Posted in Fanfiction

Back In Time (Part 2)

​“Back In Time”

Part 2 “Kim Jong Woon, Han Song Yi”

“sebelumnya Part 2 ini membosankan, kaya sinetron enggak to the point, bikin pusing. Aslinya pengen cepet-cepet ke scene yang aku pengen, yang bikin greget. Tapi ku fikir part ini perlu sebelum menjelaskan part selanjutnya. Ini part banyak bersitegangnya, saya ngetik tekanan batin, karena sebenarnya gak pengen ngetik ini.kalau di ilangin entar jadi gak nyambung, di ketik bikin tekanan batin. Ini part gak di baca gak papa, tunggu aja part selanjutnya aja, soalnya part selanjutnya baru ada hal-hal manis-manisnya. Di sini gak ada sama sekali.trus karena saking pengen cepet nylesein part ini banyak susunan kata yang rancu banget gak teratur, udah mau saya edit. Tapi tetep aja gak pas. Pokok yang saya ketik nunjukin intinya, tapi bingung gimana nulisnya jadi gini. Thanks udah baca curhatan sekilasku. Gak usah di baca ini part buat nambah biar partnya kelihatan lebih banyak wkwkwkwk~~ entar langsung baca part 3 aja nyambung kok nanti bacanya”

*Start Reading

* Flasback on

4 Oktober 2014

Jong Woon melirik sekilas ke arah jam tangan yang ada dipergelangan tangan kirinya.

“Kita masih ada watu 30 menit sebelum upacara pernikahan itu dimulai, jika kau tidak setuju larilah. Aku membebaskanmu.’’ Ucap Jong Woon dengan santai tanpa ada beban apapun disana. Dari sorot mata itu Song Yi juga tahu, bukan hanya dirinya yang tidak menyukai pernikahan ini, tapi juga calon suami yang dalam beberapa menit lagi akan menjadi suami sahnya.

Perkataan Jong Woon memang benar ia harusnya lari dari pernikahan ini jika ia tidak menyukainya. Tapi bukan karena rasa nyaman atau tidak nyaman, suka atau tidak suka, dia mau ataupun tidak mau. Tapi demi perusahaan ayahnya. Ya! Hanya satu itu tujuannya.

“Kau tidak bisa melakukannya? Atau perlu aku yang melakukannya?” Jong Woon bersuara lagi, ketika telinganya tidak mendengar jawaban yang ia inginkan dari gadis di depannya.

Bukan Song Yi tidak mau menjawab pertanyaan Jong Woon, hanya saja sejak awal dia memang sudah memantapkan hatinya untuk hal ini. Sekalipun hatinya tidak mau, Song Yi akan tetap melakukannya.

“Aku tidak akan lari kemanapun. Kalau ingin lari, silahkan lari Tuan Kim!” Ganti Song Yi yang menantang Jong Woon. Jong Woon tersenyum sinis di depan Han Song Yi. Sementara Song Yi sedang berfikir, apa yang sedang difikirkan pria di depannya ini?

“Ada yang lucu dari perkataanku Tuan Kim?” tanya Song Yi dengan wajah datarnya.

“Tidak ada nona. Hanya saja aku sedang berfikir sekalipun itu bukan dirimu, aku yakin gadis lainpun juga tidak akan menolak pernikahan ini. Siapa yang akan menolak Jong Woon? Siapa yang akan menolak anak dari perusahaan Shapire Group? Uang kan? Aku yakin itu tujuannya apalagi kalau bukan?” Jong Woon tersenyum di sela pembicaraaannya dengan Han Song Yi.

Han Song Yi menggenggam kuat-kuat jari-jari tangannya. Mendengar apa yang dikatakan Jong Woon rasanya ia ingin marah. Dia tidak akan menyalahkan Jong Woon, tidak juga dengan mulut pria itu yang dengan lancang berbicara.

“Ku kira kau tidak akan tahu Tuan Kim? Ku kira kau hanya pria polos di luar sana. Aku akan mengembalikan uangmu suatu hari nanti.”

“Cih! Kau dijual oleh orang tuamu demi perusahaanmu Nona, kau tahu itu?”

“Aku tahu memang kenapa? Jika anda tidak setuju dengan pernikahan ini. Pergilah Tuan Kim, aku membebaskanmu. Karena jujur aku tidak suka berdebat di saat seperti ini.”

“Baiklah kalau itu maumu. Jangan pernah menyesali apa keputusanmu hari ini Nona!”

Jong Woon berbalik dan mulai menjauh dari Han Song Yi. Dalam hatinya Jong Woon sangat membenci pernikahan ini. Jong Woon tidak bermaksud menikah apalagi berhubungan dengan gadis manapun setelah Seol pergi meninggalkannya. Sementara ayahnya adalah seorang yang keras ia tidak mungkin menolak pernikahan ini. 

Tadi sebelum berangkat ke tempat ini Jong Woon berharap pengantinnya tidak akan menyetujui pernikahan ini. Nyatanya semua perkiraan Jong Woon salah, gadis itu malah bersikukuh dengan pernikahan ini.

* Flasback off

November 2015

“Aku tidak butuh permintaan maaf mu.” Wajah Song Yi terlihat semakin dingin. Dibalas dengan tatapan tajam Jong Woon yang tak kalah dingin dari pada gadis itu.

Jong Woon berfikir sejenak, untuk apa ia meminta maaf pada gadis di depannya ini. Toh dia juga tidak mempunyai salah, tidak pada keluarganya, tidak juga pada gadis yang ada di depannya ini.  

“Aku tarik permintaan maafku.” Ucap Jong Woon dengan nada sinisnya. Dibalas Song Yi dengan senyum dinginnya. Jong Woon tahu itu bukan senyuman tulus yang tertuju padanya, lebih tepatnya itu senyuman mengejek dirinya.

Baiklah Jong Woon tidak ingin lama-lama dengan gadis dingin ini. Maka dari itu Jong Woon segera berlalu dari hadapan Han Song Yi. Berjalan menuju pintu rumah mereka dan segera pergi dengan mobilnya.

***********

Selain Lee Ara gadis cerewet yang sanggup bertahan dengan Han Song Yi, Siwon lah satu-satunya teman pria yang bertahan berteman dengannya selama ini. Sifat tegas dan serius Siwon yang seperti sifat kakaknya Han Yi Kyung membuat Song Yi nyaman berteman dengan Siwon.

“Kami akan mempertimbangkan proposal ajuan perusahaan kalian.” Ucap Siwon kepada Song Yi perwakilan dari perusahaan Daesang Group.

“Ah terima kasih kau mempertimbangkan Proposal kami kali ini.”

“Karena menurutku proposal ini menarik.” Siwon mengangkat kepalanya. Menatap wajah Song Yi yang sedang fokus membaca beberapa kertas yang tengah ia bawa. Siwon tahu Song Yi memang tidak bisa tersenyum selama ini. Gadis itu memang terkenal dengan dingin, tapi tidak untuk kali ini ada yang berbeda dari sifat dingin Song Yi sekarang menurut Siwon. Ada sesuatu yang Song Yi sembunyikan.

“Kau mencintai Kim Jong Woon, Han Song Yi?” Pertanyaan sama yang Siwon ajukan selama setahun ini kepada Han Song Yi. Song Yi menatap wajah Siwon perlahan. Menyandarkan tubuhnya pada sofa yang ia duduki dan menarik nafas dalam-dalam. Song Yi tahu selama ini Siwon tertarik padanya. Dan Song Yi memang dari awal tidak mempunyai perasaan terhadap Siwon.

“Kalau kau tidak bahagia dengannya. Datang lah ke arahku, Han Song Yi.” Pernyataan sama yang Song Yi dengar dari bibir Siwon juga selama setahun ini pula. Jujur saja Song Yi memang merasa nyaman berada di dekat Siwon. Tapi bukan ini yang Song Yi inginkan. Pergi dari Jong Woon dan berlari ke arah Siwon. Itu sama saja rasanya, jika tidak ada rasa cinta dirinya pada kedua pria itu. Selamanya Song Yi akan merasa seperti ini. Tidak nyaman di dekat Jong Woon atau merasa bersalah jika lari ke arah Siwon, walaupun pria itu membuatnya nyaman selama ini.

“Bukankah pernikahanmu hanya untuk menyelamatkan perusahaan Ayahmu, Song Yi?”

“Aku tahu itu.”

“Harusnya kalian bisa bercerai sekarang?”

“Aku memang akan bercerai dengannya dalam waktu dekat ini.” Song Yi dapat melihat pancaran bahagia itu dari mata Siwon. Sepertinya benar dugaan Song Yi, Siwon masih mengharapkannya selama ini.

“Aku memang akan bercerai dengannya Siwon, tapi tidak juga lari ke arahmu setelahnya.”

“Kenapa? Kau tidak mencintaiku?” tanya Siwon menatap dalam-dalam mata Han Song Yi.

“Kau akan mendapat jawaban sama dariku.”

Siwon menyandarkan tubuhnya ke sofa. Sudah berapa kali ia di tolak oleh Han Song Yi. Tapi Siwon selalu berfikir bahwa Song Yi akan bahagia dengannya. 

“Tidak bisakah kau mempertimbangkan diriku, Song Yi?” Song Yi melipat kedua tangan di depan dadanya. Menatap Siwon dengan mata dinginnya. Siwon membalas tatapan dingin Han Song Yi itu. Ada sebuah harapan yang selalu Siwon inginkan dari gadis di depannya, walaupun Siwon tahu kemungkinan kecil di terima oleh Han Song Yi merupakan sebuah kemustahilan baginya.

“Aku menolak!” ucap Song Yi to the point. Gadis itu memang tidak suka berbasa basi, berbelit-belit apalagi memberikan sebuah harapan yang dimana ia tidak bisa memberikannya. Lebih baik Song Yi berkata tegas dari pada di ujung Siwon sakit hati karenanya.

Raut wajah Siwon berubah terlihat kecewa untuk sesaat setelah mendengar jawaban dari Han Song Yi, tapi kemudian pria itu pura-pura tersenyum kecil dan memasang wajah tegasnya lagi.

************

Jong Woon sedang berada di balkon kamarnya, malam ini ia tidak lembur seperti biasanya. Dari tadi mata Jong Woon fokus melihat ke arah bintang-bintang yang ada di langit sana. Berharap salah satu bintang itu merupakan jelmaan Hong Seol yang menemaninya selama ini setelah gadis itu pergi.

Mata Jong Woon teralihkan ke arah mobil yang menepi di dekat rumahnya. Alis Jong Woon terangkat melihat apa yang tersaji di depannya. Song Yi keluar dari mobil itu bersama seorang pria. Jong Woon tahu siapa pria itu, Choi Siwon salah satu mitra kerjanya.

Sebelum Siwon masuk lagi ke dalam mobil mata Jong Woon dapat melihat dari tempatnya bahwa Siwon tengah tersenyum ke arah Song Yi, tapi tidak di balas oleh Song Yi. 5 menit sebelum Siwon masuk lagi kedalam mobilnya. Pria itu sempat berbicara dengan Han Song Yi, dan entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas dari tempatnya Jong Woon tidak dapat mendengar percakapan itu. Tidak lama kemudian siwon segera masuk ke dalam mobil lagi dan melesat pergi dari sana.

Jong Woon tidak ambil pusing, toh itu urusan pribadi Han Song Yi. Selama ini mereka berdua tidak peduli soal pribadi. Hubungan asmara ataupun yang berkaitan satu sama lain. Song Yi membuka gerbang pintu rumah mereka. Sesaat setelah langkahnya masuk Song Yi mendongak sekilas ke arah Jong Woon yang tengah mendangnya dari balkon kamarnya. Jong Woon yang mendapat tatapan Han Song Yi langsung mengalihkan pandangannya dan melangkah pergi kedalam kamarnya.

Jong Woon melangkah pelan ke arah tempat tidurnya. Menghempasakan tubuhnya di tempat tidur dan mengambil perlahan sebuah foto yang ada di meja yang ada di dekatnya. Foto dirinya dan juga Hong Seol. Foto tersenyum mereka berdua. Jong Woon merasa ada yang kurang selama ini semenjak Seol meninggalkannya. Ada yang kosong di hatinya.

Perlahan Jong Woon membawa foto itu kedalam dekapannya. Membayangkan bahwa sekarang ini yang dia peluk adalah Hong Seol. Jong Woon merindukan gadis itu, merindukan suara itu, dan merindukan sosok itu. Dibalik wajah dinginnya selama ini sebenarnya Jong Woon menyimpan rasa kehilangan itu sangat dalam.

“Aku merindukanmu Seol.” Ucap Jong Woon samar-samar malam itu.

“Andai aku bisa mengulang waktu. Andai aku bisa kembali ke waktu itu. Aku tidak akan menyia-nyiakanmu.” Lolos sudah air mata yang Jong Woon tahan dari tadi.

Tubuh Jong Woon bergetar. Setiap malam saat pria itu merindukan Seol hal inilah yang dilakukannya, memeluk foto Seol. Menangis diam-diam dan tertidur.

**********

Pagi ini seperti hari-hari sebelumnya. Song Yi dan Jong Woon sarapan pagi tanpa ada percakapan, tanpa ada senyuman, tanpa ada kehangatan di keduanya.

“Aku sudah mengurusnya. Cepat atau lambat surat perceraian kita akan tiba di tanganmu.” Ucap Jong Woon masih dengan nada dingin yang selalu ia gunakan selama ini.

Song Yi memandang Jong Woon sekilas. Ada yang berbeda pagi ini dengan Jong Woon. Pria itu terlihat pucat tidak seperti biasa.

‘Mungkinkah dia sakit?’ batin Song Yi dalam hati. Song Yi ingin bertanya langsung kepada Jong Woon tentang keadaannya, tapi kemudian ia urungkan. Gadis itu berfikir ia tidak ingin sok peduli dengan keadaan Jong Woon. Selama ini mereka tidak mengurusi satu sama lain. Lagi pula jika Jong Woon memang sakit hari ini, harusnya pria itu tahu keadaannya? Dia bukan anak kecil yang harus di khawatirkan orang lain kan? Jong Woon sudah dewasa dan mengerti keadaanya sendiri. Entah kalau pria itu gila kerja dan mengabaikan kesehatannya sendiri.

Song Yi melihat sumpit yang tengah Jong Woon pakai. Pria itu sedang menyingkirkan kubis dan udang yang ada di makanannya. Selama setahun hidup dengan Jong Woon secara tidak langsung Song Yi tahu kebiasaan pria itu. Jong Woon tidak menyukai kubis dan udang. Biarpun begitu Song Yi tetap memasukkannya karena dirinya suka dengan kedua hal itu. Jong Woon juga tidak pernah memintanya untuk tidak memasukkan udang dan kubis.

Jong Woon selesai dengan sarapan paginya. Pria itu dengan langkah panjangnya berjalan ke arah mobilnya. Mengendarai dan melesat jauh pergi ke arah perusahaannya.

************

“Uhuk uhuk.” Ara tersedak oleh jus yang sedang diminumnya mendengar apa yang barusan Song Yi katakan padanya.

“Kalian akan bercerai?” Tanya Ara memastikan perkataan Song Yi barusan. 2 anggukan kecil dari kepala Han Song Yi menjawab rasa penasaran Ara. 

“Bukankah kalian baik-baik saja selama ini?” 

“Kecilkan volume suaramu  Lee Ara. Kau tahu kita dimana?” Hardik Song Yi mendengar suara melengking Ara mendominasi di sekitarnya. Ara tersenyum ke arah Song Yi mencairkan suasana barusan. Pandangannya mengarah ke arah sekitar ruangan cafe dimana mereka duduk sekarang. Beberapa orang langsung memandang mereka setelah mendengar suara Ara barusan.

“Maafkan aku.” Ucap Ara sambil menatap Song Yi, lalu melanjutkan lagi menyeruput Jus yang ada di depannya.

“Ya kami baik-baik saja, Ara. Kami saling diam selama ini. Itu adalah keadaan paling baik diantara kami.”

“Sebenarnya kalau benar-benar diperhatikan kalian adalah pasangan yang serasi, Han.”

“Serasi? Yang benar saja? Sifat dingin bertemu dengan sifat dingin? Tidak ada yang serasi di sana Lee Ara.”

“Aku hanya ingin memberitahumu saja. Tidak bisakah kau bertahan satu atau 2 tahun lagi? Mungkin saja dengan kebersamaan kalian lebih lama. Kalian akan saling menyukai, mungkin?” ucap Ara dengan nada ragu di sana. Entahlah Ara hanya menyayangkan saja keadaan rumah tangga sahabatnya. Ara tahu Jong Woon dan Song Yi sama-sama memiliki sifat dingin. Bukankah memiliki sifat yang sama mereka bisa saling toleransi atau mengerti keadaan satu sama lain, mungkin? Atau seiringnya waktu berjalan mereka bisa jatuh cinta satu sama lain?

“Kau tahu, Ara. Bagaimana jika kutub magnet positif bertemu dengan kutub magnet positif apa yang terjadi?”

“Mereka akan saling tolak menolak.” Jawab Ara spontan menjawab kuis dadakan yang dibuat oleh Song Yi dalam beberapa detik mereka bersama.

“Sama seperti sebuah magnet itu, Lee Ara. Dingin bertemu dengan sifat dingin. Akan terjadi penolakan diantara keduanya. Butuh kutub magnet positif dan negative jika ingin saling tarik menarik. Begitupun yang terjadi padaku dan juga Jong Woon. Kuharap kau mengerti keadaan ini, Lee Ara.” Mendapat jawaban dari Song Yi terlihat ada sedikit rasa kecewa di mata Ara.

***********

“Kau sedikit pucat sajangnim.” Ryeowook sang sekretaris memberi tahu keadaan Jong Woon. Sedangkan Jong Woon, pria itu tengah bersibuk ria dengan beberapa proposal yang harus ia tangani. Matanya dari tadi tidak beralih sama sekali dari kertas yang ia bawa dan komputer yang ada di depannya.

“Sajangnim!” Ryeowook yang merasa diabaikan oleh Jong Woon sedikit meninggikan volume suaranya.

Jong Woon menatap sekilas ke arah Ryeowook, kemudian beralih lagi ke arah komputernya.Ryeowook menggelengkan kepalanya mendapat reaksi Jong Woon yang begitu dingin ke arahnya, sementara dirinya begitu mengkhawatirkan Jong Woon.

“Jangan-jangan kau tidak di rawat oleh istrimu.” Ucap Ryeowook sambil menutup pintu ruangan Jong Woon.

Ryeowook tahu ada perubahan pada diri Jong Woon sejak 2 tahun yang lalu. Sejak Seol pergi untuk selama-lamanya. Tidak ada lagi senyum khas Jong Woon sejak gadis lembut itu pergi untuk selamanya.

Ryeowook juga tahu bahwa pernikahan Jong Woon tidak berjalan sebagaimana mestinya. Mungkin karena sang istri yang begitu dingin. Tapi Ryeowook tahu bahwa istri presedirnya itu merupakan gadis yang cantik. Mungkin Jong Woon telah buta oleh rasa cintanya pada Hong Seol hingga tidak bisa melihat bagaimana kecantikan Han Song Yi.

“Seandainya aku di posisi Presedir pasti aku sangat bahagia melihat istri cantiku seperti Nona Han Song Yi setiap hari. Dasar presedir aneh! keras kepala.” Gumam Ryeowook sendiri di ruangannya.

**********

Malam ini Song Yi sudah menyingkapkan selimutnya. Dalam beberapa menit ia akan tertidur nyenyak dan masuk ke dalam alam mimpi, jika saja saluran pendengarannya tidak mendengar sebuah suara yang berasal dari luar sana dan menurut Song Yi itu mengganggunya. Mau tak mau Song Yi bangkit dari tempat tidurnya. Melihat keadaan yang ada di luar kamarnya. Mungkin saja pencuri atau?

Song Yi menyalakan saklar lampu yang berada di dekat dirinya. Melihat dengan jelas ruangan itu dengan penerangan yang cukup. Dari tempatnya berdiri Song Yi dapat melihat tubuh Jong Woon yang tersungkur di lantai ruang tengah rumah mereka itu. Dengan langkah cepat Song Yi mendekat ke arah Jong Woon.

“Jong Woon, hei.” Song Yi mencoba membangunkan Jong Woon, dan sepertinya usahanya tidak begitu sia-sia. Pria itu membuka kelopak matanya, walaupun dengan kondisi lemahnya. Song Yi segera merangkul tubuh Jong Woon, memapah pria itu untuk berjalan ke dalam kamarnya.

Sesampainya di kamar Song Yi segera membaringkan Jong Woon, melepaskan sepatu, dasi dan jas yang masih melekat di tubuh pria itu secara perlahan. Song Yi tidak peduli jika nanti Jong Woon mengatainya lancang atau sembarangan telah melepas pakainnya.

“Kau demam?” tanya Song Yi yang jelas-jelas tahu bahwa Jong Woon memang dalam keadaan demam. Dengan cekatan Song Yi berjalan ke arah dapur mempersiapkan handuk dan juga air yang ia gunakan untuk mengompres kening Jong Woon. Setidaknya hanya itu yang dapat ia lakukan dengan keadaan Jong Woon malam ini.

Sambil mengompres kening Jong Woon. Song Yi melihat ekspresi kesakitan itu dari wajah Jong Woon. Keringat dingin keluar dari pelipis dan sekitar wajah Jong Woon. Tak lupa nafas Jong Woon yang semakin cepat, terdengar tidak beraturan.

Walaupun Song Yi merasa tidak begitu dekat dengan Jong Woon, tapi melihat pria itu dalam keadaan seperti ini membuat Han Song Yi khawatir. Song Yi ingin melangkah ke arah kamarnya. Mengambil i-phone yang masih tertinggal tadi di dalam kamar. Ia sudah bangkit dari posisinya berniat melangkah ke arah pintu keluar kamar Jong Woon.

Tapi tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menahan pergelangan tangan kanannya. Membuatnya berhenti, membuatnya membeku untuk sepersekian detik. 

“Moe.” Igau Jong Woon menyebut nama Hong Seol.

“Aku merindukanmu.” Ucap Jong Woon lagi-lagi masih menahan tangan Han Song Yi.

Song Yi menoleh ke arah Jong Woon. Dapat dilihatnya Jong Woon masih memejamkan matanya dengan wajah terlihat kesakitan. Song Yi yakin pria itu dalam keadaan setengah sadar sekarang ini.

Perlahan tapi pasti Song Yi mendekat lagi ke arah tubuh Jong Woon. Duduk di samping pria itu berbaring, lalu perlahan melepaskan genggaman tangan Jong Woon yang ada di tangannya. Belum sempat ia berdiri dan ingin mengambil lagi i-phone yang ada di kamarnya, sekedar untuk menghubungi seorang dokter. Hal tak terduga terjadi lagi. Salah satu buku Jong Woon yang terletak di atas nakas terjatuh. Song Yi mendekat ke arah buku itu, mengambilnya secara perlahan.

Melihat sebuah foto yang terselip diantara halaman buku itu keluar. Foto Jong Woon dengan seorang gadis. Di foto itu terlihat mereka tengah berselca berdua. Dilihat dari foto itu senyum keduanya benar-benar terlihat sama, mata mereka juga sama walaupun lebih mendominasi mata si gadis yang terlihat lebih besar dari pada mata Jong Woon.

Song Yi berfikir sesaat seperti inikah jika Jong Woon jika tersenyum? Secara tidak sadar Song Yi membalikkan foto itu, terdapat sebuah nama di sana ‘Hong Seol- Moe Higurashi’ 

“Sepertinya gadis ini yang kau panggil dalam tidurmu.” Song Yi bergumam sendiri.

Song Yi ingin menyelipkan kembali foto itu pada halaman yang terbuka barusan, ia urungkan. Karena matanya menemukan tulisan tangan Jong Woon. Entah kenapa Song Yi malah begitu penasaran dengan isi dari tulisan Jong Woon yang ada di sana.

Song Yi menoleh ke arah Jong Woon. Mengawasi apakah pria itu terbangun atau masih sama seperti keadaan sebelumnya. Perlahan Song Yi membaca halaman itu, tidak sampai 10 menit Song Yi menutup dengan cepat buku Jong Woon. Ada rasa bersalah yang bersarang dalam diri Song Yi membaca buku diary Jong Woon.

Walaupun dengan secara sekilas ia sekarang tahu siapa yang dimaksud ‘Moe’. Di nakas kamar Jong Woon Song Yi juga melihat foto berbingkai kecil dengan foto yang sama seperti yang ia lihat barusan. Jong Woon dan juga Moe.

“Aku kira kau adalah batu yang tidak pernah jatuh cinta pada siapapun. Ternyata?”

**********

Setelah kemarin malam gadis dingin itu panik dengan keadaan Jong Woon. Pagi ini Song Yi sudah bergelut dengan bubur yang tengah di masaknya. Kemarin malam dengan sigap Song Yi  langsung menelfon Dokter pribadinya. Bahkan Jong Woon tidak sadar sama sekali saat diperiksa. Kata Dokter Jong Woon kelelahan dan butuh istirahat, apalagi dalam beberapa hari ini kata pria itu kurang tidur.

Pagi ini i-phone Jong Woon berbunyi keras. Sekretaris Kim menelfonnya, dengan lancang Song Yi mengangkat telfon itu. Saat di telefon sekretaris Kim bilang bahwa ada meeting pagi ini, karena Song Yi fikir Jong Woon butuh istirahat, maka gadis itu bilang ‘Meeting di tunda sampai Jong Woon sehat kembali’.

Bubur yang Song Yi buat untuk Jong Woon, sudah siap sejak beberapa menit yang lalu dengan perlahan Song Yi membawa bubur itu kedalam kamar Jong Woon. Meletakkannya perlahan di atas nakas sana. Lagi-lagi seperti ada yang menarik Song Yi untuk membaca buku dairy Jong Woon.

Padahal tadi malam Song Yi berhasil menekan rasa penasarannya. Pagi ini setelah melihat buku itu. Song Yi membuka kembali perlahan buku itu. Membaca salah satu halaman yang ada tulisan Jong Woon itu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jong Woon yang melihat Song Yi sedang membuka buku diarynya dengan segera Song Yi menutupnya kembali. 

‘Lancang sekali’ fikir Jong Woon.

“Maaf, aku tidak sengaja membacanya.” Song Yi meletakkan buku itu pada nakas Jong Woon.

“Barusan sekretaris Kim mu menelfon. Aku memberi tahunya untuk membatalkan meetingmu hari ini.”

Jong Woon terkejut mendengar perkataan Han Song Yi. Dengan segera pria itu bangkit dari tempat tidurnya. Menghampiri dan mensejajari Song Yi berdiri. Tatapan tajamnya terarah pada mata dingin Han Song Yi, sepertinya ada rasa tidak terima dari wajah pria itu.

“Kau membatalkan meeting ku hari ini, lancang sekali kau?”

“Karena kau sedang sakit. Aku fikir lebih baik meeting itu di tunda!”

“Kau tidak tahu betapa berharga meeting kerja samaku hari ini, Nona Han Song Yi?” Jong Woon menekankan perkatannya saat memanggil nama Han Song Yi.

 “Aku lebih mementingkan kesehatanmu, dari pada meeting mu hari ini”

‘Plak’

Sebuah tamparan keras dari tangan Jong Woon mendarat di pipi putih Han Song Yi. Terlihat urat-urat kemarahan dari wajah Song Yi. Jong Woon membeku setelah menampar Song Yi. Apalagi pandangannya kini bertemu dangan mata dingin Song Yi. Ada sedikit rasa bersalah di hati Jong Woon setelah menampar Song Yi barusan, tapi ada rasa yang membuatnya tidak bisa meminta maaf kepada Song Yi sekarang.

Jong Woon menampar Song Yi bukan karena gadis itu dengan lancang membatalkan meetingnya, lebih tepatnya karena gadis itu yang membuka bukunya dengan lancang . Entahlah jika menyangkut Moe Jong Woon tidak sabaran. Menurutnya buku itu adalah rahasia, jadi tidak boleh seorangpun membaca buku itu termasuk Han Song Yi.

“Brengsek.” Umpat Song Yi berlalu dari hadapan Jong Woon. Matanya menyala tajam tidak seperti biasanya, tatapan benci perpaduan dengan wajah dinginnya. 

Song Yi melangkah ke arah kamarnya. Membuka kasar pintu kamarnya. Dan menutupnya dengan kasar pula, menimbulkan suara gebrakan yang terdengar di ruangan yang dekat dengan kamarnya. Seumur-umur Song Yi baru merasakan sebuah tamparan dari Jong Woon barusan. Selama ini tidak pernah sekalipun Song Yi mendapat tamparan dari orang tuanya maupun kakaknya.

“Kesalahan besar apa yang membuatku mendapatkan sebuah tamparan? Pria brengsek!” umpat Song Yi lagi-lagi. Song Yi berjalan pelan ke arah tempat tidurnya. Rasanya tiba-tiba kepalanya terasa pening. Entah efek dari tamparan Jong Woon barusan, atau memang tubuhnya menandakan ia sakit sekarang.

Song Yi duduk dipinggiran tempat tidurnya kepalanya semakin berputar. Pandangannya kabur. Seolah kamar yang ia tempati sekarang bergerak.

“Astaga! Aku kenapa?” ucap Song Yi memegangi sisi kepalanya. Saat pandangan Song Yi semakin kabur. Samar-samar ia melihat cahaya putih di depannya. Entah cahaya apa itu, hingga ia merasa gelap, dan jatuh pingsan tepat di atas tempat tidurnya.

**********

Back In Time

Januari 2013

“Hei cepat bangun, gadis dingin.” Yi Kyung menggerak-gerakkan tubuh Song Yi yang sedang terlelap tidur. 

“Hei bangun, Nona Han.” Samar-samar Song Yi mendengar suara Yi Kyung yang sedang membangunkannya. Ditengah kesadarannya Song Yi sedang berfikir, ia sedang di alam mimpi atau ini memang nyata? Seingatnya semalam ia bertengkar hebat dengan Kim Jong Woon. Dan sesuatu terjadi padanya. Song Yi perlahan membuka kelopak matanya, duduk perlahan lalu mengedarkan pandangannya pada kamar yang ia tempati. Bukankah ini kamarnya di rumah? Apa yang terjadi semalam? Apa dia semalam mabuk lalu pulang ke rumahnya? Atau tadi malam diam-diam ada yang menjemputnya? Atau? Ditengah beribu pertanyaan yang sedang muncul di kepala Han Song Yi, Yi Kyung melambaikan tangannya di depan wajah Song Yi.

“Hei?”

“Oh?”

“Oh? Reaksi apa itu. Kau bermimpi buruk adik ku sayang? Kenapa kau seperti orang yang kebingungan?” tanya Yi Kyung mencoba membaca ekspresi wajah Song Yi yang seperti tidak biasanya.

“Tidak”

“Baiklah kalau begitu cepat ganti bajumu atau apapun!” Yi Kyung menarik tangan Han Song Yi.

“Ara pingsan. Kita harus kesana, Song Yi.” Wajah Yi Kyung mulai menampakkan panik karena mengingat kabar dari Lee Ara sahabat satu-satunya Han Song Yi

“Pingsan lagi?” Tanya Han Song Yi

“Ya, dia pingsan cepat ganti bajumu!” Song Yi mencoba mencerna apa yang sedang terjadi padanya sekarang ini. Gadis dingin itu merasa seperti pernah merasakan pengalaman seperti ini. Mungkinkah dejavu? Atau hanya perasaannya saja?

“Astaga, Han Song Yi. Kau sedang berfikir apa? Ara sahabatmu pingsan kenapa kau masih duduk di sini.” Lagi-lagi Yi Kyung menyadarkan lamunan Song Yi. Sambil melihat Song Yi yang segera bangun dari tempat tidurnya Yi Kyung menggelengkan kepalanya. Berfikir ada apa dengan adiknya hari ini?

**********

Song Yi masih diam sepanjang jalan dimana kakaknya akan membawa dirinya untuk menemui Ara yang sedang pingsan  itu, lagi-lagi perasaaan seperti pernah mengalami hal ini membuatnya berfikir keras. Song Yi dan kakaknya keluar dari dalam mobil. Keduanya mengedarkan padangan ke arah sekitar. Hingga Yi Kyung dan Song Yi juga menemukan 2 orang yang juga sedang ada di parkiran itu, berjarak 2 meter dari mereka.

Song Yi terbelalak melihat pemandangan yang ada di depannya. Bukan karena di sana juga ada Jong Woon, Song Yi sudah terbiasa melihat Jong Woon. Tapi karena tepat di samping Jong Woon. Ada wajah gadis yang sempat Song Yi lihat di salah satu foto yang Jong Woon miliki. Kalau tidak salah namanya Seol. Ya itu memang Seol. Seol masih hidup? Apa maksud semua ini? Apakah ini adalah mimpi? Tidak! Song Yi menepis apa yang sedang ia fikirkan. Ini jelas-jelas nyata terjadi kepadanya. 

Jong Woon yang tadi melihat ke arah Yi Kyung beralih ke arah Song Yi. Dalam keadaan Song Yi yang membeku membuat pandangan gadis itu terlihat semakin dingin. Dalam waktu seperkian detik Jong Woon dan Song Yi saling menatap satu sama lain. Hingga kesadaran Song Yi pulih saat ia melihat alis Jong Woon yang terangkat, menandakan pria itu tidak mengerti dengan ekspresi Han Song Yi. Dengan cepat Song Yi mengalihkan pandangannya ke arah lain.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s