai panggilannya?” Tanya Jong Woon. 

Sekali lagi Jong Woon meraih tangan Seol. Menggenggamnya kembali seperti sebelumnya.

“Jong Woon.”

“Hem?”

“Sebenarnya?” ucap Hong Seol menggantung, membuat Jong Woon penasaran. Dan menghentikan langkah keduanya.

“Ada apa, Moe?” Jong Woon menatap dalam-dalam mata lembut yang ada di sampingnya itu. Ada pancaran khawatir dan panik di sana. Jong Woon tahu di saat seperti ini ada yang ingin Seol sampaikan padanya, tapi gadis lembut itu tidak bisa mengutarakannya.

“Katakan Moe!” 

“Sebenarnya aku ada pertemuan mendadak sekarang, dan itu sangat penting. Aku_”

“Perlu aku antar sekarang?” tanya Jong Woon memotong pembicaraan Hong Seol, pria itu tahu kemana arah pembicaraan mereka berdua kali ini.

“Tidak-tidak. Karena kau sangat ingin ketempat ini, aku ingin kau bersenang-senang hari ini. Walupun tanpa aku. Maafkan aku, Jong Woon. Tidak apa kan?”

“Aku akan mengantarmu.”

“Dasar keras kepala. Bukankah kau sangat ingin kemari? aku akan kembali menggunakan taksi. Kau bersenang-senanglah di sini priaku, mengerti?” Seol telah membuat Jong Woon melayang dengan sebutan sebagai ‘priaku’ terucap dari bibirnya.

“Aku pergi dulu, dah.” Seol menjauh dari tubuh Jong Woon. Meninggalkan pria itu sendirian di sana.

Jong Woon masih melihat Seol yang berlari terburu-buru menjauh darinya. Sebenarnya ada rasa kecewa yang hinggap di benaknya sekarang. Mana ada dia kencan tapi sendirian tanpa seorang kekasih. Ia berniat ingin pulang, tapi mengingat jadwal pekerjaannya yang padat. Apa dia akan menyia-nyiakan libur satu harinya yang berharga ini? rasanya Jong Woon harus membuang jauh-jauh niatnya untuk pulang. Tak apa sendirian, yang jelas dia sudah sampai di sini.

“Baiklah, bersenang-senang hari ini Jong Woon.” Teriak Jong Woon sambil mulai memasuki wahana taman bermain itu. Kaki panjangnya berjalan melewati beberapa toko-toko kecil yang ada di sana. Melihat beberapa keluarga yang datang kemari, juga ada beberapa sepasang kekasih yang saling bergandengan tangan melewati Jong Woon.

“Tidak apa Jong Woon-tidak apa.” Jong Woon memotivasi dirinya sendiri. 

“Sebentar.” Jong Woon berhenti sejenak. Mengingat sosok yang barusan ia lewati. Seorang gadis, seorang gadis dengan wajah dingin.

“Ahh!” Jong Woon mengingat sesuatu dan dengan segera dia berbalik, mencengkeram pergelangan tangan kiri gadis dingin itu. Membuat gadis itu menoleh secara reflek ke arah Jong Woon.

“Ah benar, ini kau Nona Es. Kita bertemu lagi, hai” Sapa Jong Woon dengan menampakkan senyum dengan deretan gigi putihnya.

“Lepaskan!” perintah Song Yi kepada Jong Woon.

“Oops maaf.” Jong Woon segera melepaskan genggamannya pada tangan Song Yi. 

“Ah, kau juga sendiri kemari?” Tanya Jong Woon pada Song Yi

“Bukan urusanmu.” Jawab Song Yi sambil kakinya melangkah ke arah gerbang pintu keluar wahana taman bermain ini, sementara Jong Woon setiap mengikuti Song Yi dari belakang gadis itu berjalan.

“Kau ingin pulang, Nona Es?” 

“Kau tidak ingin bersenang-senang di sini?” Tanya Jong Woon lagi, yang hasilnya nihil. Tidak ada jawaban sama sekali dari Han Song Yi.

“Astaga. Bagaimana bisa sedingin ini?” 

Mendapat respon yang sama, Song Yi masih dengan sikap tidak pedulinya. Dengan lancang Jong Woon menggenggam tangan Song Yi, membawa lari gadis itu menjauh dari pintu keluar wahana taman bermain ini.

“Maafkan aku, Nona Es. Aku meminjam dirimu hari ini. Temani aku. Oke” Ucap Jong Woon di sela kegiatan berlari mereka. Setelah merasa cukup jauh Jong Woon membawa lari Han Song Yi. Pria itu melepaskan genggamannya. Dan berhenti di sana.

“Hei.”

“Hei.” Tiru Jong Woon dengan ucapan Han Song Yi.

“Lancang sekali. Apa yang kau lakukan ha?”

“Lancang sekali. Apa yang kau lakukan ha?” lagi-lagi Jong Woon meniru perkatan Song Yi.

“Berhenti meniruku.”

“Berhenti meniruku.”

Jong Woon tersenyum melihat Song Yi yang tampaknya tidak menyukai acara jahilnya hari ini. Jong Woon menatap mata Song Yi yang terlihat semakin dingin tidak seperti tadi. Jong Woon yakin gadis itu akan marah sekarang. Padahal baru beberapa hari Jong Woon mengenal Song Yi, tapi rasanya dia begitu dekat dan nyaman dengan gadis ini. Apa lagi mata dingin yang menurutnya mempesona itu. Jong Woon melihat Song Yi berbalik. Pria itu tahu niatan Song Yi. Gadis dingin itu memang berniat kembali ke arah gerbang pintu keluar itu lagi.

“Aku tidak menginjinkamu pergi dari sini, Nona Es.”Jong Woon menarik tangan Song Yi. Membuat tubuh gadis dingin itu mendekat ke arahnya. Song Yi terkejut dengan apa yang Jong Woon lakukan. Tidak seperti tadi yang hanya menarik dan mengajaknya berlari. Kali ini keduanya hanya mematung. Jong Woon masih diam ditempatnya, tapi posisi mereka benar-benar sangat dekat. Hampir seperti orang berpelukan, karena tidak ada jarak diantara keduanya. Jong Woon tersenyum bisa menjalihi Song Yi lagi kali ini, tapi senyum itu memudar menyadari bahwa dirinya dan Song Yi dengan jarak yang begitu dekat, bahkan Jong Woon dapat melihat mata dingin Song Yi dengan begitu jelas dengan jarak sedekat ini. Begitu pula gadis dingin itu, yang sedang membalas tatapan tajam Jong Woon yang  mengarah ke matanya.

Ada gejolak aneh yang terjadi pada diri Jong Woon dengan jarak Song Yi yang sedekat ini. Ada sesuatu yang membuatnya ingin berlama-lama dengan posisi seperti ini dengan Han Song Yi, 

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Hingga detik ke lima belas Jong Woon masih membiarkan posisi mereka seperti itu.

‘Ada apa denganmu Jong Woon? Kenapa kau jadi membeku seperti ini ketika berdekatan dengan gadis ini?’ Tanya Jong Woon dalam hati.

TBC

“Thanks buat siapapun yang nyempetin baca ff ku yang jauh dari kata sempurna, apalagi banyak EYD yang belum bener, susunan kata yang salah dan tanda baca yang gak tepat. Saya masih belajar. Semoga ff ini menghibur walaupun banyak kekurangan sana sini. Dan bikin mata kalian perih perih bacanya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s